JURANEWS.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat kerja sama regional dalam penanggulangan bencana melalui penyelenggaraan 7th AADMER Partnership Conference. Acara ini digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku Ketua ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM), didukung Sekretariat ASEAN dan AHA Centre, pada Kamis, 2 April 2026, di Jakarta.
AADMER atau ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response merupakan kerangka kerja regional yang mengatur kerjasama, koordinasi, bantuan teknis, dan mobilisasi sumber daya dalam manajemen bencana. Konferensi ini menjadi wadah sosialisasi AADMER Work Programme 2026–2030 kepada seluruh mitra dan pemangku kepentingan, sekaligus menjajaki potensi kolaborasi serta mengumpulkan komitmen dukungan.
Acara yang dihadiri lebih dari 150 peserta dari berbagai negara, organisasi internasional, lembaga PBB, sektor swasta, hingga akademisi ini menekankan pentingnya sinergi lintas sektor menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.
“Konferensi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kemitraan dan memastikan bahwa implementasi AADMER dapat berjalan lebih efektif, responsif, dan adaptif terhadap tantangan ke depan,” ujar Sekretaris Utama BNPB, Rustian, dalam sambutannya.
Dalam forum tersebut, Indonesia juga membagikan pengalaman penanganan bencana, mulai dari respons darurat hingga upaya rehabilitasi, rekonstruksi, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas.
Dukungan Komitmen Capai USD 25 Juta
Sebanyak 37 negara dan organisasi mitra menyatakan komitmennya untuk mendukung implementasi AADMER Work Programme 2026–2030 dengan total nilai dukungan mencapai sekitar USD 25 juta. Dana ini akan dialokasikan untuk lima program prioritas, meliputi:
1. Penilaian Risiko, Pemantauan, dan Peringatan Dini
2. Pencegahan dan Mitigasi
3. Kesiapsiagaan dan Respons
4. Pemulihan Tangguh
5. Kepemimpinan Global
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, menekankan bahwa ketangguhan bencana harus bersifat antisipatif, adaptif, dan berkelanjutan, bukan sekadar reaktif. Ia mendorong penerapan pendekatan whole-of-ASEAN dan whole-of-society dengan melibatkan seluruh elemen untuk menghadapi risiko yang saling terkait.
Melalui konferensi ini, seluruh pihak sepakat memperkuat solidaritas demi mewujudkan ASEAN sebagai kawasan yang tangguh terhadap bencana, sejalan dengan visi ASEAN Community Vision 2045: “ASEAN yang Tangguh, Inovatif, Dinamis, dan Berpusat pada Masyarakat.”
(*)












Komentar