JURANEWS.ID. JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) kembali menggelar Sarasehan 100 Ekonom 2025 bertajuk “Resiliensi Ekonomi Domestik sebagai Fondasi Menghadapi Gejolak Dunia” di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (28/10).
Kegiatan tahunan ini menjadi ajang bagi para ekonom untuk menyampaikan gagasan dan rekomendasi guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Tahun ini, acara tersebut disiarkan langsung melalui YouTube INDEF, CNBC Indonesia TV, dan CNBCIndonesia.com.
Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti membuka acara dengan menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar di tengah tantangan global.
Ia menyoroti tiga hal penting untuk memperkuat resiliensi ekonomi: kemampuan beradaptasi, kemandirian nasional, serta inovasi dan pengembangan sumber daya manusia.
“Buku Pemikiran 100 Ekonom adalah kompas bagi pembuat kebijakan dan praktisi ekonomi untuk membangun bangsa,” ujar Esther, seraya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan pelaku ekonomi.
Keynote speech disampaikan Ferry Irawan, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, mewakili Menko Airlangga Hartarto.
Ia menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih menunjukkan arah positif meski dihadapkan pada berbagai tekanan global.
Ferry memaparkan sembilan strategi pemerintah untuk memperkuat ekonomi, di antaranya diversifikasi ekspor, transformasi digital, hilirisasi industri, penguatan pangan dan energi, deregulasi, penguatan SDM, serta peningkatan akses pembiayaan dan penciptaan lapangan kerja.
Pada sesi pertama, Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi/Hilirisasi BKPM, menjelaskan bahwa hilirisasi mineral dan pertambangan telah berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Ia menekankan pentingnya dukungan regulasi, fiskal, dan iklim investasi yang kondusif agar hilirisasi di sektor lain dapat berkembang.
“Tantangan utama hilirisasi ada pada daya saing, keberlanjutan, dan dampak lingkungan,” ujarnya.
Dalam sesi ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga memaparkan upaya pemerintah mendorong energi baru terbarukan seperti etanol dan panel surya guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Di klaster pangan, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa deregulasi sektor pangan telah membawa hasil positif. Produksi beras meningkat, nilai tukar petani naik, dan harga jagung serta gabah di tingkat petani membaik.
Ia juga menyoroti potensi pengembangan etanol dari bahan baku lokal untuk mendorong nilai tambah pertanian.
Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menuturkan bahwa produksi perikanan nasional saat ini telah surplus dan tengah difokuskan pada pengembangan ekonomi biru melalui program Kampung Nelayan Merah Putih di berbagai daerah.
Klaster ketiga membahas Sumber Daya Manusia dan Kesehatan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pemerintah memperluas akses pendidikan melalui pendekatan learning for all dan penguatan pendidikan vokasi berbasis keunggulan lokal.
“Pendidikan harus adaptif terhadap kebutuhan daerah dan dunia kerja,” katanya.
Di sisi lain, Bayu Teja Muliawan, Staf Ahli Kementerian Kesehatan, menegaskan bahwa pemerintah fokus pada program prioritas seperti pencegahan stunting, pemeriksaan kesehatan gratis, dan peningkatan layanan rumah sakit terutama di wilayah 3T.
Pada klaster fiskal dan moneter, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kebijakan fiskal sebelumnya kurang tepat dalam merespons perlambatan ekonomi.
Ia kini menerapkan kebijakan pro-cyclical untuk menggerakkan ekonomi tanpa memperbesar defisit.
“Kami tidak menambah utang besar-besaran, tapi mengoptimalkan uang yang ada agar ekonomi bergerak,” jelasnya.
Purbaya memastikan defisit tetap di bawah 3 persen dan rasio utang terhadap PDB aman di bawah 60 persen.
Melalui Sarasehan 100 Ekonom 2025, para ekonom dan pemangku kebijakan sepakat bahwa sinergi lintas sektor, penguatan hilirisasi, swasembada pangan, peningkatan kualitas SDM, serta kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif merupakan kunci ketahanan ekonomi nasional.
INDEF berharap forum ini menjadi sarana strategis untuk melahirkan rekomendasi kebijakan yang mampu menjaga resiliensi ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.
(*)








Komentar