JURANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tengah menghadapi tantangan serius: kekurangan lurah! Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) mencatat ada 55 jabatan lurah kosong, namun tak banyak Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berminat mengisi posisi tersebut.
Banyak Permintaan, Pengisian Jabatan Lurah Jadi Sulit
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengungkapkan bahwa proses pengisian jabatan lurah sempat menemui kendala. Pendekatan komunikatif dan pertimbangan aspek kemanusiaan justru memunculkan berbagai permintaan personal dari calon pejabat.
“Awalnya kita upayakan untuk mengkomunikasikan mereka. Tapi karena terlalu banyak permintaan… ‘Bu, yang ini tidak berkenan di sini, karena rumahnya jauh.’ ‘Bu, yang ini minta karena istrinya di sana dia harus di sini’,” papar Agustina.
Fenomena Enggan Jadi Lurah Cukup Terasa
Agustina mengakui bahwa fenomena enggannya ASN menjadi lurah cukup terasa. Kondisi ini membuat proses pengisian jabatan menjadi tidak efektif, sementara kekosongan lurah terus bertambah.
“Ternyata ini menimbulkan kesulitan yang cukup dan tidak banyak orang mau dijadikan lurah ketika kosong. Ya, enggak tahu saya ini kenapa. Tapi ya mungkin ada alasannya,” terangnya.
Pemkot Ambil Tindakan Tegas, Semua Jabatan Lurah Harus Diisi!
Demi menjaga kualitas pelayanan publik, Pemkot Semarang akhirnya mengambil langkah tegas dengan menggunakan kewenangan pemerintah daerah untuk mengisi seluruh jabatan lurah.
“Sekarang kita menggunakan kewenangan sebagai pemerintah kota untuk dapat memaksimalkan layanan bahwa (jabatan) lurah itu memang harus diisi,” tegas Agustina.
Target Rampung Sebelum Tanggal 20 Februari
Agustina menargetkan seluruh proses pengisian jabatan, baik lurah maupun jabatan lain yang terdampak rotasi, dapat rampung dalam waktu dekat, yaitu sebelum tanggal 20 Februari.
“Sudah disiapkan juga siapa-siapa yang akan duduk. Mudah-mudahan sebelum tanggal 20 (Februari) lah semuanya akan rampung. Ngebut ini,” imbuhnya.
(*)









Komentar