JURANEWS.ID, SEMARANG – Tradisi tahunan Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, digelar meriah pada Minggu (15/12/2026) sore. Puluhan anak hingga dewasa antusias mengikuti acara yang menjadi simbol penyambutan bulan suci Ramadan.
Sejak sekitar pukul 15.00 WIB, peserta sudah mulai bersiap, sebagian di antaranya menampilkan pertunjukan gamelan dan Tari Kreasi Bustaman.
Panitia juga menyiapkan cat air warna-warni buatan untuk dicoretkan ke wajah warga serta ratusan bungkus air warna-warni yang siap digunakan untuk saling “menggebyur”. Tak sedikit warga yang datang dengan persiapan khusus, seperti mengenakan jas hujan atau menutup kepala dengan ember.
Gebyuran Dimulai Secara Simbolis, Kemudian Bergulir Meriah Antar Warga
Sekitar pukul 16.30 WIB, tradisi resmi dimulai dengan gebyuran simbolis menggunakan kendi oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, kepada beberapa perwakilan warga.
Setelah itu, gebyuran antar warga pun berlangsung dengan semarak – mulai dari melempar air yang dibungkus plastik hingga mengguyur langsung menggunakan ember. Coretan warna-warni di wajah peserta kemudian luruh seiring dengan hujan air yang menyelimuti mereka.
Peserta Baru dan Veteran Sama-sama Rasakan Kegembiraan
Siska (45) beserta anaknya, Ronggo (9), mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi ini. Setelah pindah dari Jogja dan kembali ke Semarang, mereka merasakan suasana yang penuh kegembiraan.
“Seru. Tadi kena dua kali, (air yang dibungkus plastik) besar dan kecil. Tahun depan ingin lagi,” ucap Ronggo didampingi ibunya.
Sementara itu, Salim (27) yang bukan warga Bustaman telah tiga kali mengikuti Gebyuran Bustaman secara berturut-turut. Ia mengaku awalnya terkaget melihat wajah peserta yang dicoret warna-warni, namun setelah mengetahui filosofinya menjadi semakin antusias.
“Ternyata coretan itu diibaratkan seperti dosa dan gebyuran memiliki makna membersihkan dosa. Saya harap selalu ada pembeda tiap tahun agar terus semarak,” ungkapnya.
Filosofi Mendalam: Penyucian Diri Sebelum Menyambut Ramadan
Plt Lurah Purwodinatan, Bagas Yuwono Ario Negoro, menjelaskan bahwa tradisi Gebyuran Bustaman berakar dari kisah Kiai Bustaman, leluhur kampung setempat.
Dahulu, sang kiai memandikan cucu-cucunya menjelang Ramadan sebagai simbol penyucian diri, yang kemudian berkembang menjadi kegiatan komunal.
“Ini dulu dari Kiai Bustaman memandikan cucu-cucunya sebelum Ramadan. Jadi, kebudayaan di Kampung Bustaman ini setiap mau puasa kita mengadakan Gebyuran Bustaman,” terang Bagas.
Menurutnya, air yang terciprat bukanlah air biasa, melainkan simbol pembersihan, sementara coretan warna-warni melambangkan noda atau dosa yang hilang ketika diguyur air.
Tahun Ini Lebih Meriah dengan Pesta UMKM dan Susur Kampung
Sebagai acara ke-14 yang digelar rutin tiap tahun menjelang Ramadan, kegiatan ini mengalami pengembangan. Tahun ini, rangkaian acara diperkaya dengan pesta UMKM serta susur kampung yang menampilkan titik-titik usaha warga dan sejarah silsilah Bustaman.
Kegiatan tersebut dipandu oleh Denok-Kenang, duta wisata Kota Semarang, yang memperkenalkan kekayaan budaya kampung kepada pengunjung. Selain itu, forum budaya dan pentas kesenian juga menjadi bagian dari rangkaian acara yang semakin meriah.
(*)









Komentar