JURANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menanggapi video viral kasus debt collector (DC) yang menyita secara paksa mobil Avanza milik warga Jepara di Tol Kaligawe Semarang.
Menurutnya, tindakan tersebut merupakan aksi premanisme dan tidak ada ruang bagi perilaku semacam itu di wilayah Jawa Tengah.
“Premanisme dan tindakan-tindakan yang meresahkan harus kita hilangkan. Wilayah kita harus aman dan nyaman,” ujar Luthfi saat dimintai keterangan pada Kamis (26/2/2026).
Kasus yang viral di media sosial itu terjadi pada Sabtu (7/2/2026), di mana sejumlah debt collector menghadang mobil yang dikemudikan warga asal Jepara di pintu Tol Kaligawe.
Enam pria berbadan sangar menyita mobil atas dasar pelat nomor dan tudingan tunggak bayar, namun pemilik mobil merasa tidak menunggak dan mempertahankan kendaraannya. Adegan saling rebut kunci terjadi hingga satu korban mengalami luka lecet.
Selepas video viral, Tim Jatanras Polda Jawa Tengah berhasil menangkap enam orang pelaku di Karangtempel, Semarang Timur, pada 24 Februari 2026. Hasil penyelidikan menunjukkan mobil tersebut tidak menunggak angsuran dan terjadi salah identifikasi target.
Luthfi meminta aparat bertindak tegas untuk menjamin keamanan, kepastian hukum, dan iklim kondusif di Jawa Tengah. Menurutnya, penegakan hukum yang tegas menjadi kunci untuk memberikan efek jera sekaligus menjaga rasa aman masyarakat.
“Penegakan hukum itu perlu untuk memberikan efek jera, agar kenyamanan dan keamanan di wilayah kita bisa terjamin,” ujarnya.
Gubernur yang juga mantan Kapolda Jateng itu mengingatkan, praktik intimidasi atau tindakan melawan hukum dalam proses penagihan utang tidak boleh dibiarkan berkembang. Ia mendorong aparat penegak hukum untuk menindak tegas segala bentuk premanisme. “Penindakan perlu agar wilayah kita harus aman dan nyaman,” jelasnya.
Selain itu, Luthfi meminta adanya komunikasi yang baik antara masyarakat dan lembaga pembiayaan atau leasing. Ia mengimbau warga untuk memenuhi kewajiban finansial serta membuka ruang dialog jika menghadapi kesulitan pembayaran.
“Kalau ada kesulitan, sebaiknya komunikasi dua arah. Bila perlu lapor kepada pihak berwajib. Jangan sampai terjadi friksi karena kurang komunikasi,” tuturnya.
Luthfi juga mengingatkan potensi peningkatan kriminalitas selama Ramadan hingga menjelang Lebaran. Ia meminta aparat, khususnya Polda Jawa Tengah, untuk memperkuat pengawasan dan menjaga marwah sebagai institusi penegak hukum.
“Kebutuhan masyarakat meningkat saat Ramadan ini sehingga potensi kriminalitas juga bisa naik. Aparat harus hadir,” pesannya.
Menurutnya, ketika keamanan terjaga akan berdampak pada stabilitas ekonomi daerah. Kondisi yang kondusif juga akan menarik minat investasi ke Jawa Tengah.
“Kalau aspek penegakan hukum terpenuhi dan wilayahnya aman dari premanisme, tentu akan menarik bagi investasi,” tambahnya.
(*)








Komentar