JURANEWS.ID, JAKARTA – Daya saing ekspor minyak kelapa Indonesia dinilai tetap kuat di tengah tekanan pasokan global dan fluktuasi produksi yang terjadi sepanjang 2025. Indonesia bahkan masih mempertahankan posisinya sebagai eksportir minyak kelapa terbesar kedua di dunia dengan pangsa pasar global mencapai sekitar 22 persen.
Temuan tersebut disampaikan dalam kajian sektoral Indonesia Eximbank (IEB) Institute yang menyoroti ketahanan industri minyak kelapa nasional di tengah berbagai tantangan produksi dan perubahan pasar internasional.
Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengatakan kinerja ekspor minyak kelapa Indonesia menunjukkan resiliensi yang baik meskipun volume pengiriman mengalami penurunan.
“Peningkatan nilai ekspor terutama dipicu oleh lonjakan harga akibat terbatasnya pasokan bahan baku dan pasokan domestik yang turut dipengaruhi fenomena El Niño. Kondisi tersebut membuat sebagian pabrik mengurangi kapasitas produksi sehingga tekanan harga minyak kelapa di pasar ekspor meningkat,” ujar Rini Satriani.
Indonesia Tetap Jadi Eksportir Minyak Kelapa Terbesar Kedua Dunia
Berdasarkan data IEB Institute, Indonesia menempati posisi kedua eksportir minyak kelapa dunia pada 2025 dengan pangsa pasar sekitar 22 persen. Posisi pertama masih ditempati Filipina dengan pangsa pasar mencapai 49 persen, sementara Belanda berada di urutan ketiga dengan sekitar 10 persen.
Meski menghadapi persaingan ketat, produk minyak kelapa Indonesia dinilai memiliki daya saing yang kuat, khususnya untuk kategori minyak kelapa dimurnikan.
Salah satu keunggulan Indonesia adalah tingginya diversifikasi pasar ekspor. Saat ini, minyak kelapa Indonesia telah dipasarkan ke lebih dari 90 negara tujuan sehingga tidak bergantung pada satu atau dua pasar utama saja.
Pasar ekspor terbesar Indonesia meliputi Belanda, Tiongkok, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat. Selain itu, peluang ekspansi juga masih terbuka di kawasan Eropa dan pasar nontradisional lainnya.
Tren Hidup Sehat Dorong Permintaan Global Minyak Kelapa
Permintaan minyak kelapa dunia terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya tren gaya hidup sehat dan penggunaan bahan alami dalam industri pangan, kosmetik, hingga kesehatan.
Menurut Rini, kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa terbesar dunia untuk memperluas pangsa pasar ekspor.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk melakukan penetrasi ekspor ke pasar yang memberi perhatian tinggi terhadap produk berbasis keberlanjutan, termasuk kawasan Uni Eropa,” katanya.
Nilai Ekspor Diproyeksi Tumbuh 9 Persen pada 2026
IEB Institute memproyeksikan nilai ekspor minyak kelapa Indonesia akan tumbuh moderat sekitar 9 persen sepanjang 2026.
Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh mulai pulihnya produksi negara pesaing seperti Filipina serta penyesuaian harga kelapa yang diperkirakan kembali menuju kondisi normal.
Meski prospek ekspor masih positif, Indonesia perlu menyiapkan strategi jangka panjang guna menjaga daya saing dan memperkuat posisi di pasar global.
Pasokan Bahan Baku Jadi Tantangan Utama Industri Kelapa
Di balik kinerja ekspor yang positif, sektor minyak kelapa nasional masih menghadapi sejumlah tantangan serius, terutama terkait ketersediaan bahan baku.
Produksi kelapa nasional saat ini menghadapi tekanan akibat penuaan pohon kelapa, rendahnya produktivitas pekebun rakyat, dampak perubahan iklim, serta meningkatnya ekspor kelapa bulat ke luar negeri.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah telah menjalankan program peremajaan kebun kelapa.
Pada 2024, realisasi program replanting tercatat mencapai sekitar 44,9 ribu hektare. Pemerintah juga menargetkan perluasan peremajaan hingga ratusan ribu hektare pada periode 2026–2027.
“Peremajaan kebun kelapa dan penguatan hilirisasi menjadi strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri minyak kelapa nasional,” ujar Rini.
Hilirisasi Jadi Kunci Tingkatkan Nilai Tambah Ekspor
Selain peremajaan kebun, penguatan hilirisasi industri kelapa juga menjadi fokus utama untuk meningkatkan nilai tambah produk ekspor Indonesia.
Pengembangan industri pengolahan minyak kelapa bernilai tinggi dinilai mampu memperluas pemanfaatan bahan baku domestik sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah, peremajaan kebun, serta penguatan industri hilir, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam perdagangan minyak kelapa dunia.
“Peremajaan kebun kelapa dan hilirisasi menjadi strategi penting untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku minyak kelapa di masa depan. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat peran minyak kelapa sebagai komoditas unggulan yang berkelanjutan dan mendorong kinerja ekspor nasional,” pungkas Rini Satriani.
(*)








Komentar