JAKARTA, JURANEWS.ID – Digitalisasi semakin mengubah wajah industri perbankan dan layanan pengelolaan kekayaan (wealth management) di Indonesia. Jika sebelumnya layanan wealth management identik dengan pertemuan tatap muka dan diperuntukkan bagi nasabah kelas atas, kini teknologi membuat layanan tersebut lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan, termasuk generasi muda.
Direktur OCBC, Johannes Husin, mengatakan perkembangan teknologi telah mendorong perubahan besar dalam cara masyarakat mengelola dan mengembangkan aset mereka.
Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Desember 2025, sebanyak 54 persen investor pasar modal di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya minat generasi muda terhadap investasi dan pengelolaan keuangan.
OCBC mencatat tren positif tersebut tercermin dalam pertumbuhan penggunaan layanan digital. Pada kuartal pertama 2026, total nilai transaksi melalui e-channel tumbuh 15 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Selain itu, jumlah pengguna aktif internet banking dan OCBC Mobile meningkat 8 persen YoY. Sementara itu, pengguna aktif OCBC Business Mobile untuk nasabah korporasi tumbuh lebih tinggi, yakni mencapai 20 persen YoY.
Digitalisasi juga dinilai menjadi faktor utama yang mendorong transformasi industri wealth management. Berbagai layanan yang sebelumnya memerlukan proses manual kini dapat dilakukan secara digital, mulai dari pembukaan rekening investasi, analisis profil risiko, akses informasi pasar secara real-time hingga transaksi investasi melalui aplikasi mobile banking.
Perubahan tersebut membuat layanan wealth management tidak lagi eksklusif bagi kalangan high-net-worth individuals (HNWI), tetapi semakin terbuka bagi masyarakat yang sedang membangun kekayaan dan merencanakan masa depan finansial.
Seiring meningkatnya literasi keuangan dan akses teknologi, porsi transaksi wealth management melalui kanal digital OCBC juga mengalami kenaikan signifikan, dari 30 persen pada 2024 menjadi 44 persen pada 2025.
Sementara itu, jumlah transaksi obligasi melalui platform digital meningkat 50 persen secara tahunan, dengan volume transaksi tumbuh hingga 89 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Bisnis wealth management OCBC juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Dalam periode 2022 hingga 2025, dana kelolaan atau assets under management (AUM) wealth management tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 29 persen hingga mencapai lebih dari Rp120 triliun pada akhir 2025.
Johannes mengatakan transformasi digital telah membuat layanan wealth management menjadi lebih personal, mudah diakses, dan relevan bagi kebutuhan nasabah dari berbagai segmen.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa wealth management sedang mengalami pergeseran dari layanan yang eksklusif menjadi solusi finansial yang dapat diakses oleh lebih banyak segmen nasabah. Ke depan, OCBC melihat wealth management akan menjadi semakin digital, personal, dan inklusif,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi dan data memungkinkan perusahaan menghadirkan solusi keuangan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing nasabah.
“Bagi kami, wealth management bukan hanya tentang menyediakan produk investasi, tetapi bagaimana kami dapat berjalan berdampingan dengan nasabah dalam setiap tahap perjalanan finansial mereka,” tutup Johannes.
(*)










Komentar