KLIK LINK UNTUK MELIHAT VIDEO : https://vt.tiktok.com/ZS4bg1RP4/
KENDAL, JURANEWS.ID – Dugaan pencemaran lingkungan dari aktivitas produksi tahu dikeluhkan warga di Dusun Gowok, Desa Ngabean, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Keluhan tersebut muncul lantaran bau menyengat yang diduga berasal dari saluran pembuangan limbah salah satu pabrik tahu yang lokasinya berdampingan dengan permukiman warga.
Pantauan JURANEWS.ID di lokasi pada Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 13.18 WIB, tercium bau tidak sedap yang cukup menyengat di sekitar area pabrik. Aroma tersebut tercium hingga radius sekitar 100 meter dari lokasi sumber pembuangan.
Setelah dilakukan penelusuran, sumber bau diduga berasal dari saluran pembuangan yang berada di sekitar area produksi tahu.
Saat pantauan dilakukan, terlihat air mengalir keluar dari sebuah pipa pembuangan. Aliran air tersebut jatuh ke saluran dan menimbulkan busa berwarna putih.
Busa kemudian terlihat memenuhi sebagian saluran selokan. Di dalam saluran juga tampak endapan sisa pembuangan yang bercampur dengan aliran air.
Yang menjadi perhatian, saluran tersebut menyatu dengan saluran pembuangan yang digunakan warga sekitar.
Kondisi tersebut dikeluhkan masyarakat lantaran selain menimbulkan bau, keberadaan limbah diduga turut membuat aliran air di saluran tidak berjalan lancar.
Jarak antara bangunan pabrik dengan rumah warga terbilang sangat dekat, bahkan hanya sekitar satu meter.
Kondisi ini membuat aktivitas produksi dan pembuangan limbah menjadi perhatian masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.
Sejumlah warga mengaku terganggu dengan bau yang muncul dari aktivitas pabrik tersebut.
“Iya mas, baunya gak enak, sangat mengganggu sekali. Gak kuat aku baunya,” ujar seorang warga.
Menurut warga, keluhan terkait bau tersebut bukan hanya dirasakan oleh satu orang. Warga juga menyoroti kondisi saluran air yang dinilai tidak lancar.
Masyarakat sekitar juga mengaku belum pernah mendapatkan kompensasi dari keberadaan aktivitas pabrik yang berdampingan dengan permukiman.
Warga berharap pemilik usaha lebih memperhatikan dampak aktivitas produksi terhadap lingkungan sekitar, terutama pengelolaan air limbah sebelum dialirkan ke saluran.
Pemilik Akui Pernah Ada Penampungan Limbah
JURANEWS.ID kemudian meminta konfirmasi kepada pemilik pabrik tahu, Warsini.
Saat dikonfirmasi mengenai pengelolaan limbah, Warsini menyampaikan bahwa sebelumnya pernah terdapat penampungan air limbah yang keluar dari proses produksi.
Namun, hingga saat ini belum terdapat inisiatif perbaikan terhadap sistem pengelolaan tersebut.
Sementara itu, Kepala Dusun (Kadus) setempat menyampaikan bahwa keberadaan pabrik tersebut telah memiliki perizinan.
Ketika disinggung mengenai adanya warga yang mengeluhkan bau yang diduga berasal dari aktivitas pabrik, Kepala Dusun mengaku akan mendatangi warga yang menyampaikan pengaduan.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi awal untuk mempertemukan warga dengan pemilik usaha guna mencari solusi atas persoalan yang dikeluhkan masyarakat.
Di sisi lain, dugaan pencemaran tersebut masih perlu diuji secara teknis melalui pemeriksaan dan pengambilan sampel air oleh instansi berwenang.
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengetahui karakteristik air buangan serta memastikan apakah terdapat parameter pencemar yang melebihi ketentuan.
Warga berharap persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut. Mereka meminta adanya perhatian terhadap pengelolaan limbah agar aktivitas usaha tetap berjalan tanpa mengganggu kenyamanan dan lingkungan permukiman.
(*)










Komentar