Kirab Sam Poo Tay Djien ke-621 Digelar di Semarang, Jejak Cheng Ho Kembali Dihidupkan

Kirab dari Tay Kak Sie menuju Sam Poo Kong menjadi simbol pelestarian sejarah Cheng Ho sekaligus memperkuat pesan toleransi dan keberagaman di Kota Semarang.

SEMARANG, JURANEWS.ID – Kawasan Pecinan Semarang kembali menjadi pusat perhatian pada Sabtu (15/8/2026). Dentuman tambur, musik tradisional, dan kepulan dupa mengiringi Kirab Sam Poo Tay Djien ke-621 yang dimulai dari Klenteng Besar TITD Tay Kak Sie, Gang Lombok.

Kirab tersebut digelar untuk memperingati 621 tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho di kawasan Jawa sekaligus menjadi bagian dari upaya merawat tradisi dan warisan budaya masyarakat Semarang.

Ketua Yayasan TITD Tay Kak Sie, Tanto Hermawan, bersama Ketua Panitia Perayaan, Djoko Weyong, menegaskan bahwa kirab tidak hanya memiliki makna ritual keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari pelestarian sejarah dan budaya.

“Kirab ini adalah ruang pertemuan antara sejarah, keyakinan, dan kehidupan sosial masyarakat,” ujar Tanto.

Menurutnya, sejumlah klenteng dari berbagai daerah di Indonesia turut diundang untuk membawa kimsin atau arca Sam Poo Tay Djien dan mengikuti prosesi yang menghubungkan Tay Kak Sie dengan Klenteng Agung Sam Poo Kong.

Tradisi tersebut juga disebut telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kirab Dimulai dari Pecinan Semarang

Prosesi utama dimulai sekitar pukul 05.00 WIB dengan pemberangkatan Kio atau tandu arca Sam Poo Tay Djien dari Tay Kak Sie.

Rombongan kemudian berjalan kaki melewati sejumlah ruas jalan bersejarah di kawasan Pecinan Semarang, mulai dari Gang Lombok, Gang Pinggir, Wotgandul, Plampitan, Kranggan hingga Jalan Pemuda.

Rombongan selanjutnya menuju Klenteng Agung Sam Poo Kong di kawasan Gedung Batu, Simongan, dan diperkirakan tiba sekitar pukul 07.00 WIB.

Setelah menjalani rangkaian ritual di Sam Poo Kong, rombongan dijadwalkan kembali menuju Tay Kak Sie sekitar pukul 13.00 WIB.

Perjalanan pulang menggunakan kendaraan melalui sejumlah ruas jalan, di antaranya Jalan Simongan, Jalan Kaligarang, Jalan Dr Sutomo, Bundaran Tugu Muda, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pierre Tendean, Jalan MH Thamrin hingga Jalan Gajahmada.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki memasuki kawasan Pecinan melalui sejumlah gang dan ruas jalan bersejarah hingga kembali ke Tay Kak Sie di Gang Lombok.

Bukan Sekadar Ritual, Ada Pesan Perdamaian

Kirab Sam Poo Tay Djien memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Laksamana Cheng Ho atau Zheng He, tokoh maritim Dinasti Ming yang memimpin tujuh ekspedisi laut ke berbagai wilayah Asia hingga Afrika Timur pada abad ke-15.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Semarang, Cheng Ho dikenal sebagai Sam Poo Tay Djien dan dihormati sebagai sosok yang membawa pesan persahabatan, perdamaian, serta perlindungan.

Kedatangan Cheng Ho ke Jawa menjadi bagian dari sejarah panjang hubungan perdagangan dan diplomasi maritim di kawasan Asia.

Nilai toleransi dan hubungan antarkomunitas tersebut kemudian terus diwariskan melalui berbagai tradisi yang berkembang di Semarang.

Kirab tahun ini pun diharapkan menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat sekaligus mencerminkan keberagaman budaya yang menjadi bagian dari identitas Kota Semarang.

Generasi Muda Jadi Kunci Pelestarian

Ketua Panitia Perayaan, Djoko Weyong, menilai keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci agar tradisi tersebut tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

“Pengakuan sebagai WBTb bukanlah akhir, melainkan awal. Anak-anak muda harus ikut memahami, mencintai, dan merawat kirab ini agar tidak punah di tengah pesatnya perubahan kota,” katanya.

Rangkaian perayaan telah dimulai sejak Selasa (11/8/2026) melalui sembahyang bersama.

Kegiatan dilanjutkan dengan Liam Keng atau pembacaan paritta suci pada Rabu (12/8). Sementara pada Jumat (14/8), digelar prosesi penyerahan kimsin tamu dari klenteng peserta, pemasukan arca ke dalam Kio, serta panggung kesenian tradisional.

Kirab Sam Poo Tay Djien ke-621 pada akhirnya tidak hanya menjadi prosesi budaya dan keagamaan. Bagi masyarakat Semarang, kegiatan tersebut menjadi cara untuk menghidupkan kembali ingatan tentang sejarah kota yang terbentuk dari perjumpaan berbagai budaya, perdagangan, dan komunitas.

Tradisi itu sekaligus menjadi pengingat bahwa keberagaman merupakan bagian dari perjalanan panjang Semarang yang perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

(*)

Komentar