Air Banjir Mirip Matcha Rendam Ratusan Rumah di Semarang, Warga Keluhkan Gatal-gatal

Warga Keluhkan Minimnya Kehadiran Pemerintah

JURANEWS.ID, SEMARANG – Ratusan rumah warga di Kampung Tanggungrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, terendam banjir selama sepekan terakhir.

Banjir yang mencapai ketinggian 40 hingga 50 sentimeter ini memiliki warna hijau menyerupai minuman matcha, sehingga membuat warga semakin khawatir terkait kondisi air yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Genangan air berwarna hijau itu menutup akses jalan dan juga masuk ke dalam rumah warga.

Kondisi tersebut menghambat berbagai aktivitas, termasuk pekerjaan warga yang lokasi aksesnya juga terdampak banjir di kawasan Kaligawe.

Sri Priyantini, warga RT 2 RW 5 Tanggungrejo, mengungkapkan bahwa banjir belum menunjukkan tanda-tanda surut meskipun sudah terjadi selama satu pekan.

“Banjir ini sudah seminggu, belum juga surut sampai sekarang. Air juga masuk semuanya ke dalam rumah. Ketinggiannya sekitar 40 sampai 50 sentimeter,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa 28 Oktober 2025.

Ia menyebut ratusan rumah terdampak banjir. Selain aktivitas terganggu, sang suami yang bekerja sebagai tukang sol sepatu di kawasan Kaligawe tidak dapat bekerja karena akses jalan tertutup banjir.

Tidak hanya itu, banjir yang diduga tercemar limbah mulai menimbulkan keluhan penyakit kulit berupa gatal-gatal pada banyak warga.

“Sudah gatal-gatal, apalagi kalau airnya sudah masuk kamar, tambah parah,” keluh Sri.

Diduga Tercemar Limbah Industri

Senada dengan Sri, Yarkasi Sukadi yang tinggal di dekat lokasi mengungkapkan bahwa banjir yang menggenangi lingkungan mereka kuat dugaan telah terkontaminasi limbah industri dari wilayah sekitar Terboyo serta aliran dari Genuk.

“Jelas limbah. Itu kiriman dari industri-industri, mungkin dari kawasan Terboyo. Air dari Genuk juga mengalir ke sini semua,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pompa air seharusnya mengalirkan air banjir langsung ke laut melalui Kali Tenggang. Namun karena kapasitas sungai tidak lagi mampu menampung debit air, limpasan mengarah ke permukiman warga.

Akibat paparan banjir dalam jangka panjang, Yarkasi dan keluarganya juga mengalami gatal di bagian tangan dan kaki sehingga terbatas beraktivitas di luar rumah.

Warga Keluhkan Minimnya Kehadiran Pemerintah

Ironisnya, hingga saat ini warga belum menerima penanganan langsung dari pemerintah terkait banjir maupun dampak kesehatannya.

Sri berharap pemerintah turun langsung memberi bantuan serta solusi mitigasi banjir jangka panjang agar wilayah tersebut tidak terus menjadi langganan banjir.

“Belum ada pemerintah yang datang, baik untuk bantuan kesehatan maupun lainnya,” ujarnya.

Yarkasi mengungkapkan bahwa pemerintah telah mendirikan posko kesehatan di Jalan Kaligawe. Namun posisinya yang juga terendam banjir membuat warga sulit menjangkaunya.

“Harapannya ada dokter keliling yang datang ke warga terdampak. Apalagi keadaan seperti ini berat buat orang seperti saya yang sudah tua,” pungkasnya.

(*)

 

 

Komentar