JURANEWS.ID, MALUKU UTARA – Program Angkutan Barang Perintis menunjukkan hasil positif dalam menekan disparitas harga di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, dengan penurunan mencapai 3 hingga 30 persen. Inisiatif ini menjadi angin segar bagi masyarakat penghasil rempah di wilayah tersebut.
Program ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik untuk Angkutan Barang dari dan ke Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar, dan Perbatasan (3TP). Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menjamin kelangsungan pelayanan angkutan barang ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.
Pada tahun 2025, terdapat sembilan trayek angkutan barang perintis yang tersebar di lima provinsi, termasuk tiga trayek di Maluku Utara. Program ini dimulai pada tahun 2024 dengan fokus pada rute Pelabuhan Matui – Desa Guaemadu. Keberhasilan rute ini mendorong perluasan layanan dengan penambahan dua trayek baru pada tahun 2025, yaitu Pelabuhan Matui – Desa Transgoal dan Pelabuhan Matui – Kecamatan Ibu.
Subsidi Angkutan Barang Perintis untuk Tol Laut di Maluku Utara telah memberikan manfaat signifikan bagi 15 pelaku usaha di Desa Guaemadu. Layanan ini memastikan ketersediaan kebutuhan pokok dan material penting, seperti mie instan, air mineral, beras, minyak goreng, dan tepung terigu.
Data dari Sistem Informasi Geografis Komoditas (SIGM) Kementerian Perdagangan tahun 2025 menunjukkan bahwa implementasi subsidi angkutan barang perintis dan Tol Laut sangat efektif dalam menekan disparitas harga di Halmahera Barat.
Namun, frekuensi singgah Kapal Tol Laut di Pelabuhan Matui yang hanya sekali sebulan dinilai kurang memadai. Untuk menjaga stabilitas pasokan dan mencegah kenaikan harga, frekuensi perlu ditingkatkan menjadi dua kali sebulan.
Selain itu, perbaikan infrastruktur fisik juga mendesak dilakukan. Akses jalan menuju pelabuhan perlu dibenahi sesuai standar jalan nasional, dan fasilitas bongkar muat perlu ditingkatkan dengan perkerasan permanen.
Program angkutan barang subsidi memberikan dampak positif, seperti menurunkan disparitas harga, menjamin ketersediaan barang, meningkatkan alokasi anggaran, dan membuka keterisolasian wilayah.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menekankan pentingnya dukungan dan kolaborasi Pemerintah Daerah untuk mengusulkan Angkutan Barang Perintis guna menekan disparitas harga bahan pokok. Ia juga menyoroti potensi muatan balik yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Djoko berharap agar Angkutan Udara Perintis juga dapat hadir untuk menghubungkan daerah 3TP di Maluku Utara. Dengan kolaborasi dan dukungan yang berkelanjutan, program ini diharapkan dapat terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi disparitas harga di wilayah Maluku Utara.
(*)








Komentar