JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan penanganan sejumlah bencana banjir di berbagai daerah di Indonesia dalam periode 23–24 Maret 2026. Secara umum, kondisi banjir di beberapa wilayah telah berangsur surut, meski masyarakat diminta tetap waspada, terutama memasuki arus balik Lebaran.
BNPB mencatat banjir yang melanda tujuh kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sejak 19 Maret 2026 telah merendam sebanyak 4.263 rumah warga. Tujuh kecamatan terdampak meliputi Pandaan, Winongan, Pohjentrek, Grati, Rejoso, Kraton, dan Bangil.
Saat ini, sebagian besar wilayah telah terbebas dari genangan. Namun, banjir masih terjadi di Kecamatan Rejoso dengan ketinggian air berkisar 30–40 sentimeter. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus melakukan pemantauan di lokasi terdampak.
Di Kota Pasuruan, banjir akibat meluapnya Sungai Welang sempat merendam 100 rumah warga di Kecamatan Gadingrejo. Peristiwa yang terjadi pada 21 Maret itu kini telah surut. Warga bersama petugas melakukan kerja bakti membersihkan sisa lumpur dan material banjir.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Mojokerto yang terjadi pada 20 Maret juga dilaporkan telah surut. Sebelumnya, banjir merendam 333 rumah, akses jalan desa, serta lahan seluas 61,5 hektar dengan ketinggian air mencapai 100–300 sentimeter.
Selama masa tanggap darurat, BPBD bersama lintas instansi telah melakukan berbagai upaya penanganan, seperti penyediaan perahu fiber, penyedotan air menggunakan pompa, distribusi air bersih, hingga pendirian dapur umum untuk warga terdampak.
Di wilayah timur Indonesia, banjir juga terjadi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Desa Masebewa, Kecamatan Tanawawo. Bencana yang terjadi pada 20 Maret tersebut merendam 2.922 rumah warga dan 15 hektar lahan persawahan.
Kini, kondisi di Sikka telah berangsur normal. Genangan air telah surut dan akses jalan antar desa yang sebelumnya terputus sudah kembali dapat dilalui warga. BPBD setempat tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi hujan susulan.
Memasuki arus balik Lebaran 2026, BNPB mengingatkan masyarakat yang melakukan perjalanan jauh agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat melintasi daerah rawan bencana. Masyarakat juga diminta untuk memeriksa jalur mudik melalui platform InaRISK, memantau kondisi cuaca, memastikan kendaraan dalam kondisi prima, serta memahami rambu keselamatan.
BNPB menegaskan, jika terjadi kondisi darurat, masyarakat diminta segera menghubungi petugas yang siaga di sekitar lokasi.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko bencana selama periode mudik dan arus balik Lebaran.
(*)










Komentar