BNPB Catat Karhutla di 8 Wilayah, Raja Ampat Terbakar 123 Hektare dan Api TPA Ternate Belum Padam

Karhutla di Indonesia Oktober 2026, Kebakaran Raja Ampat 123,2 Hektare, TPA Takome Ternate Terbakar, Karhutla Sulawesi Barat Belum Padam, BNPB Imbau Warga Waspadai Asap

JAKARTA, JURANEWS.ID — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Salah satu kejadian terbesar tercatat di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, dengan luas lahan terbakar mencapai 123,2 hektare.

Berdasarkan laporan perkembangan situasi bencana yang diperbarui hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 07.00 WIB, kebakaran terjadi di sejumlah daerah, mulai dari Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Papua Tengah, hingga Papua Barat Daya.

Selain karhutla, kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Takome, Kota Ternate, Maluku Utara, juga menjadi perhatian karena api belum berhasil dipadamkan sepenuhnya hingga Jumat (9/10/2026).

BNPB menyebut sebagian lokasi kebakaran telah berhasil dipadamkan. Namun, beberapa titik masih mengalami kendala penanganan, terutama akibat kondisi lahan, angin kencang, dan keterbatasan peralatan.

Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, berlangsung pada 4–7 Oktober 2026 dan mengakibatkan sekitar 123,2 hektare lahan terbakar.

Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Bonkawir, Waisai Kota, Warmasen, serta Kampung Sapoekren.

BPBD Kabupaten Raja Ampat bersama tim gabungan melakukan berbagai upaya penanganan, mulai dari pelokalisiran titik api, penyemprotan, pemadaman secara manual, hingga pemantauan setelah api padam.

Berdasarkan laporan terakhir pada Jumat (9/10/2026), api berhasil dipadamkan dan situasi dinyatakan aman serta kondusif. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.

Api TPA Takome Ternate Masih Sulit Dipadamkan

Kondisi berbeda terjadi di TPA Takome, Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, Maluku Utara. Kebakaran yang terjadi sejak Kamis (8/10/2026) berdampak pada area sekitar 11 hektare.

Hingga Jumat (9/10/2026), api belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Asap dari sampah yang terbakar bahkan menyebar hingga permukiman warga di sekitar Kelurahan Sulamadaha dan dikhawatirkan mengganggu kesehatan masyarakat.

Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Titik api merambat ke bagian dalam tumpukan sampah dengan ketinggian lebih dari lima meter. Angin kencang, asap yang bercampur gas metana, serta keterbatasan peralatan turut menyulitkan petugas.

BPBD Kota Ternate bersama TNI, Polri, pemadam kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup, Basarnas, Dinas Kesehatan, PDAM, Dinas Pekerjaan Umum, dan unsur terkait lainnya terus melakukan penanganan.

Petugas juga berupaya mencegah api merambat ke kawasan perkebunan dan permukiman warga.

Pemerintah Kota Ternate telah menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan untuk periode 3–16 Oktober 2026. Dalam penanganan kebakaran tersebut, pemerintah daerah juga membutuhkan dukungan bahan bakar untuk operasional kendaraan serta peralatan pemadaman yang memadai.

Kebakaran hutan dan lahan di Dusun Wonosari dan Dusun Rama, Desa Buana Sakti, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, terjadi sejak Minggu (4/10/2026).

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare. Hingga Jumat (9/10/2026), api belum berhasil dipadamkan dan asap masih menyelimuti lokasi kejadian hingga meluas ke wilayah Desa Buana Sakti.

Penyebab kebakaran masih belum diketahui dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

BPBD Kabupaten Mamuju berkoordinasi dengan pemadam kebakaran, Manggala Agni, dan BPBD Provinsi Sulawesi Barat untuk menangani kejadian tersebut.

Pemerintah daerah juga membuat parit menggunakan alat berat guna memutus perambatan api di bawah permukaan lahan gambut. Koordinasi terus dilakukan untuk menyiapkan personel dan sarana pendukung pemadaman.

Sementara itu, kebakaran di Gunung Sidoe, Desa Jono, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, juga belum sepenuhnya padam.

Kebakaran yang terjadi pada Kamis (8/10/2026) tersebut diperkirakan menghanguskan sekitar lima hektare lahan.

Berdasarkan pemantauan Jumat (9/10/2026), masih terdapat dua titik api dengan asap mengepul di balik gunung. Jangkauan titik api diperkirakan mencapai 6–7 kilometer, sedangkan upaya pemadaman telah menjangkau sekitar tiga kilometer.

BPBD Kabupaten Sigi bersama pemerintah desa dan masyarakat terus melakukan asesmen serta upaya pemadaman.

BNPB juga melaporkan sejumlah kejadian karhutla yang telah berhasil ditangani petugas.

Di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, kebakaran terjadi di Dusun Selindung, Desa Air Putih, Kecamatan Muntok, pada Kamis (8/10/2026). Luas lahan terbakar diperkirakan mencapai delapan hektare.

BPBD Kabupaten Bangka Barat berkoordinasi dengan instansi terkait dan dinas pemadam kebakaran. Api berhasil dipadamkan seluruhnya pada Kamis pukul 22.05 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, kebakaran hutan rakyat di Gunung Sekekep, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jenangan, menghanguskan sekitar lima hektare lahan. Api dilaporkan telah berhasil dipadamkan setelah BPBD melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan perangkat desa.

Kebakaran juga terjadi di jalur pendakian Gunung Bungkuk, Desa Bungkuk, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Sekitar tiga hektare lahan terbakar. Petugas menggunakan peralatan manual dan membuat sekat bakar untuk membatasi perambatan api hingga akhirnya berhasil memadamkan kebakaran.

Sementara itu, kebakaran di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang, Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, menghanguskan sekitar 22,77 hektare lahan.

Kebakaran yang terjadi sejak Selasa (6/10/2026) tersebut berhasil dipadamkan pada Jumat (9/10/2026) melalui penanganan BPBD Kabupaten Bangli bersama unsur terkait.

Di Papua Tengah, kebakaran hutan dan lahan terjadi di sekitar Kampung Wanggar, Kecamatan Wanggar, Nabire Barat, Kabupaten Nabire, pada Rabu (7/10/2026).

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai enam hektare. Hingga Jumat (9/10/2026), tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, dan instansi terkait masih melakukan upaya pemadaman.

Pemerintah Kabupaten Nabire telah menetapkan status tanggap darurat untuk periode 4–17 Oktober 2026.

Menyikapi rangkaian kejadian tersebut, BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan maupun membakar sampah tanpa pengawasan.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada petugas setempat apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran.

Bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran, terutama di wilayah terdampak asap, BNPB mengimbau agar mengikuti arahan petugas dan mengurangi paparan asap. Apabila kualitas udara terganggu, masyarakat disarankan menggunakan masker yang sesuai dan membatasi aktivitas di luar ruangan.

Pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait juga diharapkan memperkuat koordinasi, pemantauan titik api, serta kesiapan personel dan peralatan untuk mencegah kebakaran meluas.

BNPB menegaskan bahwa keselamatan masyarakat dan petugas harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan penanganan bencana.

Informasi terbaru mengenai perkembangan situasi bencana dapat dipantau melalui kanal resmi BNPB dan BPBD setempat.

(*)

Komentar