BNPB Catat Sejumlah Bencana di Berbagai Daerah, Banjir hingga Karhutla Masih Terjadi

BNPB mencatat banjir, angin kencang, abrasi hingga karhutla terjadi di sejumlah wilayah, dengan ribuan warga terdampak dalam dua hari terakhir.

JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode 18–19 Maret 2026.

Salah satu kejadian yang dilaporkan adalah banjir di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi. Peristiwa ini berdampak pada sekitar 150 kepala keluarga atau 500 jiwa. Saat ini kondisi banjir dilaporkan telah berangsur surut, sementara BPBD setempat masih melakukan pendataan dan koordinasi penanganan.

Banjir juga terjadi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang dipicu curah hujan tinggi dengan durasi lama serta sistem drainase yang kurang memadai. Genangan dilaporkan mengganggu aktivitas warga di sejumlah titik permukiman dan jalan.

Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, angin kencang melanda wilayah tersebut pada Rabu (18/3), berdampak pada 27 kepala keluarga. Kerusakan tercatat meliputi lima rumah rusak berat, dua rusak sedang, dan 20 rusak ringan. Penanganan masih dilakukan oleh BPBD setempat.

Sementara itu, cuaca ekstrem di Kota Bandung, Jawa Barat, menyebabkan dua orang menjadi korban, masing-masing satu luka berat dan satu luka ringan. Keduanya telah dievakuasi dan mendapatkan perawatan medis.

Masih di Jawa Barat, banjir juga melanda Kabupaten Majalengka dan berdampak pada 332 kepala keluarga atau 969 jiwa. Kondisi banjir dilaporkan telah surut sepenuhnya.

BNPB juga mencatat kejadian abrasi pantai di Kabupaten Halmahera Timur yang berdampak pada 10 kepala keluarga atau 37 jiwa. Selain merusak 10 rumah warga, abrasi juga menyebabkan kerusakan pada talud penahan ombak sepanjang sekitar 200 meter serta tujuh unit perahu nelayan. Kondisi di lokasi masih dipengaruhi angin kencang dan gelombang tinggi.

Di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, gelombang pasang air laut turut berdampak pada sekitar 40 kepala keluarga. Hingga kini, kondisi gelombang tinggi masih berlangsung dan warga diminta tetap waspada.

Selain bencana hidrometeorologi, BNPB juga memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Di Provinsi Kalimantan Tengah, total luas lahan terbakar sejak awal 2026 mencapai sekitar 318,92 hektare, dengan tambahan kejadian di Kabupaten Kotawaringin Timur seluas 4,06 hektare.

Sementara di Provinsi Riau, luas lahan terbakar sejak 1 Januari 2026 tercatat mencapai sekitar 2.343,10 hektare, dengan penambahan sekitar 127,8 hektare pada 18 Maret. Upaya penanganan terus dilakukan, termasuk patroli udara untuk memantau titik api.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, baik hidrometeorologi basah maupun kering. Masyarakat diminta rutin memantau informasi cuaca, menjaga lingkungan, serta segera melaporkan kejadian darurat kepada BPBD setempat.

Selain itu, pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapan personel, logistik, dan peralatan guna mendukung penanganan bencana secara cepat dan terkoordinasi.

 

(*)

Komentar