JURANEWS.ID, CILACAP – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan seluruh unsur terkait bergerak bersama dalam penanganan darurat bencana tanah longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, turun langsung meninjau lokasi terdampak pada Jumat (14/11) sore sebagai tindak lanjut arahan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam rapat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Cilacap, Budi menyampaikan bahwa Presiden memberikan perhatian besar terhadap bencana ini dan memerintahkan percepatan penanganan di lapangan.
BNPB, BPBD, Basarnas, dan unsur TNI-Polri disebut telah bergerak dalam operasi pencarian dan pertolongan sejak hari pertama kejadian.
Sebanyak 512 personel SAR gabungan dari berbagai lembaga, termasuk relawan MDMC, SAR MTA, Serayu Rescue, Tagana, hingga BAZNAS Tanggap Bencana, telah melakukan misi penyelamatan sejak Kamis (13/11).
Selain itu, pos lapangan beserta klaster layanan kebencanaan telah terbentuk. Dapur umum dan pos kesehatan juga disiapkan untuk memenuhi kebutuhan warga dan mendukung operasional tim di lapangan.
Operasi SAR pada hari kedua, Jumat (14/11), dilakukan dengan membagi tiga sektor pencarian dan mengerahkan empat unit alat berat.
Tim menemukan satu korban meninggal dunia pada pukul 10.56 WIB sehingga jumlah orang yang masih dalam pencarian menjadi 20 jiwa.
Namun, operasi dihentikan sementara pada 16.30 WIB akibat hujan lebat yang berpotensi memicu longsor susulan.
Untuk operasi hari ketiga pada Sabtu (15/11), BNPB menginstruksikan penambahan alat berat menjadi delapan unit guna mempercepat pencarian.
Satu anjing pelacak dari unit K9 Kantor SAR Semarang juga akan diturunkan untuk mengoptimalkan deteksi keberadaan korban.
Selain fokus pada pencarian, BNPB juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
Berbagai logistik telah disiapkan, termasuk bahan makanan, tenda, selimut, dan matras, sebagai bagian dari dukungan masa tanggap darurat.
Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di wilayah Majenang hingga 16 November.
Kondisi topografi yang berbentuk cekungan disebut menjadi salah satu faktor pemicu longsor.
BNPB mengimbau warga serta tim SAR agar meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan turun lebih dari satu jam, dan melakukan evakuasi mandiri bila diperlukan untuk menghindari longsor susulan.
(*)









Komentar