JURANEWS.ID, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan situasi bencana di berbagai wilayah Indonesia dalam periode 31 Maret hingga 1 April 2026. Hasil pendataan menunjukkan bencana yang berdampak signifikan didominasi oleh fenomena hidrometeorologi basah, terutama di Pulau Jawa.
Hujan lebat disertai angin kencang melanda sejumlah daerah dan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta permukiman warga. Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, peristiwa yang terjadi pada 30 Maret mengakibatkan 23 rumah rusak ringan, satu rumah rusak sedang, serta dua tempat usaha terdampak. Selain itu, pohon tumbang, gangguan jaringan listrik, dan akses jalan sempat terhambat, termasuk di ruas tol KM 704.
Kejadian serupa juga terjadi di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang menyebabkan tiga rumah rusak sedang dan 14 rumah rusak ringan. Sementara di Jawa Tengah, cuaca ekstrem berdampak cukup luas. Di Kota Semarang, sebanyak 29 rumah mengalami kerusakan akibat hujan lebat dan angin kencang.
Di Kabupaten Kudus, lima desa di Kecamatan Undaan terdampak dengan total 395 rumah terdampak, dua rumah rusak berat, serta sejumlah pohon tumbang. Adapun di Kabupaten Pati, 29 rumah dilaporkan mengalami kerusakan ringan akibat peristiwa serupa.
Beralih ke Jawa Barat, angin puting beliung menerjang Kabupaten Bandung dan menyebabkan 15 rumah rusak sedang serta satu rumah rusak berat. Fasilitas umum seperti kesehatan dan pendidikan juga terdampak. Sementara di Kabupaten Bekasi, fenomena angin kencang disertai hujan es terjadi di beberapa desa di wilayah Cikarang.
Di Kabupaten Bogor, hujan lebat dan angin kencang merusak enam rumah warga. Selain itu, bencana banjir di Kabupaten Cianjur mengakibatkan dua orang dilaporkan hilang setelah terseret arus pada 29 Maret. Hingga kini, proses pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan.
Di luar Pulau Jawa, banjir juga terjadi di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, yang merendam 10 rumah serta fasilitas umum. Sementara di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, angin puting beliung menerjang tujuh desa dan menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah, fasilitas pendidikan, serta tempat ibadah.
Di sisi lain, fenomena kekeringan mulai terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sebanyak 712 jiwa terdampak akibat menurunnya debit air setelah wilayah tersebut tidak diguyur hujan selama delapan hari. BPBD setempat telah menyalurkan bantuan air bersih kepada warga.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga 3 April 2026, khususnya di Pulau Jawa. BMKG juga memprediksi awal musim kemarau akan berlangsung mulai April hingga Juni, yang ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat dan ekstrem.
Menanggapi kondisi tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana. Masyarakat diminta rutin memantau informasi cuaca, menjaga kebersihan drainase, serta memangkas pohon yang berpotensi tumbang.
Selain itu, pemerintah daerah juga diminta mulai mengantisipasi potensi kekeringan dengan menyiapkan cadangan air bersih, termasuk melalui penampungan air hujan di wilayah rawan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menjadi kunci dalam meminimalkan dampak bencana di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
(*)








Komentar