JURANEWS.ID, BATANG – Cuaca laut yang tak menentu kerap menjadi momok bagi nelayan. Namun kondisi tersebut justru dimanfaatkan oleh Arif Budiyanto (36), nelayan asal Roban, Kabupaten Batang, untuk meningkatkan keterampilan baru, yakni belajar membongkar dan memperbaiki mesin perahu miliknya sendiri.
Arif menjadi salah satu dari 25 nelayan Batang yang mengikuti pelatihan perawatan dan perbaikan mesin kapal yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Perikanan Tegal, bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), serta didukung pendanaan dari PT BPI. Pelatihan ini digelar di Pantai Payung Sewu, Kabupaten Batang, Selasa (10/2/2026).
Selama ini, Arif mengaku sangat bergantung pada bengkel ketika mesin kapalnya mengalami kerusakan serius. Jika mesin bermasalah saat melaut, ia terpaksa menghentikan aktivitas dan kembali ke darat.
“Biasanya kalau mesin macet di laut ya terpaksa pulang. Kalau masuk angin atau kehabisan solar masih bisa diakali. Tapi kalau rusak, mau nggak mau ke bengkel,” ujar Arif.
Namun melalui pelatihan tersebut, kebiasaan itu mulai berubah. Arif dan peserta lainnya diajak untuk membongkar mesin kapal secara langsung, mengenali komponen, serta memahami sumber kerusakan.
Dari proses tersebut, Arif baru mengetahui kondisi mesin kapalnya yang mengalami kerusakan pada sejumlah bagian, seperti ring, seher, bos stang, hingga lahar bandul.
“Kita bongkar semua dulu, terus tahu mana yang rusak. Nanti tinggal beli, pasang lagi biar mesin bisa jalan,” katanya.
Instruktur pelatihan dari Balai Diklat Perikanan Tegal, Sugiyanto, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kemandirian nelayan, terutama saat menghadapi kondisi darurat di tengah laut.
“Tujuan utamanya supaya nelayan bisa merawat dan memperbaiki mesin sendiri, baik di darat maupun di laut, sehingga tidak selalu bergantung pada montir,” jelas Sugiyanto.
Materi pelatihan mencakup perawatan rutin hingga perbaikan kerusakan ringan, seperti menyetel klep atau mengganti komponen kecil. Dengan catatan, nelayan memiliki peralatan dasar seperti kunci dan perkakas mesin.
“Kalau alatnya ada, kerusakan kecil itu sebenarnya bisa dibenahi sendiri, bahkan di tengah laut,” ujarnya.
Sugiyanto menambahkan, pelatihan ini juga menjadi langkah antisipasi kecelakaan laut, mengingat kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi.
“Daripada memaksakan melaut saat cuaca buruk, waktu ini bisa dimanfaatkan nelayan untuk memperbaiki perahu dan mesinnya,” katanya.
Selain meningkatkan keselamatan, pelatihan ini juga berdampak pada penghematan biaya operasional nelayan. Menurut Sugiyanto, biaya servis mesin kapal di bengkel bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta.
“Dengan pelatihan ini, biaya bisa ditekan. Mungkin cukup sekitar Rp500 ribu untuk beli spare part saja,” ungkapnya.
Selama ini, biaya jasa bengkel berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu, belum termasuk suku cadang. Jika nelayan mampu memperbaiki sendiri, pengeluaran tersebut dapat diminimalisasi.
“Kalau sudah bisa memperbaiki sendiri, jelas mengurangi biaya bengkel. Lumayan untuk nelayan,” ucap Sugiyanto.
Bagi Arif dan nelayan lainnya, pelatihan ini bukan sekadar belajar soal mesin. Lebih dari itu, pelatihan ini menjadi bekal kemandirian, keselamatan, dan ketahanan hidup di tengah kerasnya laut, tanpa harus selalu bergantung pada pihak lain.
(*)












Komentar