Darurat Kekeringan Meluas! Ribuan Warga di Jateng Krisis Air Bersih, BNPB Ungkap Kondisi Terkini

Musim kemarau mulai memicu bencana di berbagai daerah. Selain kekeringan yang berdampak pada ribuan warga di Klaten, Banyumas, dan Pemalang, kebakaran lahan juga terjadi di Sragen.

JURANEWS.ID, JATENG – Musim kemarau 2026 mulai menunjukkan dampak serius di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) masih menjadi ancaman utama yang mendominasi berbagai daerah, terutama di Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD yang dihimpun BNPB pada periode 13–14 Juli 2026, ribuan warga di Kabupaten Klaten, Banyumas, dan Pemalang kini menghadapi krisis air bersih akibat menurunnya ketersediaan sumber air selama musim kemarau.

Selain kekeringan, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Bendo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, Senin (13/7/2026). Peristiwa tersebut diduga dipicu aktivitas pembakaran rumput oleh warga yang kemudian merambat ke area perkebunan tebu.

BPBD Kabupaten Sragen mencatat sekitar 4,5 hektare lahan terdampak kebakaran. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Tim gabungan dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, aparat kecamatan, dan pemerintah desa langsung melakukan pemadaman serta pendinginan di lokasi.

Klaten Krisis Air, Lebih dari 10 Ribu Jiwa Terdampak

Dampak kekeringan paling besar terjadi di Kabupaten Klaten. Sebanyak 3.148 kepala keluarga atau 10.407 jiwa di Kecamatan Kemalang terdampak kekurangan air bersih.

Empat desa yang mengalami krisis air meliputi Desa Kendalsari, Tegalmulyo, Tlogowatu, dan Sidorejo. Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Kabupaten Klaten telah mendistribusikan 236 tangki air atau sekitar 1,18 juta liter air bersih selama periode 15 Juni hingga 13 Juli 2026.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Banyumas. BNPB mencatat sedikitnya 1.820 kepala keluarga atau 5.648 jiwa terdampak kekeringan yang tersebar di enam kecamatan, yakni Purwokerto Timur, Karanglewas, Sumpiuh, Jatilawang, Cilongok, dan Kemranjen.

Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Banyumas menyalurkan ribuan liter air bersih ke sejumlah wilayah terdampak serta menyiapkan toren dan sarana penampungan air bagi masyarakat.

Di Kabupaten Pemalang, dampak kekeringan juga semakin terasa. Sebanyak 2.923 kepala keluarga di Kecamatan Belik, Bawang, dan Pulosari tercatat terdampak kekurangan air bersih.

Pemerintah Kabupaten Pemalang bahkan telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kekeringan hingga 30 November 2026. Pada Senin (13/7), BPBD Pemalang menyalurkan 56.000 liter air bersih menggunakan tiga armada mobil tangki untuk membantu kebutuhan masyarakat.

BNPB Ingatkan Ancaman Karhutla dan Kekeringan Masih Tinggi

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D. menjelaskan bahwa berdasarkan prediksi curah hujan dasarian II Juli 2026 yang dirilis BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori hujan rendah. Kondisi ini berpotensi memperpanjang ancaman kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta lahan.

Karena itu, pemerintah daerah diminta terus mengoptimalkan distribusi air bersih dan menyiapkan sarana penampungan air di wilayah rawan kekeringan. Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak serta tidak membuka lahan dengan cara membakar guna mencegah terjadinya karhutla.

BNPB menegaskan bahwa kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh pihak menjadi kunci penting untuk meminimalkan dampak bencana selama musim kemarau 2026 berlangsung.

(*)

Komentar