JURANEWS.ID – Persaingan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memasuki fase baru. Jika sebelumnya keunggulan teknologi ditentukan oleh kemampuan membangun model yang semakin canggih, ke depan keberhasilan justru akan ditentukan oleh sejauh mana AI mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Pandangan tersebut tertuang dalam laporan terbaru DBS Group Research bertajuk Intentional AI: Connecting Intelligence, Capital and Outcomes, yang dirilis pada Rabu (21/10/2026).
Dalam laporan tersebut, DBS Group Research menilai bahwa semakin mudahnya akses terhadap teknologi AI membuat kecerdasan semata semakin sulit menjadi sumber keunggulan kompetitif. Organisasi yang mampu mengidentifikasi persoalan penting dan menerjemahkan kemampuan AI menjadi hasil terukur dinilai memiliki peluang lebih besar untuk unggul.
Pergeseran ini membuka peluang bagi kawasan Asia, termasuk Indonesia, yang menghadapi berbagai tantangan sekaligus memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi digital.
Laporan tersebut menyoroti tiga bidang utama yang berpotensi menjadi pendorong inovasi dan pertumbuhan jangka panjang, yakni inklusi keuangan, ketahanan iklim, serta kebutuhan masyarakat di tengah meningkatnya populasi lanjut usia.
Bagi Indonesia, pemanfaatan AI secara tepat dinilai berpotensi membantu memperluas akses layanan keuangan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko iklim, serta menjawab kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani layanan formal.
DBS Group Research menilai bahwa keunggulan AI berikutnya tidak selalu berasal dari perusahaan yang membangun model kecerdasan buatan terbesar. Kemampuan mengintegrasikan teknologi, modal, tata kelola, dan pelaksanaan di lapangan justru menjadi faktor penting dalam menghasilkan nilai ekonomi.
Asia dinilai memiliki modal kuat dalam penerapan AI di sektor ekonomi riil, terutama manufaktur dan otomatisasi industri.
Dalam laporan tersebut disebutkan, Asia menyumbang 74 persen dari total instalasi robot industri global pada 2024. Sebagai perbandingan, Eropa menyumbang 16 persen dan kawasan Amerika sebesar 9 persen.
Angka tersebut menggambarkan besarnya peran Asia dalam penggunaan teknologi otomatisasi di industri. Keunggulan ini dinilai dapat menjadi fondasi untuk memperluas pemanfaatan AI dari sekadar analisis dan prediksi menuju sistem yang mampu mendukung tindakan nyata.
Penerapan tersebut dapat mencakup peningkatan efisiensi produksi, optimalisasi proses bisnis, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Investasi AI Besar, Peluang Penerapan Masih Terbuka
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, aliran investasi AI secara global masih terkonsentrasi di sejumlah kawasan.
DBS Group Research mencatat perusahaan AI menghimpun sekitar 270 miliar dolar AS dalam pendanaan modal ventura sepanjang 2025. Hampir 80 persen pendanaan tersebut mengalir ke Amerika Utara, sedangkan Asia memperoleh sekitar 5,7 persen.
Menurut laporan itu, kondisi tersebut memperlihatkan adanya peluang bagi Asia untuk memperkuat perannya dalam penerapan AI yang menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial.
Ketika akses terhadap teknologi semakin luas, peluang bisnis tidak hanya terletak pada pengembangan model AI, tetapi juga pada kemampuan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan spesifik di berbagai sektor.
Pendekatan ini menuntut perusahaan dan investor untuk mempertimbangkan bukan hanya kecanggihan teknologi, melainkan juga efektivitas implementasi, tata kelola, serta dampak yang dapat diukur.
Salah satu peluang utama pemanfaatan AI di Asia terletak pada penguatan ketahanan iklim dan perluasan inklusi keuangan.
Dalam bidang iklim, teknologi AI dapat membantu meningkatkan analisis dan prakiraan cuaca. Namun, manfaat yang lebih besar akan muncul ketika informasi tersebut digunakan untuk mendukung kesiapsiagaan bencana, pengelolaan risiko, dan pengambilan keputusan di sektor-sektor yang rentan terhadap perubahan cuaca.
Sementara itu, dalam sektor keuangan, AI berpotensi mendukung perluasan akses layanan bagi masyarakat dan pelaku usaha yang belum terjangkau secara optimal oleh sistem keuangan formal.
Bagi UMKM Indonesia, penerapan AI yang tepat dapat membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional, mendukung analisis usaha, dan membantu pengambilan keputusan keuangan. Meski demikian, manfaat tersebut bergantung pada kualitas data, akses teknologi, serta tata kelola yang memadai.
DBS Group Research menekankan bahwa nilai jangka panjang AI bergantung pada kemampuannya menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan, bukan sekadar meningkatkan kemampuan teknis sistem.
Selain menyoroti peluang penerapan AI, laporan tersebut mengidentifikasi potensi Singapura sebagai pusat integrasi teknologi yang tepercaya di kawasan Asia.
Menurut DBS Group Research, keunggulan Singapura tidak harus bertumpu pada persaingan membangun teknologi dalam skala terbesar. Negara tersebut justru berpeluang memainkan peran strategis dengan menghubungkan inovasi, manufaktur, penerapan teknologi, sektor keuangan, serta tata kelola.
Peran tersebut dapat membantu mendorong interoperabilitas atau kemampuan berbagai sistem untuk saling terhubung, sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap penerapan AI dan mendukung investasi lintas negara.
Pada akhirnya, laporan Intentional AI: Connecting Intelligence, Capital and Outcomes menegaskan bahwa fase berikutnya dari ekonomi AI akan semakin ditentukan oleh kemampuan menghubungkan kecerdasan, modal, dan pelaksanaan untuk menghasilkan dampak nyata.
Bagi Indonesia dan negara-negara Asia lainnya, peluang tersebut terbuka melalui penerapan AI yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, penguatan sektor ekonomi riil, serta penyelesaian tantangan sosial dan lingkungan secara terukur.
(*)








Komentar