SERDANG BEDAGAI, JURANEWS.ID – Ancaman abrasi dan banjir rob di kawasan pesisir mendorong PT PLN (Persero) memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
Melalui Pusat Manajemen Proyek (Pusmanpro) dan Unit Pelaksana Manajemen Konstruksi (UPMK) IV, PLN bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Serdang Bedagai membentuk Desa Siaga Bencana di Desa Bagan Kuala, Kecamatan Tanjung Beringin.
Program tersebut dilaksanakan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN tahun 2026 pada 24 September 2026.
Menariknya, program tersebut memberikan ruang besar bagi kelompok rentan, khususnya perempuan. Dari 20 anggota kelembagaan Tim Siaga Bencana yang dibentuk, mayoritas merupakan perempuan.
Pelibatan perempuan tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di wilayah pesisir.
Desa Bagan Kuala memiliki kondisi geografis yang berada di kawasan pesisir pantai sehingga menghadapi risiko abrasi dan banjir rob.
Ancaman tersebut semakin menjadi perhatian setelah cuaca ekstrem pada akhir 2025 menyebabkan masyarakat harus mengungsi.
Kondisi itu mendorong kebutuhan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan mitigasi serta merespons kondisi darurat.
Apalagi, sebagian besar masyarakat Desa Bagan Kuala berprofesi sebagai nelayan yang aktivitasnya sangat berkaitan dengan kondisi cuaca dan perairan.
Manager UPMK IV PLN, Hadiansyah Kausar, mengatakan program tersebut merupakan salah satu bentuk kehadiran PLN untuk memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara langsung dan berkelanjutan.
“Melalui Program Desa Siaga Bencana PLN, kami ingin membangun kesiapsiagaan bersama agar masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengenali risiko serta mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi bencana,” ujar Hadiansyah.

Perempuan Dilatih Jadi Garda Terdepan
Pelibatan perempuan menjadi salah satu fokus utama dalam program tersebut.
Para relawan perempuan tidak hanya dilibatkan dalam aspek kelembagaan, tetapi juga mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi kondisi darurat.
PLN memfasilitasi sejumlah pelatihan, mulai dari manajemen kebencanaan, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), manajemen dapur umum, hingga teknik penyelamatan di air (water dan high rescue).
General Manager PLN Pusmanpro, Aan Ridhoana Fitriaji, mengatakan keselamatan menjadi salah satu nilai utama dalam setiap aktivitas PLN.
Menurutnya, Program Desa Siaga Bencana diharapkan dapat memperkuat kemampuan masyarakat dalam melindungi diri, keluarga, dan lingkungan dari risiko bencana.
“Program ini diharapkan memberikan dampak positif yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di wilayah lainnya,” ujar Aan.
Selain meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, PLN juga mendukung Desa Bagan Kuala melalui penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) tanggap darurat berbasis lokal.
Program tersebut juga mencakup pembuatan peta risiko serta pemasangan rambu jalur evakuasi.
Untuk mendukung operasional Tim Siaga Bencana, PLN menyerahkan sejumlah peralatan tanggap darurat.
Bantuan tersebut antara lain perahu karet, mesin pompa air portabel, tandon air darurat, tandu lipat, life jacket, helm keselamatan, hingga paket Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
Kepala Desa Bagan Kuala, Syafril, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan PLN kepada masyarakat.
“Mewakili warga Desa Bagan Kuala, kami berterima kasih kepada PLN. Semoga program ini tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi dapat menjadi bekal yang terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat,” ujar Syafril.
Pembentukan Desa Siaga Bencana tersebut menjadi bagian dari komitmen PLN dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya tujuan nomor 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan serta tujuan nomor 13 tentang penanganan perubahan iklim.
Melalui program tersebut, PLN berharap masyarakat Desa Bagan Kuala semakin tangguh dalam menghadapi risiko bencana serta mampu meminimalkan potensi kerugian material maupun korban jiwa.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk semakin memahami aspek keselamatan kelistrikan ketika bencana alam terjadi.
(*)













Komentar