JURANEWS.ID, JAKARTA – Ericsson meluncurkan portofolio terbaru berupa radio AI-ready, antena, serta perangkat lunak Radio Access Network (RAN) berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pengembangan jaringan masa depan di Indonesia.
Peluncuran ini ditujukan untuk membantu operator telekomunikasi membangun jaringan yang lebih cerdas, efisien, dan siap menghadapi lonjakan kebutuhan konektivitas digital seiring berkembangnya aplikasi berbasis AI dan ekspansi 5G.
Dalam keterangan resminya, Ericsson menyebut portofolio baru tersebut dirancang untuk meningkatkan performa uplink, efisiensi energi, serta kecerdasan jaringan. Teknologi ini juga memungkinkan operator mengoptimalkan jaringan secara real-time dan menghadirkan layanan konektivitas yang lebih terdiferensiasi sesuai kebutuhan pelanggan.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan bahwa percepatan ekspansi 5G di Indonesia tidak hanya membutuhkan jaringan yang cepat, tetapi juga cerdas dan berkelanjutan.
“Seiring dengan percepatan ekspansi 5G di Indonesia, jaringan yang cepat bukan satu-satunya prioritas, tetapi juga jaringan yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Di Ericsson, kami melihat AI-ready RAN sebagai fondasi dari perjalanan ini,” ujar Nora Wahby dalam siaran pers, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, kehadiran kemampuan AI langsung di dalam Radio Access Network memungkinkan terciptanya jaringan berperforma tinggi yang adaptif dan lebih hemat energi. Hal itu dinilai dapat membantu operator mempercepat penyebaran jaringan sekaligus mengoptimalkan investasi jangka panjang.
Ericsson menjelaskan, portofolio barunya mencakup 10 perangkat radio yang siap mendukung AI, peningkatan software RAN, serta lima antena berkinerja tinggi. Seluruh perangkat tersebut dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan spektrum, meningkatkan performa uplink, dan mempermudah implementasi jaringan.
Dengan integrasi AI pada lapisan perangkat keras dan perangkat lunak, operator disebut dapat mengelola sumber daya jaringan secara lebih dinamis, meningkatkan pengaturan lalu lintas data, serta mendorong efisiensi operasional. Langkah ini juga dinilai penting untuk menyiapkan infrastruktur menuju gelombang inovasi 5G berikutnya.
Fitur-fitur berbasis AI yang diperkenalkan antara lain beamforming cerdas, prediksi cakupan jaringan berbasis AI, serta pengelolaan mobilitas dan latensi yang lebih canggih. Melalui fitur ini, alokasi kapasitas jaringan dapat dilakukan secara real-time menyesuaikan pola penggunaan data pelanggan.
Bagi pengguna, pengembangan teknologi ini diproyeksikan menghadirkan konektivitas yang lebih stabil dan andal, mulai dari streaming video yang lebih lancar, pengalaman bermain game seluler yang lebih mulus, hingga mendukung aplikasi real-time berbasis AI.
Selain itu, kemampuan jaringan yang dapat dibedakan berdasarkan latensi, kecepatan, atau tingkat keandalan dinilai membuka peluang baru bagi operator untuk menghadirkan layanan yang lebih beragam, baik untuk segmen konsumen maupun korporasi. Kondisi tersebut juga berpotensi menciptakan sumber monetisasi baru di luar layanan paket data konvensional.
Nora menambahkan, AI-ready RAN bukan sekadar evolusi teknologi jaringan, melainkan transformasi dalam cara jaringan dibangun dan dioperasikan.
“Dengan mengintegrasikan kecerdasan ke dalam perangkat radio, antena, dan software, kami memungkinkan jaringan yang dapat memanfaatkan spektrum secara lebih efisien, meningkatkan kinerja uplink, serta pada akhirnya menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih baik,” katanya.
Ericsson menilai inovasi ini akan mendukung percepatan pengembangan 5G nasional, sekaligus membantu mewujudkan transformasi digital Indonesia di masa mendatang.
(*)








Komentar