Harga Bitcoin Anjlok ke US$66.800, Pasar Kripto Kehilangan Rp2.800 Triliun di Awal Juni

Konflik Iran-AS, arus keluar ETF Bitcoin Spot, dan kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed menekan harga Bitcoin lebih dari 9 persen sejak awal Juni.

JURANEWS.ID, JAKARTA – Pasar aset kripto mengalami tekanan hebat pada awal Juni 2026. Harga Bitcoin (BTC) tercatat anjlok ke level US$66.800 atau sekitar Rp1,19 miliar per koin pada perdagangan Rabu (3/6/2026), turun 6,3 persen dalam 24 jam terakhir dan merosot lebih dari 9 persen sejak awal bulan.

Berdasarkan analisis Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, pelemahan Bitcoin terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan memburuknya sentimen pasar keuangan internasional.

Selain Bitcoin, total kapitalisasi pasar aset kripto global juga turun 5,6 persen menjadi US$2,28 triliun. Sementara dominasi pasar Bitcoin (BTC Dominance) berada di level 58,6 persen.

Konflik Timur Tengah Picu Aksi Jual

Tekanan terhadap pasar kripto dipicu oleh meningkatnya konflik di Timur Tengah. Pemerintah Iran dilaporkan mengklaim bertanggung jawab atas peluncuran rudal yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait.

Aksi tersebut disebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran kedaulatan Iran di Pulau Qeshm dan memicu kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.

Sentimen risk-off pun melanda pasar global, mendorong investor keluar dari aset berisiko termasuk aset kripto.

Akibatnya, Bitcoin jatuh ke area US$66.800 dan memicu gelombang likuidasi besar-besaran di pasar derivatif kripto.

Likuidasi Capai US$1,5 Miliar

Data pasar menunjukkan kejatuhan harga Bitcoin telah memicu likuidasi posisi perdagangan senilai sekitar US$1,5 miliar dalam waktu singkat.

Selain itu, nilai kapitalisasi pasar kripto global menyusut hingga US$176 miliar atau sekitar Rp2.800 triliun.

Tekanan jual juga diperparah oleh arus keluar dana dari ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat. Dalam 10 hari perdagangan terakhir, produk investasi tersebut mencatat net outflow sebesar US$2,1 miliar.

Angka tersebut menjadi salah satu rentetan penarikan dana terbesar sejak ETF Bitcoin Spot pertama kali diluncurkan.

Kekhawatiran Kebijakan The Fed

Dari sisi makroekonomi, pelaku pasar juga mencermati dimulainya rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Kekhawatiran muncul setelah probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 meningkat hingga 23 persen.

Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat tersebut membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko.

Sentimen negatif ini turut menekan saham-saham yang terkait dengan industri kripto. Saham Strategy dilaporkan turun sekitar 9 persen setelah melakukan penjualan sebagian kepemilikan Bitcoin. Sementara saham Coinbase terkoreksi 5 persen dan Circle melemah 4 persen.

Altcoin Tetap Tunjukkan Perkembangan Positif

Meski pasar secara umum melemah, sejumlah proyek aset digital masih mencatat perkembangan positif.

Avalanche (AVAX) mengalami lonjakan aktivitas jaringan hingga 761 persen setelah FIFA meluncurkan koleksi digital Right-to-Ticket (RTT) untuk Piala Dunia 2026 di blockchain Avalanche.

Sementara itu, ekosistem Stellar (XLM) mendapat dorongan setelah perusahaan remitansi global MoneyGram memperkenalkan stablecoin MGUSD untuk memfasilitasi transaksi dolar lintas negara.

Kabar positif juga datang dari Hyperliquid (HYPE). Analis ETF Bloomberg, James Seyffart, memproyeksikan kemungkinan peluncuran ETF berbasis Hyperliquid oleh Grayscale dalam waktu dekat di Amerika Serikat.

Optimisme tersebut muncul setelah Grayscale memperbarui dokumen pengajuan ETF dengan menambahkan rincian ticker dan biaya pengelolaan kepada regulator.

Proyeksi Bitcoin dan Ethereum Hari Ini

Ajaib memperkirakan harga Bitcoin pada perdagangan hari ini berpotensi bergerak di rentang US$65.000 hingga US$68.000.

Sementara Ethereum diproyeksikan bergerak pada kisaran US$1.800 hingga US$2.000.

Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, investor disarankan tetap memperhatikan manajemen risiko serta perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan moneter global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar kripto dalam jangka pendek.

(*)

Komentar