Inovasi Organic Coastal Defence (OCD) untuk Atasi Abrasi Pantai Tlare Jepara

Organic Coastal Defence (OCD) di kawasan Tanggul Tlare, Kabupaten Jepara.

JURANEWS.ID, JEPARA – Fenomena abrasi pantai yang kian mengkhawatirkan di wilayah pesisir Jawa Tengah mendorong munculnya berbagai terobosan dalam upaya konservasi lingkungan.

Salah satu inovasi terbaru hadir dari tim akademisi Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (UNDIP), yang merancang teknologi Organic Coastal Defence (OCD) di kawasan Tanggul Tlare, Kabupaten Jepara.

Inovasi ini lahir sebagai jawaban atas kegagalan upaya penanaman mangrove yang selama ini sering rusak akibat terjangan gelombang laut. Padahal, mangrove merupakan benteng alami yang berfungsi menahan abrasi sekaligus menjaga ekosistem pesisir.

Tim peneliti yang diketuai oleh Sigit Febrianto, S.Kel., M.Si bersama Dr. Ir. Haeruddin, M.Si dan Oktavianto Ekojati, S.Pi., M.Si tersebut berinisiatif merancang konstruksi penanaman mangrove yang lebih adaptif dan tahan terhadap hempasan ombak.

Mereka menggunakan bahan utama berupa bambu yang ramah lingkungan dan mudah didapatkan di sekitar lokasi.

Sigit Febrianto menjelaskan, bangunan OCD ini terdiri atas dua bagian utama, yaitu pemecah gelombang yang ditempatkan di bagian depan, serta perangkap sedimen yang berfungsi menahan material pasir dan lumpur.

Sedimen inilah yang nantinya dimanfaatkan sebagai media tumbuh bagi propagul atau bibit mangrove.

Secara teknis, panjang bangunan OCD mencapai 50 meter dengan luas area perangkap sedimen sekitar 250 meter persegi.

Lahan inilah yang kemudian digunakan untuk penanaman mangrove.

“Dengan desain tersebut, bangunan bambu mampu mengumpulkan sedimen hingga ketinggian 30–50 cm, sebuah kondisi yang sangat mendukung pertumbuhan akar mangrove muda,” ujarnya, Kamis (25/9).

Keberadaan pemecah gelombang di bagian depan membuat propagul mangrove terlindungi dari terpaan arus laut langsung.

Sementara itu, akumulasi sedimen yang terjadi di bagian dalam secara perlahan membentuk substrat baru yang lebih stabil untuk mendukung pertumbuhan vegetasi pesisir.

Menurut tim peneliti, kelebihan OCD dibandingkan metode penanaman konvensional adalah pada kemampuannya menciptakan ekosistem buatan yang menyerupai habitat alami.

Dengan adanya trap sedimen, mangrove yang ditanam tidak mudah tergerus, bahkan memiliki peluang tumbuh lebih kuat dan cepat.

Program inovatif ini diharapkan menjadi kontribusi nyata UNDIP dalam memperkuat strategi konservasi pesisir berbasis teknologi ramah lingkungan.

Selain itu, langkah ini juga mendukung program prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yakni Mageri Segoro, sebuah gerakan pemulihan ekosistem mangrove di wilayah pesisir.

Sigit Febrianto menambahkan, kehadiran OCD di Pantai Tlare tidak hanya berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat setempat untuk kembali memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai sumber ekonomi berkelanjutan, seperti ekowisata, perikanan, dan budidaya kepiting bakau.

Dengan inovasi ini, diharapkan upaya konservasi tidak lagi hanya sekadar penanaman mangrove yang kerap gagal, tetapi benar-benar mampu membangun pertahanan pesisir secara alami dan berkelanjutan.

“OCD menjadi bukti bahwa kearifan lokal, sains, dan teknologi dapat berpadu untuk menyelamatkan lingkungan pesisir dari ancaman abrasi,” pungkasnya.

(*)

Komentar