JAKARTA, JURANEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode Kamis (24/9/2026) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (25/9/2026) pukul 07.00 WIB.
Laporan BNPB mencatat kejadian berupa cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kebakaran di fasilitas pengelolaan sampah.
Kondisi kering, suhu udara yang tinggi, angin kencang dan keterbatasan sumber air menjadi sejumlah faktor yang meningkatkan risiko penyebaran kebakaran di beberapa wilayah.
Salah satu kejadian dengan luasan cukup besar terjadi di Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Kebakaran yang berlangsung sejak Selasa (22/9) dilaporkan telah berdampak pada sekitar 600 hektare lahan.
Penanganan di lapangan menghadapi sejumlah kendala, terutama akses menuju lokasi yang sulit, keterbatasan sumber air serta jarak titik api yang cukup jauh dari sumber air.
Tim gabungan melakukan pemadaman menggunakan peralatan tangan dan jet shooter. Penanganan kemudian diperkuat menggunakan pompa portabel dan jet shooter, termasuk pemadaman tidak langsung melalui pembuatan ilaran api.
Karhutla juga terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Kebakaran mulai terjadi pada Selasa (22/9) dan membakar vegetasi berupa rumput serta pohon pinus.
Berdasarkan pemantauan menggunakan drone Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), luas kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merapi yang terbakar selama periode 22-24 September mencapai sekitar 59,5 hektare.
Sebagian besar area telah berhasil dipadamkan hingga Kamis (24/9) malam. Meski demikian, tim gabungan masih melakukan pemantauan dan patroli karena masih ditemukan bara di sejumlah lokasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak muncul titik api baru.
Di Jawa Timur, BNPB melaporkan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ponorogo, Kota Malang dan Kabupaten Bojonegoro.
Di Ponorogo, kebakaran terjadi di Desa Tanjungsari pada Rabu (23/9) malam dan kemudian merambat ke lahan tebu di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan.
Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 7 hektare. Api telah berhasil dipadamkan.
Sementara di Kota Malang, kebakaran terjadi di kawasan hutan produksi jenis pinus di Desa Gunung Sari, Kecamatan Bumiaji, dengan luas sekitar 2,29 hektare.
Kebakaran diduga berasal dari sisa pembakaran serasah yang ditinggalkan tanpa pengawasan. Namun, penyebab kejadian masih dalam proses penyelidikan.
Di Kabupaten Bojonegoro, kebakaran lahan dan rumpun bambu terjadi di wilayah Kecamatan Bojonegoro pada Rabu (23/9) sekitar pukul 09.00 WIB.
Kebakaran berdampak pada sekitar 1 hektare lahan. BPBD bersama Damkarmat melakukan asesmen, koordinasi dan pemadaman hingga api berhasil dikendalikan.
Sragen: 3 Hektare Lahan Jati Terbakar
Kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada Kamis (24/9).
Peristiwa terjadi di Desa Sambiduwur, Kecamatan Tanon. Api awalnya membakar rumpun bambu sebelum kemudian merambat ke lahan jati.
Berdasarkan laporan lapangan, kejadian tersebut dipicu aktivitas pembakaran sampah.
Sekitar 3 hektare lahan jati dan lima rumpun bambu dilaporkan terbakar.
BPBD dan Damkar Kabupaten Sragen melakukan asesmen serta penanganan. Petugas juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait pencegahan karhutla.
Api kemudian berhasil dipadamkan.
Selain karhutla, kebakaran juga kembali terjadi di TPA Putri Cempo, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Kebakaran terjadi pada Kamis (24/9) sekitar pukul 11.32 WIB dan melanda tumpukan sampah di Blok B, C dan D1.
Total area yang terbakar diperkirakan mencapai 1,36 hektare.
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Tim gabungan melakukan pemadaman sekaligus menyuplai air ke lokasi.
Dinas Kesehatan Kota Surakarta juga membuka pos kesehatan dan membagikan masker kepada masyarakat sekitar.
Penanganan melibatkan petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri dan unsur terkait lainnya.
Kondisi di lokasi turut dipengaruhi suhu udara yang mencapai 36 derajat Celsius serta angin yang cukup kencang.
Di Sulawesi Utara, karhutla terjadi di Kabupaten Minahasa dan Kabupaten Minahasa Utara.
Di Kabupaten Minahasa, kebakaran terjadi di Kelurahan Kinali, Kecamatan Kawangkoan, Kamis (24/9) sekitar pukul 18.30 WITA.
Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 2 hektare. Api berhasil dipadamkan setelah BPBD berkoordinasi dengan Damkar dan unsur terkait.
Laporan awal menyebut kebakaran diduga berasal dari aktivitas pembakaran sampah. Namun, informasi tersebut masih berupa dugaan sementara.
Sementara di Kabupaten Minahasa Utara, kebakaran terjadi di kawasan kaki Gunung Klabat, Desa Klabat, Kecamatan Airmadidi.
Berdasarkan pendataan, kebakaran telah berdampak pada sekitar 280 hektare lahan.
Angin kencang disebut turut memicu penyebaran api. Penanganan dilakukan secara gabungan oleh BPBD, TNI, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, KPH, relawan serta masyarakat.
Sejumlah titik api berhasil dilokalisir dan proses pemadaman masih diperkuat di lapangan.
Karhutla juga terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Di Kota Palopo, kebakaran terjadi di sekitar kawasan Battang dan Battang Barat, Kecamatan Wara Barat.
Terdapat tiga titik api yang kemudian merambat ke vegetasi pakis hutan dan membakar sekitar 5 hektare lahan.
Api berhasil dipadamkan pada Kamis (24/9).
Di Kabupaten Pinrang, kebakaran lahan terjadi di Desa Padang Loang, Kecamatan Patampanua, Kamis (24/9) sekitar pukul 17.15 WITA.
Luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 10 hektare. Api telah berhasil dipadamkan setelah dilakukan penanganan oleh BPBD bersama unsur terkait.
Sementara di Kabupaten Sidenreng Rappang, kebakaran terjadi di Desa Mainungan, Desa Mattirotasi dan Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang Pulu.
Total lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 10 hektare. BPBD bersama Damkar dan unsur terkait melakukan penanganan hingga api berhasil dipadamkan.
Di Nusa Tenggara Barat, karhutla terjadi di Desa Loloan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 127 hektare.
Hingga Kamis (24/9), masih terdapat satu titik api dengan luasan sekitar 127 hektare.
Proses penanganan menghadapi sejumlah kendala karena lokasi berada cukup jauh dengan waktu tempuh sekitar enam jam dan berada di kawasan tebing.
Kondisi berkabut dan angin kencang juga menjadi kendala bagi petugas di lapangan.
Penanganan akan diperkuat dengan penambahan personel dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni serta petugas Taman Nasional Gunung Rinjani.
Selain kebakaran, BNPB juga mencatat kejadian cuaca ekstrem di Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Angin kencang terjadi pada Kamis (24/9) sekitar pukul 18.06 WIB di Gampong Kayu Beringin dan Gampong Uring, Kecamatan Bukit.
Peristiwa tersebut berdampak pada sekitar 22 kepala keluarga.
Sebanyak dua kepala keluarga mengungsi sementara ke rumah kerabat.
Berdasarkan pendataan, terdapat 4 rumah rusak berat, 4 rumah rusak sedang dan 14 rumah rusak ringan.
BPBD Kabupaten Bener Meriah bersama masyarakat melakukan pembersihan material secara gotong royong sekaligus menyalurkan bantuan masa panik.
BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, terutama di wilayah yang mengalami kondisi kering.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar.
Aktivitas pembakaran yang tidak diawasi dapat dengan cepat merambat ketika vegetasi dalam kondisi kering, terlebih apabila disertai angin kencang.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.
Kesiapsiagaan juga perlu ditingkatkan menghadapi potensi cuaca ekstrem. Masyarakat diimbau memantau informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG serta mengikuti arahan pemerintah daerah.
Saat terjadi angin kencang, masyarakat disarankan menghindari aktivitas di sekitar pohon, papan reklame, bangunan atau benda lain yang berpotensi roboh.
Warga juga diminta mengamankan benda-benda yang mudah terbawa angin serta memastikan saluran air dan lingkungan sekitar rumah dalam kondisi bersih untuk mengantisipasi hujan lebat.
BNPB bersama pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, Manggala Agni, pengelola kawasan, relawan dan masyarakat terus melakukan pemantauan serta penanganan di wilayah terdampak.
Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran dan segera menghubungi aparat atau layanan kebencanaan setempat apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan.
(*)










Komentar