KENDAL, JURANEWS.ID – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal bersiap melakukan ekspansi besar-besaran. Setelah lahan pengembangan tahap pertama seluas sekitar 1.000 hektare hampir seluruhnya terisi, kawasan industri ini akan diperluas sekitar 1.200 hektare untuk mengakomodasi derasnya arus investasi dari dalam maupun luar negeri.
Ekspansi tersebut diharapkan tidak hanya membuka ruang bagi masuknya investor baru, tetapi juga memperkuat ekosistem industri, menciptakan lapangan kerja, serta menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kendal.
Direktur Eksekutif KEK Kendal, Juliani Kusumaningrum, mengatakan perluasan kawasan menjadi langkah strategis mengingat tingginya minat perusahaan untuk berinvestasi di Kendal.
Saat ini, terdapat 143 perusahaan yang telah bergabung di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, 62 perusahaan telah beroperasi, sementara 31 perusahaan masih berada dalam tahap pembangunan fasilitas produksi.
“Kami menargetkan 80 perusahaan sudah beroperasi hingga akhir tahun 2026. Yang kami bangun bukan hanya jumlah perusahaan, tetapi juga ekosistem industri yang saling terintegrasi,” ujar Juliani.
Ia menjelaskan proses serah terima lahan untuk pengembangan tahap kedua telah selesai dilakukan. Dalam waktu dekat, sejumlah perusahaan baru akan mulai membangun fasilitas produksinya di kawasan industri tersebut.
Produsen Pakaian Olahraga Dunia Segera Beroperasi
Juliani mengungkapkan salah satu perusahaan yang akan segera beroperasi merupakan produsen pakaian olahraga terbesar di dunia yang sebelumnya dikenal memiliki investasi besar di Vietnam.
Selain itu, sejumlah investor di sektor otomotif dijadwalkan memulai pembangunan pabrik pada Agustus hingga September 2026. Sementara perusahaan di sektor packaging yang sebelumnya melakukan peletakan batu pertama kini telah memasuki tahap konstruksi.
Masuknya berbagai perusahaan baru diperkirakan semakin memperkuat posisi KEK Kendal sebagai salah satu kawasan industri strategis di Indonesia.
Seiring meningkatnya investasi, Pemerintah Kabupaten Kendal menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen pada tahun 2026.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kendal, Wiwit Andariyono, mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi Kendal pada 2025 mencapai 7,9 persen, melampaui rata-rata Provinsi Jawa Tengah sebesar 5,37 persen maupun nasional yang berada di angka 5,11 persen.
Meski demikian, ia mengakui pertumbuhan tersebut masih didominasi aktivitas ekonomi di Kawasan Industri Kendal.
“Pertumbuhan ekonomi ini masih berpusat di KIK. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami agar manfaatnya bisa dirasakan lebih merata oleh seluruh masyarakat Kendal,” katanya.
Menurut Wiwit, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar target pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat tercapai sekaligus memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperrida) Kendal, Izzudin Latif, mengatakan pemerintah daerah telah membentuk tim percepatan ekonomi lintas sektoral sesuai arahan Kementerian Dalam Negeri.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat realisasi berbagai program pembangunan sekaligus mengawal target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026.
“Ini menjadi tantangan yang harus dijawab melalui kerja sama lintas sektor. Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis target tersebut dapat dicapai,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kendal, Ade Sandi Parwoto, menilai investasi menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Berdasarkan data BPS, struktur ekonomi Kendal saat ini masih didominasi sektor industri manufaktur sebesar 42,03 persen, disusul pertanian sebesar 17,27 persen, perdagangan sebesar 12,04 persen, dan konstruksi sebesar 7,60 persen.
Di sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan kontribusi 56,49 persen, sementara Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencapai 30,18 persen, yang menunjukkan tingginya aktivitas investasi dan pembangunan fisik di Kabupaten Kendal.
Ade menilai target pertumbuhan ekonomi 8 persen sangat mungkin dicapai apabila pemerintah mampu menjaga iklim investasi tetap kondusif, meningkatkan daya beli masyarakat, memperluas penyerapan tenaga kerja, memperkuat UMKM, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dengan ekspansi KEK Kendal dan masuknya berbagai investor baru, Kabupaten Kendal diproyeksikan semakin memperkokoh posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri dan investasi terbesar di Jawa Tengah.
(*)










Komentar