KIW Tingkatkan Kapasitas Produksi dan WTP Recycle, Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Pengembangan Kawasan Industri Dorong Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

JURANEWS.ID, SEMARANG – PT Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) terus memperkuat strategi pengembangan kawasan industri dengan menitikberatkan pada keberlanjutan bisnis dan lingkungan.

 

Direktur Utama KIW, Ahmad Fauzie Nur, menegaskan bahwa pengelolaan kawasan tidak hanya mengandalkan faktor harga, tetapi juga memastikan sustainability atau keberlanjutan usaha para tenant.

 

Menurut Fauzie, letak KIW yang strategis menjadi salah satu daya tarik utama bagi investor. Kawasan ini berada dekat dengan berbagai infrastruktur kunci seperti pelabuhan, bandara, jalan tol Pantura, hingga jalur kereta api, sehingga mendukung kelancaran distribusi dan logistik industri.

 

Memasuki 2026, KIW berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi, termasuk menggandakan bahkan melipatgandakan kapasitas instalasi pengolahan air limbah (waste water treatment plant/WTP). Langkah ini dilakukan untuk menjawab meningkatnya kebutuhan para tenant.

 

“WTP yang kami bangun juga berbasis recycle. Kami benar-benar menerapkan prinsip circular economy atau ekonomi sirkular, di mana keberlanjutan lingkungan menjadi perhatian utama,” ujar Fauzie saat acara ngobrol santai bareng KIW bersama Media dengan tema “Let’s Talk with KIW– Media Hangout” di Gerhana Resto & Cafe, Kota Semarang, Kamis (12/2).

 

Selain itu, Ia menjelaskan, KIW tetap konsisten melakukan land banking sebagai bentuk antisipasi terhadap meningkatnya permintaan investor yang masuk ke kawasan industri tersebut.

 

Sebagai bagian dari holding Danareksa dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), KIW juga berharap dukungan pemerintah semakin kuat, terutama dengan hadirnya Danantara Indonesia sejak 2025. Fauzie optimistis sinergi antar-BUMN akan semakin terorkestrasi dan memperkuat pengembangan kawasan industri.

 

“Kawasan industri adalah motor penggerak ekonomi yang nyata. Di dalamnya ada pusat produksi dan distribusi. Ini sejalan dengan target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen,” jelasnya.

 

Menurutnya, keberadaan kawasan industri memberikan multiplier effect yang besar, mulai dari masuknya investasi hingga dampak ekonomi bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.

 

Dari sisi ketenagakerjaan, Fauzie mengakui adanya perubahan pola industri, terutama dengan meningkatnya penggunaan teknologi tinggi dan mesin canggih yang mengurangi kebutuhan tenaga kerja di beberapa sektor. Namun secara agregat, pertumbuhan industri di KIW justru membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.

 

Saat ini, sekitar 84 perusahaan telah beroperasi penuh di KIW, dengan total tenaga kerja hampir mencapai 39.000 orang dan diperkirakan segera menembus 40.000 pekerja seiring dengan bertambahnya perusahaan yang telah beroperasi secara penuh.

 

“Memang ada satu-dua pabrik yang menerapkan teknologi tinggi sehingga kebutuhan tenaga kerja berkurang. Tetapi secara keseluruhan, industri yang masuk justru menciptakan lapangan kerja baru dalam jumlah besar,” tegasnya.

 

Seiring dengan pengembangan kawasan dan bertambahnya jumlah tenant, KIW juga mulai memikirkan penambahan akses infrastruktur untuk mengantisipasi peningkatan beban lalu lintas di sekitar kawasan.

 

Fauzie menambahkan, pengembangan kawasan industri yang terencana dan berkelanjutan diyakini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung.

 

(*)

Komentar

News Feed