JURANEWS.ID, BATANG — Setelah tiga hari pencarian intensif, nasib tragis menimpa Eko Kudiran (35), pekerja kapal cantrang asal Dukuh Sumur, Desa Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. Korban yang tenggelam saat menyelam memperbaiki kipas kapal di Sungai Sambong akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Jenazah Eko ditemukan di perairan Roban Barat pada Selasa (10/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB oleh nelayan setempat. Mendapati laporan tersebut, tim gabungan langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi.
Jenazah korban tiba di Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD Kabupaten Batang sekitar pukul 18.46 WIB. Suasana di depan ruang pemulasaraan tampak ramai, dipenuhi tim gabungan dari Basarnas, Satpolairud Polres Batang, TNI, BPBD, serta keluarga dan kerabat korban yang sejak awal setia menanti kabar pencarian.
Kepala Satuan Polisi Perairan dan Udara (Kasatpolairud) Polres Batang, Iptu Eko Nugrahanto, menjelaskan kronologi kejadian bermula pada Minggu (8/2/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, pihak kepolisian menerima laporan adanya pekerja kapal yang tenggelam di Sungai Sambong.
“Korban saat itu melakukan servis mesin di bagian bawah kapal. Karena arus di bawah sungai sangat deras, korban kesulitan naik kembali ke permukaan,” ujar Iptu Eko, Selasa (10/2/2026).
Rekan korban sempat berusaha memberikan pertolongan, namun tidak sanggup melawan kuatnya arus sungai. Upaya penyelamatan terhenti setelah korban terseret arus dan menghilang dari pandangan.
Peristiwa nahas tersebut terjadi saat kapal cantrang KM Tunggal Pangestu bersandar di sisi timur SPBN AKR Batang. Kipas kapal diketahui mengalami gangguan, sehingga korban bersama seorang rekan memutuskan melakukan pengecekan menggunakan alat selam tradisional.
“Korban menyelam lebih dulu dan awalnya dalam kondisi normal. Beberapa menit kemudian, saksi menyusul dan melihat korban terjepit di antara baling-baling kapal,” ungkapnya.
Dalam kondisi panik, saksi naik ke atas kapal untuk meminta bantuan kru lainnya. Kemudi kapal sempat diputar agar korban terlepas dari jepitan. Meski berhasil bebas, tubuh Eko justru terseret derasnya arus Sungai Sambong dan kembali tenggelam.
Mendapati laporan tersebut, tim gabungan dari Satpolairud, Basarnas, BPBD, relawan, serta nelayan setempat langsung melakukan pencarian menyusuri aliran Sungai Sambong hingga ke bibir pantai. Namun, derasnya arus dan minimnya jarak pandang air menjadi kendala utama selama proses pencarian.
“Pada hari ketiga pencarian, kami menerima informasi dari nelayan terkait adanya sesosok mayat mengambang di perairan Roban Barat. Informasi itu langsung kami tindak lanjuti,” jelasnya.
Tim gabungan kemudian bergerak menggunakan dua kapal menuju lokasi bersama nelayan. Di titik yang dimaksud, jenazah ditemukan dan segera dievakuasi ke RSUD Batang untuk proses identifikasi.
“Setelah dilakukan identifikasi menggunakan peralatan Inafis, dipastikan bahwa jenazah tersebut adalah Eko Kudiran. Hasilnya dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Iptu Eko.
Pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Setelah seluruh proses di rumah sakit selesai, jenazah korban akan disucikan dan dimakamkan sesuai keputusan keluarga.
“Keluarga telah menerima dan memahami kejadian ini sebagai musibah. Kami juga sudah memberikan penjelasan secara menyeluruh kepada pihak keluarga,” tambahnya.
Tragedi ini menjadi pengingat akan tingginya risiko pekerjaan di sektor kelautan, terutama saat melakukan perbaikan pada bagian vital kapal tanpa perlengkapan keselamatan memadai. Pihak kepolisian pun kembali mengimbau agar keselamatan kerja menjadi prioritas utama.
“Jangan memaksakan pekerjaan tanpa alat dan pengamanan yang sesuai. Risiko di lapangan sangat besar,” tutupnya.
Sepanjang awal tahun 2026, tercatat sudah dua nelayan di Kabupaten Batang meninggal dunia akibat kecelakaan laut dan terseret ombak, yang dipicu oleh cuaca ekstrem.
(*)















Komentar