JURANEWS.ID. PEMALANG — Yayasan Masyarakat Peduli dan Pendamping Penyandang Disabilitas Intelektual (MP3DI) kembali menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan kelompok disabilitas melalui pelatihan keterampilan produktif.
Kegiatan bertema “Memacu Kreativitas, Mewujudkan Kemandirian” ini dijadwalkan berlangsung pada 1–3 November 2025 di Sekretariat MP3DI, Jalan Kerinci No. 52, Wanarejan Selatan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang.
Pelatihan ini dirancang untuk memberikan bekal keterampilan praktis bagi penyandang disabilitas intelektual agar mampu mandiri secara ekonomi.
Tiga jenis keterampilan yang dilatih adalah pembuatan karak, kased, dan telur asin—produk yang memiliki potensi pasar luas dengan proses produksi sederhana.
Ketua Pembina Yayasan MP3DI, Untung Budiarso, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas, kepercayaan diri, serta peluang usaha bagi penyandang disabilitas.
“Kami ingin mereka bukan hanya mampu membuat produk, tapi juga berani berwirausaha,” ujarnya.
Sebanyak 50 peserta disabilitas intelektual ringan hingga sedang akan mengikuti pelatihan ini. Mereka dipilih berdasarkan minat belajar, dukungan keluarga, serta kesediaan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Setiap kelompok kecil akan didampingi satu fasilitator agar proses belajar berlangsung efektif dan inklusif.
Pelatihan disusun dalam format hands-on training, atau praktik langsung, yang diselingi dengan teori singkat. Para peserta akan mendapatkan pengenalan kewirausahaan sederhana, pemahaman tentang kebersihan pangan, serta praktik produksi tiga jenis olahan.
Pada hari pertama, peserta akan mendapatkan sesi motivasi bertajuk “Kita Bisa Berkreasi dan Berprestasi” serta praktik pembuatan karak. Hari kedua difokuskan pada pembuatan kased dan telur asin, sementara hari ketiga digunakan untuk evaluasi hasil praktik dan penutupan kegiatan.
Ketua Yayasan MP3DI, Djameker, menyampaikan bahwa pelatihan ini tidak hanya menitikberatkan pada keterampilan teknis, tetapi juga membangun semangat kemandirian dan rasa percaya diri.
“Tujuan akhirnya adalah terbentuknya kelompok usaha produktif yang bisa berkelanjutan,” katanya.
Ia menargetkan minimal dua kelompok usaha baru terbentuk setelah pelatihan usai. Setiap kelompok diharapkan dapat mengembangkan produksi rumah tangga yang bernilai jual tinggi, sehingga mampu menambah pendapatan keluarga.
Selain pelatihan, kegiatan ini juga akan dievaluasi melalui berbagai metode, termasuk observasi praktik, pre-test dan post-test sederhana, serta kuesioner kepuasan peserta. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana peningkatan kemampuan dan efektivitas pelatihan.
Ditegaskan bahwa proses monitoring akan dilakukan setiap hari selama pelatihan agar kegiatan berjalan sesuai rencana. “Kami memastikan semua peserta mendapat kesempatan yang sama untuk belajar dan berpartisipasi aktif,” imbuhnya.
MP3DI berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi lembaga dan masyarakat untuk terus mendukung pemberdayaan penyandang disabilitas.
Kolaborasi antar pihak, terutama pemerintah daerah dan pelaku usaha, dinilai penting untuk membuka ruang partisipasi ekonomi yang lebih luas.
Dengan semangat inklusivitas dan keberlanjutan, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kemandirian penyandang disabilitas intelektual di Pemalang dan sekitarnya.
Dukungan semua pihak menjadi kunci agar program serupa dapat terus tumbuh dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
(*)











Komentar