JURANEWS.ID, BATANG — Hamparan pasir di kawasan Pantai Jodo tampak lebih bersih dari biasanya setelah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah Kabupaten Batang menggelar aksi bersih pantai.
Kegiatan yang digelar pada Selasa ini merupakan bagian dari gerakan besar menuju target zero sampah pada 2029, sekaligus menjadi simbol komitmen bersama dalam menekan persoalan sampah dan membangun kesadaran kolektif masyarakat menjaga lingkungan pesisir.
Bupati Batang, M Faiz Kurniawan, menyebut gerakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang diterjemahkan di tingkat provinsi melalui program Jateng Asri.
“Ini yang digagas oleh Bapak Presiden dan diturunkan oleh Bapak Gubernur dalam bentuk Jateng Asri. Di Kabupaten Batang sendiri, kami akan menyelenggarakan kegiatan dari hulu sampai hilir untuk menciptakan kawasan yang bersih,” katanya.
Menurut Faiz, upaya penanganan sampah diawali dengan penguatan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi dan gerakan rutin bersih-bersih setiap Jumat pagi. Kegiatan yang selama ini digerakkan oleh OPD akan dimasifkan hingga tingkat kecamatan dan desa.
“Khususnya menjelang Idul Fitri, akan kita tingkatkan lagi dan kita lakukan rutin setiap Jumat pagi. Harapannya ini menjadi budaya,” ucapnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Lutfi, menegaskan bahwa penanganan sampah tidak cukup hanya dengan penandatanganan kerja sama atau memorandum of understanding (MoU). Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, baru 16 daerah yang menandatangani MoU pengelolaan sampah.
“Jangan hanya sebatas MoU, tetapi harus ada action plan. Besok saya akan rapat dengan Menko, jadi saya minta para bupati dan wali kota segera memberikan data terkait sampah untuk kita bawa ke Jakarta,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, produksi sampah di Provinsi Jawa Tengah mencapai sekitar 6,36 juta ton per tahun. Namun, baru sekitar 60 persen yang dapat diproses, sementara sisanya belum tertangani secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah pusat yang menargetkan Indonesia mencapai kondisi zero sampah pada 2029.
Lutfi juga menekankan bahwa Gerakan Jateng Asri bukan sekadar seremoni, melainkan gerakan edukatif yang harus menumbuhkan kepedulian masyarakat.
“Kegiatan ini harus menjadi budaya bersama. Sampah adalah persoalan yang harus kita selesaikan bersama-sama,” ujarnya.
Selain pengelolaan sampah, Pemprov Jateng juga mendorong program penghijauan di wilayah pesisir melalui penanaman mangrove.
Hal ini penting mengingat sekitar 920 kilometer garis pantai di Jawa Tengah terdampak rob. Kabupaten/kota pesisir diminta kembali menggalakkan penanaman mangrove dengan target hingga dua juta pohon.
Upaya penanaman mangrove dinilai tidak hanya menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga menjadi langkah mitigasi bencana sekaligus mendukung pengendalian sampah di kawasan pantai.
Melalui aksi nyata seperti di Pantai Jodo, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap gerakan bersih lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi kebiasaan kolektif yang mengakar di tengah masyarakat.
Target zero sampah 2029 pun diharapkan benar-benar terwujud melalui kolaborasi semua pihak.
(*)








Komentar