JURANEWS.ID, DONGGALA – Kecamatan Pinembani di Kabupaten Donggala mulai dikaji sebagai salah satu calon kawasan transmigrasi baru. Kajian ini dilakukan oleh Tim 2 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP), dalam rangka program pengembangan kawasan berbasis potensi lokal yang digagas Kementerian Transmigrasi.
Fokus utama program ini adalah menyusun desain pengembangan komoditas unggulan daerah, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan.
Sebelum tiba di Pinembani, tim ekspedisi lebih dulu melaksanakan kegiatan pendampingan di Kecamatan Rio Pakava selama sekitar 45 hari.
Kegiatan di wilayah tersebut meliputi pemetaan potensi wilayah dan komoditas, FGD bersama pemangku kepentingan, serta pengambilan sampel tanah untuk analisis kesesuaian lahan.
Langkah ini menjadi dasar penting bagi perencanaan kawasan transmigrasi yang berbasis data dan kebutuhan masyarakat.
Setibanya di Pinembani, tim disambut secara resmi oleh Camat Pinembani, Sukmawati, bersama perangkat kecamatan dan tokoh adat setempat.
Penyambutan tersebut menandakan dukungan masyarakat terhadap rencana pengembangan kawasan transmigrasi di wilayah mereka.
“Wilayah Pinembani memiliki potensi pertanian dan perkebunan untuk dikembangkan, namun masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar,” ujar Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si., Ketua Tim 2 Ekspedisi Patriot Kabupaten Donggala.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Pinembani tercatat sebagai salah satu sentra kakao terbesar di Kabupaten Donggala dengan produksi mencapai sekitar 10 ribu kwintal per tahun.
Dalam lima tahun terakhir, tren produksi kakao terus meningkat, menunjukkan potensi besar sektor perkebunan untuk mendorong ekonomi lokal.
Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perkebunan tersebut.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap optimal karena terbatasnya infrastruktur dasar, terutama akses jalan.
Jalur utama dari Pinembani menuju Kota Palu masih berupa tanah dan bebatuan, membuat biaya transportasi hasil panen melonjak tajam.
“Hasil panennya ada, tapi keluar ke kota saja sudah habis buat ongkos,” keluh salah satu petani kakao di Pinembani.
Kondisi jalan yang sulit dilalui juga berdampak pada pasokan sarana produksi pertanian. Pupuk bersubsidi kerap sulit diperoleh karena distributor enggan menanggung biaya logistik tinggi menuju wilayah tersebut.
“Untuk transport ke Pinembani saja sudah mahal, jadi pengecer enggan menyalurkan di sini,” ujar Ahmad Affandi, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Pinembani.
Menurut Tim Ekspedisi Patriot, Pinembani memiliki prospek besar menjadi kawasan pertanian produktif dan berdaya saing, asalkan hambatan mendasar seperti akses jalan dan distribusi dapat segera diatasi.
Mereka menilai, dukungan pemerintah sangat diperlukan agar program transmigrasi tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi juga diikuti pembangunan infrastruktur pendukung yang memadai.
Upaya pengembangan kawasan transmigrasi di Pinembani dinilai sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pengentasan kemiskinan, peningkatan ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur wilayah terpencil, serta pengurangan kesenjangan antarwilayah.
Dengan intervensi yang tepat, Pinembani berpotensi tumbuh menjadi kawasan transmigrasi berbasis komoditas unggulan kakao yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan di Kabupaten Donggala.
(*)










Komentar