JURANEWS.ID, Semarang – Prof. Dr. Ir. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., Guru Besar Teknik Kimia UNDIP, menjadi salah satu ilmuwan yang masuk dalam jajaran 2% peneliti paling berpengaruh di dunia tahun 2024-2025.
Risetnya tentang pangan fungsional dan bahan biomedik dari sumber hayati Indonesia menawarkan pendekatan ilmiah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Sejak bergabung di UNDIP pada tahun 1998, Prof. Andri unggul dalam pemrosesan hasil pertanian, teknologi pengolahan limbah industri, dan pemodelan sistem teknik kimia.
Risetnya berfokus pada pemanfaatan bahan alam tropis Indonesia untuk menciptakan pangan fungsional dan biomaterial yang ramah lingkungan.
Prof. Andri menceritakan pengalamannya meraih beasiswa di University of Malaya, Malaysia, di mana ia mempelajari teknologi ekstraksi fluida superkritis dan meneliti senyawa bioaktif daun sambiloto.
Sepulangnya ke Indonesia, ia mengembangkan riset pangan fungsional yang tidak hanya bergizi tetapi juga memiliki kandungan bioaktif yang mendukung kesehatan.
Penelitiannya menjadi rujukan bagi komunitas ilmiah internasional dan memperkuat posisi UNDIP sebagai pusat keunggulan dalam riset pangan berbasis hayati.
Riset ini sejalan dengan SDG’s poin 2 (Zero Hunger), 3 (Good Health and Well-being), dan 12 (Responsible Consumption and Production).
Produk inovasi yang dikembangkan tim di Institute of Food and Remedial Biomaterial (INFARMA) antara lain minuman serbuk vitamin alami dari jambu mete, es krim dengan kandungan herbal antioksidan, kopi rendah kafein dari biji salak, dan pemanfaatan biji rambutan sebagai alternatif bahan cokelat.
Inovasi ini mendukung SDG’s poin 13 (Climate Action) dan 15 (Life on Land) melalui pendekatan Zero Waste.
Selain pangan, Prof. Andri juga mengembangkan benang medis berbasis glukomanan dari porang dan rumput laut.
Riset ini mendukung SDG’s poin 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) serta 12 (Sustainable Production).
Prof. Andri menekankan pentingnya transfer teknologi agar hasil riset kampus dapat diimplementasikan dalam produksi pangan lokal yang memenuhi standar kesehatan, halal, dan ramah lingkungan.
Prinsip ini sejalan dengan SDG’s poin 8 (Decent Work and Economic Growth) dan 17 (Partnerships for the Goals).
Dalam pandangannya, masa depan riset pangan dan biomedik berbasis sumber alam Indonesia akan berfokus pada kemandirian bahan baku dan ketahanan gizi nasional.
(*)














Komentar