PAPUA, JURANEWS.ID – Keterbatasan infrastruktur dan belum tersedianya akses listrik tidak menyurutkan semangat warga Kampung Usku, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, untuk meningkatkan kemandirian pangan. Melalui pelatihan pertanian berkelanjutan, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) mendorong masyarakat mengembangkan pola pertanian yang lebih produktif dan bernilai ekonomi.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Kampung Usku pada 17 September 2026 tersebut menyasar masyarakat Orang Asli Papua (OAP), yang sebagian besar menggantungkan kehidupan pada pertanian subsisten atau pertanian untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Selama ini, sebagian warga masih menerapkan pola pertanian berpindah-pindah atau shifting cultivation. Ketika kesuburan tanah menurun, mereka cenderung membuka lahan baru untuk melanjutkan kegiatan bercocok tanam.
Pola tersebut membutuhkan tenaga dan waktu lebih besar, sementara hasil panen umumnya masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga petani di Kampung Usku.
Kepala Kampung Usku, Albert, menilai peningkatan pengetahuan menjadi salah satu langkah penting untuk mendorong perubahan pola pertanian masyarakat.
Menurutnya, minat warga untuk bertani dan berkebun sebenarnya sudah tinggi. Namun, pemanfaatan lahan secara berkelanjutan masih membutuhkan pendampingan dan pemahaman mengenai teknik budidaya yang tepat.
Ia berharap pelatihan yang diberikan TEP UNDIP dapat membuka wawasan masyarakat agar mampu mengoptimalkan lahan yang tersedia tanpa harus terus berpindah tempat.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, TEP UNDIP menghadirkan pakar agronomi, Prof. Yunus Musa, sebagai pemateri utama. Selama tiga jam, sebanyak 30 peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemeliharaan kesuburan tanah, teknik penanaman presisi, pengolahan tanah masam, serta pemilihan varietas unggul tanaman pangan dan hortikultura.
Materi tersebut diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mengurangi risiko penurunan kesuburan tanah akibat praktik budidaya yang kurang tepat.
Pelatihan pertanian berkelanjutan ini juga membuka ruang bagi pemberdayaan perempuan di Kampung Usku. Salah satu peserta yang menjadi inspirasi adalah Mama Orpa, petani lokal yang telah mencoba membudidayakan semangka, mentimun, dan berbagai jenis sayuran.
Pengalamannya menunjukkan bahwa kegiatan pertanian dapat menjadi peluang untuk memperkuat ekonomi keluarga, termasuk melalui pemanfaatan pekarangan dan kebun rumah.
Mama Orpa mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai teknik pemupukan yang selama ini belum sepenuhnya dipahaminya.
Ia sebelumnya menggunakan pupuk dengan cara menaburkannya secara langsung. Setelah mengikuti pelatihan, ia memahami bahwa pemberian pupuk membutuhkan teknik yang tepat agar nutrisi dapat dimanfaatkan tanaman secara optimal dan tidak justru menimbulkan dampak negatif.
Pengetahuan tersebut diharapkan dapat mendorong Mama Orpa dan petani perempuan lainnya untuk mengembangkan usaha pertanian yang lebih produktif.
Warga Praktik Menanam Jagung dan Sayuran
Antusiasme masyarakat selama pelatihan mendapat apresiasi dari Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Distrik Senggi, Yan Piter Ulop.
Menurut Yan Piter, warga mengikuti pemaparan materi dengan aktif, termasuk mencatat dan memperhatikan penjelasan yang disampaikan pemateri.
Kegiatan tersebut juga melibatkan jajaran Polsek Senggi dan personel Yonif TP 815 Senggi. Setelah sesi teori, peserta melanjutkan kegiatan dengan praktik penanaman benih jagung dan sayuran.
Praktik lapangan ini menjadi bagian penting untuk membantu masyarakat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan pertanian sehari-hari.
Ke depan, penerapan prinsip Good Agricultural Practices (GAP) atau praktik pertanian yang baik diharapkan mampu meningkatkan hasil panen warga. Dengan produktivitas yang lebih baik, hasil pertanian tidak hanya digunakan untuk konsumsi keluarga, tetapi juga berpotensi menghasilkan surplus untuk dipasarkan di pusat Distrik Senggi.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNDIP, Prof. Dr.-Ing. Suherman, S.T., M.T., menegaskan bahwa Ekspedisi Patriot merupakan bentuk pengabdian perguruan tinggi yang berupaya menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
Menurutnya, pengetahuan, inovasi, dan hasil riset perguruan tinggi perlu memberikan manfaat nyata, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi masyarakat, serta membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal.
Program di Kampung Usku ini juga sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Kontribusinya mencakup upaya pengurangan kemiskinan melalui penguatan ekonomi keluarga, peningkatan ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, serta pemerataan akses terhadap pengetahuan dan teknologi.
Melalui pendampingan tersebut, TEP UNDIP berharap masyarakat Kampung Usku dapat mengembangkan pertanian yang lebih berkelanjutan, meningkatkan produktivitas lahan, dan memperkuat kemandirian pangan meskipun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur di wilayah pedalaman Papua.
(*)














Komentar