JURANEWS.ID, SEMARANG – Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali mencatat prestasi di dunia kesehatan Indonesia.
Tim Bedah Anak RSND berhasil melakukan Video-Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS) untuk menangani atresia esofagus pada bayi, sebuah tindakan bedah minimal invasif yang menjadi prosedur pertama yang dilakukan oleh tim bedah anak RSND di Indonesia.
Operasi tersebut dilaksanakan pada 26 Juni 2026 dan dipimpin oleh Dr. dr. Agung Aji Prasetyo, M.Si.Med., Sp.BA, bersama tim multidisiplin yang terdiri atas dokter bedah anak, dokter anestesi pediatrik, serta konsultan neonatologi anak.
Keberhasilan ini menjadi langkah penting dalam pengembangan layanan bedah anak berbasis teknologi minimal invasif untuk menangani kelainan bawaan yang kompleks pada bayi.
Dr. Agung menjelaskan, atresia esofagus merupakan kelainan bawaan langka yang menyebabkan saluran kerongkongan bayi tidak terbentuk secara sempurna sehingga bayi tidak dapat menelan makanan atau ASI dengan normal.
Pada beberapa kasus, bagian bawah kerongkongan juga dapat terhubung dengan saluran napas melalui fistula, sehingga meningkatkan risiko aspirasi atau masuknya cairan ke paru-paru yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius.
“Pada atresia esofagus, bayi tidak dapat menelan dengan normal. ASI atau cairan yang seharusnya masuk ke saluran cerna dapat kembali dan berisiko masuk ke paru-paru. Karena itu, bayi dengan kondisi seperti ini harus segera mendapatkan pertolongan,” ujar Dr. Agung.
Menurutnya, keberhasilan penanganan kasus ini tidak hanya ditentukan oleh tindakan operasi, tetapi juga kesiapan sistem layanan kesehatan secara menyeluruh.
Pasien membutuhkan dukungan Neonatal Intensive Care Unit (NICU), dokter anestesi anak, konsultan neonatologi, tenaga perawat terlatih, hingga koordinasi tim medis sejak sebelum operasi hingga masa pemulihan.
“Operasi atresia esofagus tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja. Ini pekerjaan tim. Dibutuhkan dokter bedah anak, anestesi pediatrik, konsultan neonatologi anak, perawat, serta fasilitas perawatan bayi yang lengkap,” jelasnya.
Selama ini, sebagian besar penanganan atresia esofagus di Indonesia masih menggunakan metode operasi terbuka (open surgery). Meski lebih umum dilakukan, teknik tersebut meninggalkan luka operasi yang lebih besar dan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama.
Melalui metode Video-Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS), tindakan dilakukan menggunakan kamera dan instrumen khusus melalui sayatan kecil. Pendekatan ini memberikan visualisasi organ yang lebih jelas sekaligus meminimalkan kerusakan jaringan.
“Dengan bantuan kamera, struktur anatomi di dalam rongga dada dapat terlihat lebih jelas meskipun ukurannya sangat kecil. Ini membantu kami bekerja lebih presisi, terutama karena lokasi esofagus berada di area yang berdekatan dengan organ vital,” terang Dr. Agung.
Meski menawarkan banyak keunggulan, prosedur VATS memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Operasi membutuhkan operator yang berpengalaman, dukungan anestesi khusus pada bayi, serta fasilitas medis yang lengkap agar tindakan dapat berjalan aman.
Hingga saat ini, RSND UNDIP telah menangani lebih dari 20 kasus atresia esofagus dengan tingkat keberhasilan yang baik. Pengembangan teknik VATS menjadi bagian dari komitmen rumah sakit untuk menghadirkan layanan kesehatan yang mengikuti standar praktik medis internasional.
Pascaoperasi, pasien menjalani perawatan intensif di ruang NICU dengan pemantauan ketat dari tim neonatologi guna memastikan proses pemulihan berlangsung optimal.
RSND UNDIP menegaskan akan terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan memperluas pemanfaatan teknologi bedah minimal invasif agar semakin banyak pasien memperoleh layanan kesehatan yang modern, aman, dan berkualitas.
Keberhasilan ini sekaligus mempertegas peran Universitas Diponegoro melalui RSND sebagai institusi yang terus mendorong inovasi di bidang kedokteran dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
(*)















Komentar