JURANEWS.ID, BANDA ACEH — Bus Trans Koetaradja menjadi bukti nyata bahwa transportasi publik gratis, modern, dan berkelanjutan bisa terwujud di Indonesia.
Layanan ini hadir sebagai solusi mobilitas perkotaan di Banda Aceh dan Aceh Besar dengan fasilitas nyaman, aman, serta bebas biaya bagi seluruh masyarakat.
Diluncurkan pada 2 Mei 2016, Trans Koetaradja awalnya hanya melayani satu koridor utama dari Masjid Raya Baiturrahman – Darussalam dengan 25 unit bus hibah dari Kementerian Perhubungan.
Kini, pada tahun 2025, sistem ini berkembang pesat dengan 59 unit bus (25 bus besar dan 34 bus sedang) yang melayani 6 koridor utama dan 9 rute feeder.
“Trans Koetaradja terus tumbuh sebagai layanan transportasi publik yang terintegrasi, ramah masyarakat, dan berkelanjutan,” ujar T. Rizki Fadhil, S.SiT, M.Si, Sekretaris Dinas Perhubungan Provinsi Aceh (23/09/2025).
Selain rute utama, layanan Trans Campus menjadi favorit mahasiswa Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry. Bus feeder khusus kampus ini memiliki kapasitas 30 penumpang dan melayani hingga 10 ritase per hari.
Ada pula Trans Meudiwana, layanan akhir pekan untuk wisata ke destinasi populer seperti Pantai Lampuuk dan Pelabuhan Ulee Lheue.
Pemerintah Aceh terus menunjukkan komitmennya melalui anggaran APBA.
Dana operasional Trans Koetaradja meningkat dari Rp 1,73 miliar (2016) menjadi Rp 12,65 miliar (2025). Semua biaya operasional ditanggung pemerintah, sehingga masyarakat tetap dapat menikmati transportasi publik gratis setiap hari.
Layanan Trans Koetaradja juga terus dilengkapi dengan halte permanen dan portable, yang pada 2025 jumlahnya mencapai 94 halte permanen dan 87 halte portable, serta 10 shelter utama.
Menurut Djoko Setijowarno, Akademisi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua MTI Pusat, keberhasilan Trans Koetaradja menjadi contoh nyata inovasi transportasi publik di daerah.
“Layanan gratis, kualitas bus yang nyaman, serta jangkauan rute luas menjadikan Trans Koetaradja model transportasi publik yang layak ditiru di kota lain,” ujarnya, Rabu (22/10).
Meski demikian, tantangan seperti keterlambatan akibat kemacetan dan akses halte yang belum merata masih perlu dibenahi.
Pemerintah daerah diharapkan memperluas jalur feeder agar layanan semakin mudah diakses warga dari kawasan pemukiman.
Secara keseluruhan, Trans Koetaradja bukan sekadar moda transportasi — melainkan simbol kemajuan Aceh dalam menyediakan layanan publik yang inklusif, efisien, dan ramah lingkungan.
(*)












Komentar