Transportasi Perintis: Solusi Vital untuk Pemulihan 52 Daerah Terdampak Bencana di Sumatera

Transportasi dan Konektivitas Pasca Bencana

JURANEWS.ID, JAKARTA – Untuk mendukung 52 pemerintah daerah di Sumatera yang terkena dampak bencana alam, diperlukan alokasi segera dari APBN untuk layanan transportasi perintis (orang dan barang).

Layanan ini harus tersedia mulai dari fase darurat, transisi, hingga pemulihan, dengan perbaikan akses jalan dan jembatan sebagai prioritas utama.

Hingga Senin (8/12/2025) pukul 19.00 WIB, data BNPB mencatat dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sangat parah. Sebanyak 961 orang meninggal dunia, 293 hilang, dan lebih dari 5.000 jiwa terluka.

Kerusakan infrastruktur juga masif: lebih dari 157.000 rumah rusak, serta 1.200 fasilitas umum termasuk 199 rumah sakit, 234 sekolah, 425 tempat ibadah, dan 497 jembatan.

Selain itu, ratusan bahkan ribuan kendaraan bermotor hilang tersapu banjir – terutama kendaraan umum yang sangat vital untuk mobilitas, distribusi hasil bumi, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga.

Beruntungnya, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor KP-DRJD 5958 Tahun 2024, ketiga provinsi terdampak telah memiliki basis jaringan transportasi perintis yang mapan. Sebanyak 28 trayek dapat segera diaktifkan dan dioptimalkan untuk mendukung mobilitas pasca bencana.

Rincian Trayek Transportasi Perintis di Tiap Provinsi

Aceh memiliki 12 trayek penting, antara lain Sinabang – Sibigo (188 km), Meulaboh – Teupin Peuraho (108 km), Subulussalam – Longkib (60 km), dan Pidie – Laweung (82 km).

Sumatera Utara memiliki sembilan trayek, termasuk yang melayani Pulau Nias: Gunung Sitoli – Teluk Dalam (226 km), Gunung Sitoli – Lahewa (134 km), serta Sihosar – Kabanjahe (50 km).

Sumatera Barat memiliki tujuh trayek, beberapa melayani daerah terpencil dan kepulauan: Tapan – Painan (270 km), Terminal Simpang Empat – Ujung Gading (100 km), dan Tua Pejat – Sioban di Kepulauan Mentawai (90 km).

Peran Sentral Transportasi Perintis dalam Pemulihan

Transportasi perintis adalah layanan yang dibuka untuk daerah yang belum terjangkau atau tidak menguntungkan secara komersial oleh transportasi reguler. Ketika daerah terdampak bencana, layanan ini berperan sebagai “urat nadi sementara” yang menjaga konektivitas dasar.

Ia mampu menjangkau desa-desa terpencil yang jalur utamanya terputus akibat kerusakan jembatan dan jalan. Untuk stabilitas ekonomi, layanan angkutan barang perintis penting memastikan pasokan barang pokok tetap tersedia dan harga tidak melonjak.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menyarankan penyediaan layanan angkutan umum gratis bagi warga. “Ini akan memulihkan mobilitas untuk bekerja, bersekolah, mengakses pasar, dan mengangkut hasil bumi tanpa beban biaya, mempercepat pemulihan ekonomi lokal,” ujarnya.

Selain itu, bus perintis dapat digunakan sebagai angkutan sekolah sementara atau akses ke fasilitas kesehatan. Layanan yang stabil juga memberikan rasa aman dan normalisasi bagi masyarakat, membantu mengurangi trauma pasca bencana.

Secara keseluruhan, transportasi perintis mencegah daerah terdampak menjadi terisolasi total dan mempercepat proses transisi dari fase darurat ke pemulihan.

(*)

Komentar