JURANEWS.ID, SEMARANG – Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar kuliah umum yang menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Gedung Prof. Sudarto, Kampus UNDIP Tembalang.
Kegiatan ini mengusung tema “Penataan Ruang dan Pembangunan Infrastruktur Adaptif terhadap Bencana” dan menjadi bagian dari dukungan UNDIP terhadap kebijakan nasional serta komitmen pembangunan berkelanjutan dan inklusif.
Acara yang berlangsung bersama ISPASI (Indonesian Spatial Policy & Administration Society) ini dihadiri pejabat pemerintah, akademisi, mahasiswa, dan praktisi tata ruang dari berbagai daerah.
Selain diskusi, momentum ini juga menandai peluncuran rencana International Conference on Spatial Planning and Infrastructure for Sustainable Development 2026 dan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kemenko Infrastruktur dan UNDIP.
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa kuliah umum ini memperkuat kontribusi kampus dalam mendukung pembangunan bangsa.
Ia menegaskan bahwa universitas harus mampu menghasilkan ilmu dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan bencana dan perubahan iklim yang semakin nyata.
Dalam sambutannya, Prof. Suharnomo juga menyinggung teknologi desalinasi air dan solusi energi solar hybrid yang dikembangkan UNDIP, yang telah beroperasi di berbagai wilayah pesisir Jawa Tengah.
Ia menegaskan bahwa inovasi ini penting untuk mengatasi krisis air bersih dan banjir rob yang kerap melanda daerah pesisir, serta mendapat apresiasi dari BNPB yang memesan beberapa unit teknologi tersebut.
Menko AHY dalam paparannya menekankan pentingnya membangun ketahanan nasional melalui penataan ruang dan infrastruktur adaptif.
Ia mengingatkan bahwa bencana banjir dan longsor di berbagai daerah seperti Aceh dan Sumatera Utara menjadi pengingat bahwa mitigasi dan kesiapsiagaan harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan Indonesia.
AHY menyampaikan bahwa lima megatrend global, termasuk ketegangan geopolitik, urbanisasi masif, kelangkaan sumber daya alam, ketimpangan, dan krisis iklim, harus menjadi perhatian utama dalam perencanaan pembangunan nasional.
Ia menegaskan bahwa perubahan iklim dan kenaikan muka air laut bukan lagi ancaman hipotetik, melainkan kenyataan yang harus dihadapi secara serius melalui inovasi teknologi dan kebijakan berbasis bukti.
Selain itu, Menko AHY menyoroti perlunya pembangunan yang hijau, tangguh, dan cerdas, termasuk pemanfaatan mangrove sebagai perlindungan pesisir dan penguatan smart infrastructure berbasis teknologi geospasial, IoT, serta sistem pemantauan risiko. Ia mengajak generasi muda dan mahasiswa UNDIP untuk aktif berpartisipasi dalam agenda pembangunan masa depan yang berkelanjutan.
Acara ditutup dengan ajakan kolaborasi dari Ketua ISPASI, Tiyok Prasetyoadi, yang menekankan pentingnya perencanaan spasial nasional berbasis bukti dan koordinasi yang kuat antar pemangku kepentingan. Ia mengundang seluruh pihak, termasuk UNDIP, untuk aktif berpartisipasi dalam Spatial Infra Conex 2026 di Jakarta sebagai forum diskusi dan kolaborasi lintas sektor.
Melalui kegiatan ini, UNDIP kembali menegaskan posisinya sebagai kampus yang mendorong perubahan dan inovasi dalam menghadapi tantangan lingkungan dan kebencanaan di Indonesia. Semangat “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat” tercermin dari kontribusi nyata dalam riset, teknologi, dan pengabdian masyarakat yang mampu memberi manfaat langsung bagi bangsa dan negara.
(*)








Komentar