KLIK LINK UNTUK MELIHAT VIDEO : https://vt.tiktok.com/ZSbAUXnBt/
SEMARANG, JURANEWS.ID – Geely Auto Indonesia melihat pasar Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk pengembangan kendaraan elektrifikasi maupun mobil bermesin bensin.
Sales and Channel Development Director Geely Auto Indonesia, Costantinius Herlijoso, mengatakan kontribusi pasar Jawa Tengah terhadap penjualan nasional berada di kisaran 4–5 persen.
Menurutnya, karakter konsumen Jawa Tengah saat ini semakin terbuka terhadap kehadiran model kendaraan baru, termasuk kendaraan elektrifikasi yang mulai mendapatkan penerimaan positif.
“Jawa Tengah sekarang sudah sangat terbuka dalam arti untuk penyerapan terhadap model-model baru seperti yang kami miliki sangat positif. Adaptasi terhadap kendaraan elektrifikasi juga sangat positif,” ujar Costantinius, Rabu (30/9).
Costantinius menyebut perkembangan infrastruktur pengisian daya menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik.
Kekhawatiran konsumen mengenai ketersediaan charging station, menurutnya, sudah tidak terlalu mencuat seperti sebelumnya.
“Infrastruktur juga sudah semakin lengkap, sehingga kepercayaan customer untuk menggunakan kendaraan EV sudah jauh lebih baik,” katanya.
Geely pun menyiapkan strategi untuk memperluas penetrasi pasar di Jawa Tengah. Selain menambah jaringan dealer, perusahaan juga berencana memperkuat layanan purnajual atau after sales.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk Geely.
Dari sisi teknologi, Costantinius menyebut salah satu produk Geely memiliki kemampuan menerima daya hingga 70 kW.
Dengan kemampuan tersebut, pengisian baterai dari 20 persen hingga 80 persen disebut dapat dilakukan sekitar 15 menit menggunakan fasilitas fast charging yang sesuai.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu aspek teknologi yang ditawarkan Geely untuk menjawab kebutuhan konsumen kendaraan elektrifikasi.
Meski Tren Mobil Listrik Naik, Geely Tetap Jual Mobil Bensin
Di tengah perkembangan kendaraan listrik, Geely juga masih melihat peluang besar pada pasar mobil berbahan bakar bensin.
Costantinius mengatakan sekitar 70 persen penjualan kendaraan di Indonesia masih berasal dari mobil bensin. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Geely tetap menghadirkan kendaraan bermesin bensin di pasar Indonesia.
“Marketnya masih sangat besar dan tentu saja untuk menjawab kebutuhan beberapa konsumen yang masih belum confidence untuk pakai mobil listrik. Itu salah satu alasan kenapa kami masih menawarkan mobil bensin,” jelasnya.
Geely juga mengandalkan teknologi mesin pembakaran internal yang menurut perusahaan memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar Indonesia.
Untuk produk mobil bensin yang akan diperkenalkan, Geely mengaku tidak memasang target penjualan yang terlalu ambisius.
Perusahaan menyadari pasar mobil bensin di Indonesia telah lama dikuasai sejumlah merek yang memiliki pengalaman dan jaringan kuat.
“Kami optimis dengan penyerapan atas kendaraan ini, tapi tidak terlalu ambisius untuk mengambil target yang cukup besar karena kami tahu bahwa mobil bensin itu sudah didominasi oleh merek-merek yang eksisting dengan pengalamannya,” ungkap Costantinius.
Meski demikian, Geely ingin menawarkan alternatif bagi konsumen melalui kombinasi teknologi dan produk baru yang dapat dibandingkan dengan kendaraan dari merek yang telah lebih dahulu hadir di Indonesia.
Untuk segmen mobil bensin tersebut, Geely membidik konsumen berusia sekitar 30–40 tahun, terutama keluarga kecil dan masyarakat berjiwa muda yang masih menikmati pengalaman mengemudi sendiri.
“Target market adalah orang-orang dengan usia kurang lebih 30–40, keluarga kecil, berjiwa muda dan masih senang untuk mengendarai kendaraan sendiri,” kata Costantinius.
Dengan strategi tersebut, Geely melihat pasar Jawa Tengah tidak hanya menjadi wilayah potensial bagi kendaraan listrik, tetapi juga pasar penting untuk produk mobil bensin yang menyasar keluarga muda.
(*)
















Komentar