KLIK LINK UNTUK MELIHAT VIDEO : https://vt.tiktok.com/ZSUg92Xjc/
JURANEWS.ID, SEMARANG – Sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Semarang menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Senin (20/10).
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa menyuarakan berbagai tuntutan yang mencerminkan keresahan masyarakat terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur di wilayah Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang.
Kordinator lapangan Fahrian menyampaikan bahwa hingga saat ini Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Tengah masih menjadi yang terendah secara nasional.
Hal ini dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan hidup layak di wilayah tersebut. Selain itu, hak-hak buruh disebut masih belum sepenuhnya terpenuhi, menjadi salah satu fokus utama dalam aksi protes kali ini.
“Kami melihat hari ini bahwa Jawa Tengah, khususnya ibukotanya Semarang, UMP-nya masih terendah. Itu yang pertama. Yang kedua, hak-hak buruh masih belum terpenuhi,” ujar mahasiswa unisula tersebut.
Selain isu upah dan buruh, para mahasiswa juga menyoroti buruknya kondisi infrastruktur, khususnya jalan pantura yang berlubang dan sering menyebabkan banjir rob.
Banjir ini kerap menimbulkan kerugian besar, bahkan korban jiwa, namun belum ada penyelesaian konkret dari pihak pemerintah provinsi.
“Jalanan pantura masih berlubang. Akibatnya banjir rob terjadi dan memakan korban jiwa. Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah provinsi, bukan hanya dibebankan ke tingkat nasional,” lanjutnya.
Masalah lain yang turut disorot adalah keberadaan “terminal bayangan” yang dinilai dikuasai oleh preman dan menghambat mobilitas masyarakat antar-kabupaten.
Para mahasiswa menilai belum ada penanganan tegas dari pemerintah terhadap praktik-praktik liar di terminal-terminal tersebut.
“Terminal-terminal bayangan diisi oleh preman. Kawan-kawan dari kabupaten belum bebas bergerak sama sekali karena takut dan tidak aman,” katanya.
Tak hanya itu, persoalan kebersihan dan pengelolaan sampah juga menjadi perhatian. Para mahasiswa menilai armada truk pengangkut sampah di Kota Semarang sudah tidak layak pakai.
Hal ini menyebabkan banyaknya sampah yang berserakan di jalanan karena truk tidak mampu beroperasi dengan baik.
“Truk-truk sampah yang ada sekarang terlihat tidak layak. Sampah malah berserakan di jalanan karena truknya tidak mampu mengangkut dengan baik,” jelasnya.
Sebelumnya, para mahasiswa juga mengaku telah melakukan audiensi dengan Wali Kota Semarang beberapa bulan lalu.
Saat itu, pihak pemerintah kota menyatakan bahwa pengadaan truk baru membutuhkan waktu karena keterbatasan anggaran, namun mahasiswa menilai alasan tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran untuk terus menunda perbaikan layanan publik.
“Pemerintah bilang tidak bisa mengganti satu atau dua truk saja, harus sekalian.
Tapi kalau terus menunggu, sampai kapan masyarakat harus menanggung dampaknya?” ujar Fahrian
Aksi berjalan damai dan para mahasiswa berharap pemerintah provinsi dan kota dapat segera mengambil langkah nyata terhadap berbagai permasalahan yang mereka suarakan.
(*)
Mahasiswa Gelar Aksi di Depan Kantor Gubernur Jateng, Soroti UMP, Infrastruktur, dan Persoalan Buruh
Semarang, – Sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Semarang menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Senin (20/10).
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa menyuarakan berbagai tuntutan yang mencerminkan keresahan masyarakat terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur di wilayah Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang.
Kordinator lapangan Fahrian menyampaikan bahwa hingga saat ini Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Tengah masih menjadi yang terendah secara nasional.
Hal ini dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan hidup layak di wilayah tersebut. Selain itu, hak-hak buruh disebut masih belum sepenuhnya terpenuhi, menjadi salah satu fokus utama dalam aksi protes kali ini.
“Kami melihat hari ini bahwa Jawa Tengah, khususnya ibukotanya Semarang, UMP-nya masih terendah. Itu yang pertama. Yang kedua, hak-hak buruh masih belum terpenuhi,” ujar mahasiswa unisula tersebut.
Selain isu upah dan buruh, para mahasiswa juga menyoroti buruknya kondisi infrastruktur, khususnya jalan pantura yang berlubang dan sering menyebabkan banjir rob. Banjir ini kerap menimbulkan kerugian besar, bahkan korban jiwa, namun belum ada penyelesaian konkret dari pihak pemerintah provinsi.
“Belum ada penyelesaian sama sekali. Kami melihat jalan masih berlubang”
Masalah lain yang turut disorot adalah keberadaan “terminal bayangan” yang dinilai dikuasai oleh preman dan menghambat mobilitas masyarakat antar-kabupaten.
Para mahasiswa menilai belum ada penanganan tegas dari pemerintah terhadap praktik-praktik liar di terminal-terminal tersebut.
“Terminal terminal bayang-bayang yang diisi oleh para-para preman saya rasa belum ditindak-lanjuti sehingga kawan-kawan yang laju dari masing-masing kabupaten mereka belum bebas untuk bergerak sama sekali,” katanya
Tak hanya itu, persoalan kebersihan dan pengelolaan sampah juga menjadi perhatian. Para mahasiswa menilai armada truk pengangkut sampah di Kota Semarang sudah tidak layak pakai.
Hal ini menyebabkan banyaknya sampah yang berserakan di jalanan karena truk tidak mampu beroperasi dengan baik.
Sebelumnya, para mahasiswa juga mengaku telah melakukan audiensi dengan Wali Kota Semarang beberapa bulan lalu.
Saat itu, pihak pemerintah kota menyatakan bahwa pengadaan truk baru membutuhkan waktu karena keterbatasan anggaran, namun mahasiswa menilai alasan tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran untuk terus menunda perbaikan layanan publik.
“Nyatanya truk-truk membawa sampah sampah masih diberserakan di Jalanan karena truk terkesan sudah tidak layak pakai”ujarnya.
Bila tak kunjung dibenahi hal itu menjadikan dampak buruk bagi masyarakat.
“Saya rasa kalau memang menunggu waktu, sampai kapan begitu” imbuhnya
Aksi berjalan damai dan para mahasiswa berharap pemerintah provinsi dan kota dapat segera mengambil langkah nyata terhadap berbagai permasalahan yang mereka suarakan.
(*)















Komentar