KEEROM, JURANEWS.ID – Persoalan sampah di Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, menjadi perhatian Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 9.
Hasil pemetaan yang dilakukan tim menemukan 127 titik pembuangan sampah liar di wilayah Satuan Permukiman (SP) 1 dan SP 2 Kampung Woslay.
Temuan tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar TEP UNDIP Tim 9 pada Minggu (6/9/2026) di Gedung Serbaguna EV. Philipus Yamanda.
Kegiatan tersebut diinisiasi Ketua Tim 9 TEP UNDIP, Dr. Mardwi Rahdriawan, S.T., M.T., bersama tim dan difasilitasi Kepala Distrik Senggi.
FGD dihadiri Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DLHKPP) Kabupaten Keerom Triyani A. Fugu, S.Hut., Kabid Lingkungan Hidup dan TAHURA Imanuel Renjaan, S.Hut., Kepala Distrik Senggi Daud Yunam, serta pakar Universitas Cenderawasih (Uncen) Dr. Himawan.
Tokoh masyarakat, Ketua RT/RW, serta kader kesehatan Kampung Woslay juga turut mengikuti pembahasan.
Plt. Kepala DLHKPP Keerom, Triyani A. Fugu, menyambut baik keterlibatan TEP UNDIP dalam membantu mencari solusi persoalan sampah di Kampung Woslay.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Keerom juga tengah memperkuat layanan pengelolaan sampah.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah penambahan dua unit truk Arm Roll yang datang pada 7 September 2026. Penambahan armada tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pelayanan pengangkutan sampah.
“Saya bersyukur ada Tim dari UNDIP yang fokus menangani masalah sampah ini di Kampung Woslay, Distrik Senggi. Dalam hal ini, Bupati sudah sangat serius menangani masalah sampah di Kabupaten Keerom,” jelas Triyani.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan kearifan lokal dalam mengelola sampah secara mandiri.
Distrik Senggi Siapkan Lahan TPST
Kepala Distrik Senggi, Daud Yunam, menyatakan dukungannya terhadap program pengelolaan sampah yang digagas bersama TEP UNDIP.
Pemerintah distrik telah menyiapkan lahan yang akan digunakan untuk Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di jalur utama dekat Kantor Distrik Senggi.
Namun, Daud berharap program tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah di tingkat kawasan.
Ia mendorong adanya pemberdayaan masyarakat agar pengurangan sampah dapat dimulai dari tingkat rumah tangga.
“Saya berharap, TEP UNDIP Tim 9 dapat melakukan pemberdayaan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga, sehingga warga bisa mengurangi sampah,” ungkap Daud.
Ketua TEP UNDIP Tim 9, Dr. Mardwi Rahdriawan, mengatakan temuan 127 titik sampah liar menunjukkan perlunya sistem pengelolaan yang lebih terstruktur.
Salah satu pendekatan yang didorong adalah pemilahan sampah sejak dari sumbernya, terutama di tingkat rumah tangga.
Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi.
Skema tersebut diharapkan dapat mengurangi volume residu yang berakhir di tempat pembuangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Pakar Universitas Cenderawasih, Dr. Himawan, juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan agar tetap sehat.
Menurutnya, residu plastik masih dapat dimanfaatkan melalui teknologi pengolahan tertentu, termasuk dikonversi menjadi bahan bakar kendaraan bermotor.
Dalam FGD tersebut, warga SP 1 menyampaikan bahwa persoalan sampah selama ini berkaitan dengan belum tersedianya layanan pengangkutan.
Akibatnya, sampah banyak dibakar, ditimbun, atau dibuang sembarangan.
Warga kemudian mengusulkan sistem pengangkutan door-to-door dengan mekanisme iuran operasional.
Selain itu, warga mengusulkan pengadaan tong sampah penampungan dan lokasi pengolahan di antara RT 5 dan RT 6 atau Jalur 7 dan 8.
Masyarakat juga mendorong pembentukan pengurus pelayanan sampah yang melibatkan kader ibu-ibu RT serta sosialisasi resmi kepada kepala kampung dan Ketua RT/RW.
Sementara itu, warga SP 2 mengungkapkan kebiasaan membakar dan membuang sampah ke saluran irigasi masih terjadi karena kesadaran masyarakat yang belum merata serta belum adanya program pengelolaan sampah yang berjalan.
Warga SP 2 mengusulkan penyediaan bak sampah komunal di setiap jalur dan layanan penjemputan sampah dari rumah.
Untuk mendukung keberlanjutan program, warga juga menyepakati penerapan iuran sukarela bulanan per kepala keluarga, kegiatan kerja bakti secara rutin, serta pembentukan kelompok pengelola sampah yang melibatkan kader dari masing-masing SP.
Hasil FGD menjadi dasar komitmen bersama antara TEP UNDIP Tim 9, Pemerintah Kabupaten Keerom, pemerintah distrik, dan masyarakat Kampung Woslay.
Dukungan lahan untuk TPST dari pemerintah distrik serta keterlibatan warga menjadi modal dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi akademisi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui pengelolaan berbasis masyarakat, TEP UNDIP mendorong agar persoalan sampah di Woslay tidak hanya ditangani setelah sampah menumpuk, tetapi dimulai dari sumbernya melalui pemilahan, pengurangan, pengolahan, dan pengangkutan yang terorganisasi.
(*)
















Komentar