KEEROM, JURANEWS.ID – Sebanyak 43 siswa SMP Negeri 2 Web, Kabupaten Keerom, Papua, mendapatkan edukasi mengenai kesehatan reproduksi serta bahaya rokok, vape, dan narkoba.
Edukasi tersebut diberikan oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 6 pada Kamis (3/9/2026), sebagai bagian dari program Adaptive Edu-Health Senggi: Integrasi Layanan Pendidikan dan Kesehatan Berbasis Offline-First Technology di Kawasan Transmigrasi Yaffi, Keerom, Papua.
Kegiatan dirancang secara interaktif agar materi kesehatan lebih mudah dipahami oleh para siswa yang tengah memasuki fase remaja.
Ketua TEP UNDIP Tim 6, Dzul Fahmi Afriyanto, S.KM., M.K.M., mengatakan pendekatan interaktif menjadi salah satu kunci dalam menyampaikan edukasi kesehatan kepada remaja di kawasan perbatasan.
Materi disampaikan melalui sesi tanya jawab, ice breaking, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test.
“Melalui pendekatan edukasi interaktif yang dilengkapi sesi tanya jawab, ice breaking, serta evaluasi pre-test dan post-test, kami berupaya menjadikan sekolah sebagai ruang strategis untuk membangun kesadaran kesehatan generasi muda secara berkelanjutan,” ujar Dzul Fahmi.
Pada sesi pertama, siswa diajak memahami berbagai perubahan fisik dan emosional yang terjadi selama masa pubertas.
Para siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi, menerapkan pola hidup sehat, memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang, serta mengelola emosi.
Khusus bagi remaja putri, tim juga memberikan edukasi mengenai konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai salah satu upaya mencegah anemia.
Selain persoalan kesehatan fisik, siswa diberikan pemahaman mengenai batasan dan privasi tubuh sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran untuk menjaga dan menghormati diri sendiri.
Pihak sekolah mengapresiasi edukasi yang diberikan TEP UNDIP. Guru Agama Katolik SMP Negeri 2 Web, Monika Jaban, S.Ag., menilai pemahaman mengenai kesehatan perlu diberikan sejak usia remaja.
Menurutnya, masa remaja merupakan periode penting karena siswa mulai mengalami berbagai perubahan dalam dirinya.
“Masa remaja merupakan fase penting untuk mengenal dan memahami perubahan dalam diri. Pengetahuan yang tepat sejak dini diharapkan dapat membantu siswa menjaga kesehatan dan mengambil keputusan yang baik bagi dirinya,” tutur Monika Jaban.
Siswa Diajak Kenali Bahaya Rokok dan Vape
Materi kemudian berlanjut pada pencegahan penggunaan rokok, vape, dan narkoba.
Tim Edu-Health TEP UNDIP menjelaskan sejumlah risiko yang berkaitan dengan penggunaan rokok dan vape.
Para siswa diberikan pemahaman bahwa vape bukan sekadar menghasilkan uap biasa. Cairan yang dipanaskan menghasilkan aerosol yang dapat mengandung nikotin, bahan kimia, serta partikel berukuran sangat kecil yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan paru-paru.
Sementara itu, rokok konvensional juga dijelaskan menghasilkan berbagai zat berbahaya, termasuk tar dan karbon monoksida.
Edukasi tersebut diberikan untuk meluruskan berbagai persepsi keliru yang dapat membuat remaja menganggap rokok maupun vape sebagai sesuatu yang aman.
Dalam materi mengenai narkoba, tim menekankan bahwa penyalahgunaan zat terlarang dapat berdampak terhadap fungsi otak, emosi, perilaku, serta menimbulkan ketergantungan.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Penyalahgunaan narkoba juga dapat mengganggu konsentrasi belajar dan hubungan sosial serta berpotensi menghambat pendidikan dan masa depan siswa.
Karena itu, para siswa didorong untuk mampu memilih lingkungan pertemanan yang positif dan berani menolak ajakan menggunakan rokok, vape, maupun narkoba.
Efektivitas edukasi juga dievaluasi menggunakan pendekatan berbasis data.
Hasil pre-test menunjukkan rata-rata nilai siswa berada di angka 36,4. Setelah mendapatkan materi dan mengikuti rangkaian edukasi, rata-rata nilai post-test meningkat menjadi 45,5.
Artinya, terdapat peningkatan rata-rata sebesar 9,1 poin setelah kegiatan berlangsung.
Hasil tersebut menjadi indikator adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap materi kesehatan yang diberikan, meski evaluasi tersebut merupakan pengukuran dalam konteks kegiatan edukasi tersebut.
Kegiatan di SMP Negeri 2 Web tersebut menjadi bagian dari program Adaptive Edu-Health Yaffi yang mengintegrasikan pendekatan pendidikan dan kesehatan di kawasan Transmigrasi Yaffi, Kabupaten Keerom.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas masyarakat, termasuk generasi muda di kawasan perbatasan.
Bagi para siswa, edukasi tersebut diharapkan menjadi bekal dalam menghadapi masa remaja, mulai dari memahami perubahan tubuh, menjaga kesehatan diri, mengelola emosi, hingga menentukan lingkungan pergaulan.
Pesan utama yang dibawa dalam kegiatan tersebut adalah “Tubuhmu adalah milikmu. Kenali, hormati, dan lindungi.”
Pesan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong remaja agar memiliki kesadaran terhadap tubuh dan kesehatan dirinya serta mampu mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.
TEP UNDIP menyebut kegiatan edukasi tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Program tersebut berkaitan dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran kesehatan remaja.
Selain itu, kegiatan tersebut juga mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama melalui penyediaan edukasi kesehatan yang inklusif bagi masyarakat di kawasan 3T atau Tertinggal, Terdepan, dan Terluar.
Melalui edukasi kesehatan yang diberikan sejak usia sekolah, TEP UNDIP berharap generasi muda di kawasan perbatasan memiliki pengetahuan yang lebih baik untuk menjaga kesehatan sekaligus menentukan pilihan yang dapat mendukung masa depan mereka.
(*)










Komentar