JURANEWS.ID, SEMARANG – Gayatri Jawa Tengah turut meramaikan pagelaran fashion show “Sekar Setaman” yang diselenggarakan Batik Danar Hadi pada 13 Februari 2026 lalu. Keterlibatan ini menjadi wujud komitmen dalam mendukung pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya perempuan.
Mengusung tema harmoni flora Nusantara, Sekar Setaman tak hanya menampilkan keindahan artistik batik, tetapi juga membawa pesan keberagaman dalam suasana menyambut momen Imlek dan Ramadan. Nuansa taman bunga menjadi metafora visual yang memperkuat filosofi koleksi batik yang ditampilkan di atas panggung.
Dalam kegiatan tersebut, Gayatri Jawa Tengah berperan sebagai fasilitator dan koordinator mitra UMKM lokal. Organisasi ini menghadirkan, mengoordinasikan, serta mendorong partisipasi pelaku UMKM secara profesional dan terstruktur melalui bazaar pendamping acara.
Beberapa produk unggulan yang ditampilkan antara lain ampyang, gula jahe, dan brown sugar dari UMKM Borobudur, Magelang; bulu mata dari Purbalingga; perhiasan dari Solo; hingga scrub, lulur, serta sepatu dari Semarang. Produk-produk berbasis kearifan lokal ini menjadi bagian integral dalam penguatan ekosistem sosial-budaya dan pemberdayaan ekonomi komunitas.
Ine Tahira dari Divisi Humas dan Media Gayatri Jateng, bersama Lia Kumalasari selaku PIC acara, menjelaskan bahwa organisasinya berperan sebagai jembatan penghubung antara UMKM—khususnya pengusaha perempuan—dengan event prestisius seperti Sekar Setaman.
“Sehingga acara tidak hanya tentang fashion show, tapi juga tentang pemberdayaan ekonomi dan promosi produk lokal. Ini adalah kesempatan bagi perempuan pengusaha untuk mendapatkan eksposur lebih luas dan berkontribusi dalam pelestarian budaya,” ujar Ine.
Sementara itu, Diana Santosa selaku Managing Director Batik Danar Hadi menegaskan bahwa Sekar Setaman merupakan perpaduan filosofi Nusantara dengan metafora taman bunga.
“Sekar Setaman tidak hanya merayakan keanggunan visual dari aneka bunga, tetapi lebih dalam lagi menyampaikan pesan tentang harmoni dalam keberagaman. Koleksi ini membuktikan bahwa batik terus berkembang sambil tetap berakar pada warisan budaya,” jelasnya.
Acara tersebut juga dihadiri Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang menyampaikan harapannya agar batik, khususnya Batik Semarangan, semakin dikenal secara global.
“Batik sebagai warisan budaya lokal diharapkan dapat mendunia dalam dunia mode dan fashion. Saya juga mendorong UMKM di Kota Semarang untuk terus berkembang dan naik kelas, sehingga menjadi contoh bagi pelaku usaha yang sedang merintis,” ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, Sekar Setaman tak sekadar menjadi ajang peragaan busana, tetapi juga ruang sinergi antara pelaku industri kreatif, UMKM, dan komunitas perempuan dalam memperkuat ekonomi berbasis budaya.
(*)








Komentar