JURANEWS.ID, SEMARANG – Kisah sukses alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP), dr. Widagdo, MSi.Med., MSc., Ph.D., menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Berbekal pendidikan yang ditempuh di UNDIP, dokter asal Indonesia ini kini dipercaya memimpin berbagai uji klinis obat dan vaksin berskala global di industri farmasi internasional.
Alumni FK UNDIP angkatan 2014 tersebut saat ini berkarier sebagai Clinical Science Lead dan Associate Director di perusahaan farmasi global GlaxoSmithKline (GSK), serta terlibat dalam pengembangan berbagai vaksin yang digunakan di berbagai negara.
Perjalanan akademik dr. Widagdo dimulai dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter, ia melanjutkan studi Magister Konseling Genetik di FK UNDIP sebelum menempuh pendidikan Magister Imunologi dan Penyakit Infeksi di Belanda.
Karier akademiknya terus berkembang hingga berhasil meraih gelar doktor (PhD) bidang Virologi di Erasmus University, Belanda.
“Awalnya saya hanya berencana tinggal di luar negeri selama dua atau tiga tahun. Namun ternyata kesempatan yang datang membawa saya berkarier dan menetap di Eropa hingga lebih dari satu dekade,” ungkap dr. Widagdo.
Dari Dokter Menjadi Pemimpin Uji Klinis Global
Alih-alih menjalani proses penyetaraan profesi dokter yang memerlukan waktu panjang di luar negeri, dr. Widagdo memilih fokus meniti karier di bidang riset kesehatan dan farmasi.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral dan penelitian pascadoktoral, ia bergabung dalam program fellowship di perusahaan farmasi internasional yang memiliki fokus kuat pada penelitian dan pengembangan obat.
“Saya masuk ke fellowship mereka, dan itu memulai karier saya di riset farmasi,” katanya.
Kini, dr. Widagdo memimpin berbagai uji klinis global untuk pengembangan obat dan vaksin baru. Ia bekerja bersama tim internasional yang mengoordinasikan penelitian di berbagai negara guna memastikan keamanan dan efektivitas produk kesehatan sebelum mendapatkan izin edar.
Terlibat Pengembangan Vaksin COVID-19 dan RSV
Selama tujuh tahun terakhir, fokus keilmuan dr. Widagdo berada pada bidang vaksin dan penyakit infeksi.
Ketika pandemi COVID-19 melanda dunia, latar belakang keilmuan virologi yang dimilikinya membuat ia terlibat langsung dalam pengembangan vaksin COVID-19 di tingkat global.
Saat ini, ia juga berkontribusi dalam pengembangan vaksin Respiratory Syncytial Virus (RSV) yang telah memperoleh lisensi dan digunakan di lebih dari 30 negara untuk kelompok usia lanjut.
Menurutnya, proses menghadirkan satu obat atau vaksin hingga dapat digunakan masyarakat membutuhkan waktu panjang dan investasi yang sangat besar.
“Untuk membawa obat baru sampai bisa dipakai dokter di masyarakat itu sangat melelahkan. Investasinya besar, baik dari sisi materi maupun waktu,” jelasnya.
Alumni UNDIP Bisa Bersaing di Tingkat Dunia
Meski telah lama berkarier di luar negeri, dr. Widagdo menegaskan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia tidak kalah dibandingkan negara lain.
Ia mengaku tidak pernah merasa tertinggal secara akademik saat bersaing dengan para peneliti internasional.
“Kalau ngomongin level atau kualitas pendidikan, kita sebenarnya tidak kalah dari luar negeri. Dari level pemahaman dan pengetahuan, saya tidak pernah sekalipun merasa tertinggal,” ujarnya.
Namun demikian, ia menilai Indonesia masih perlu memperkuat ekosistem riset agar mampu menghasilkan lebih banyak inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
“Riset itu investasi. Hasilnya mungkin tidak terlihat dalam satu atau dua tahun, tetapi dampaknya bisa sangat besar lima sampai sepuluh tahun ke depan,” tambahnya.
Pesan untuk Mahasiswa: Jangan Takut Bermimpi Besar
Melalui pengalamannya, dr. Widagdo meyakini bahwa banyak lulusan Indonesia memiliki kemampuan untuk berkarier di level internasional. Tantangan terbesar menurutnya bukan pada kemampuan, melainkan akses informasi dan kesempatan.
“Saya pikir banyak orang Indonesia yang bisa berkarier di posisi saya. Ini hanya masalah akses, kesempatan, dan pengetahuan bahwa jalur karier seperti ini ada,” katanya.
Kepada mahasiswa FK UNDIP dan generasi muda Indonesia, ia berpesan agar tidak takut mengambil jalan berbeda selama dilakukan dengan penuh dedikasi dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Dunia itu besar. Jangan berpikir kecil. Kalau kamu tidak melakukan hal yang sama seperti teman-teman sebaya, selama kamu melakukan sesuatu yang kamu cintai dan memberi manfaat bagi orang di sekitarmu, itu tetaplah jalan yang baik,” pesannya.
Di akhir kesempatan, dr. Widagdo menyampaikan rasa terima kasih kepada FK UNDIP yang telah menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademik dan profesionalnya hingga mampu berkiprah di panggung global.
Kisah dr. Widagdo menjadi bukti bahwa lulusan perguruan tinggi Indonesia mampu bersaing di level dunia dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan, kesehatan global, serta pengembangan vaksin yang bermanfaat bagi jutaan orang di berbagai negara.
(*)










Komentar