JURANEWS.ID, SEMARANG – Hari pertama pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 tingkat SMP di Kota Semarang diwarnai membludaknya warga yang mendatangi posko pelayanan dan pengaduan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Senin (22/6/2026).
Sejak pagi, ratusan orang tua siswa tampak memadati kantor Disdik Kota Semarang di Jalan Dr Wahidin, Jatingaleh, Kecamatan Candisari. Mereka datang untuk mencari solusi atas berbagai kendala yang muncul saat proses pendaftaran siswa baru secara daring.
Keluhan yang paling banyak disampaikan berkaitan dengan mekanisme jalur domisili, verifikasi data kependudukan, hingga ketidakjelasan aturan perubahan pilihan sekolah setelah proses verifikasi selesai.
Salah satu orang tua calon siswa, Bobby (51), warga Wonotingal, Kecamatan Candisari, mengaku sengaja datang bersama istri dan anaknya karena bingung dengan sistem seleksi jalur domisili yang diterapkan pada SPMB tahun ini.
Menurutnya, informasi yang tersedia di sistem pendaftaran belum memberikan kepastian terkait kemungkinan mengubah pilihan sekolah apabila peluang diterima di sekolah tujuan dinilai kecil setelah jurnal peringkat diumumkan.
“Yang kami butuhkan sebenarnya hanya kepastian informasi. Kalau pilihan sekolah sudah diverifikasi, apakah masih bisa diubah atau tidak. Informasi itu belum jelas,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Bobby menilai mekanisme jalur domisili untuk jenjang SMP masih membingungkan karena faktor usia justru menjadi penentu utama dalam proses seleksi.
Ia berpendapat apabila usia menjadi faktor utama, maka seharusnya pemerintah secara tegas menyebutnya sebagai jalur usia, bukan jalur domisili.
“Kalau memang penentunya umur, ya seharusnya disebut jalur umur. Jangan disebut jalur domisili kalau akhirnya yang menentukan bukan jarak rumah ke sekolah,” katanya.
Awalnya Bobby memilih sekolah berdasarkan kedekatan lokasi dengan rumah. Namun setelah mengetahui adanya faktor usia dalam sistem seleksi, dirinya mempertimbangkan untuk mengubah pilihan sekolah bahkan menyiapkan opsi sekolah swasta apabila peluang diterima dinilai kecil.
Tidak hanya persoalan jalur domisili, sejumlah warga juga datang untuk mengurus masalah administrasi kependudukan yang belum sinkron dengan sistem pendaftaran.
Salah satunya Fatimah (51), yang mengurus pendaftaran cucunya ke jenjang SMP setelah kedua orang tua anak tersebut meninggal dunia akibat musibah kebakaran.
Saat ini cucunya telah masuk dalam Kartu Keluarga (KK) milik sang paman, namun perubahan data tersebut belum terbarui dalam sistem SPMB sehingga menghambat proses pendaftaran.
“Orang tuanya sudah meninggal waktu kebakaran. Sekarang ikut KK omnya. Di sistem masih data lama, jadi harus verifikasi dulu,” ujarnya.
Fatimah berencana mendaftarkan cucunya ke SMP Negeri 6 Semarang karena lokasi rumah keluarga berada tidak jauh dari kawasan Citarum.
Ia mengaku sebelumnya telah mendatangi sekolah tujuan, namun diarahkan untuk menyelesaikan proses verifikasi data terlebih dahulu di Dinas Pendidikan.
Meski harus mengantre di tengah ramainya warga yang datang, Fatimah berharap persoalan tersebut segera selesai agar cucunya tetap dapat mengikuti proses seleksi sesuai jadwal.
“Yang penting bisa cepat selesai dan anak tetap bisa daftar sekolah,” katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan antrean warga mencapai ratusan orang. Bahkan hingga siang hari, nomor antrean yang dilayani telah menembus angka 350 pemohon.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Muhammad Ahsan menilai membludaknya warga pada hari pertama pelaksanaan SPMB merupakan hal yang wajar.
Menurutnya, banyak orang tua ingin memastikan seluruh proses pendaftaran anak mereka selesai sejak hari pertama.
“Biasanya memang hari pertama ramai karena orang tua ingin segera menyelesaikan proses pendaftaran. Saya yakin nanti sore berkurang dan besok tidak terlalu banyak,” ujarnya.
Ahsan menegaskan pihaknya telah melakukan pemantauan langsung ke sejumlah sekolah dan memastikan layanan pendaftaran maupun posko pengaduan berjalan lancar.
Ia juga melihat tingginya jumlah warga yang datang sebagai bentuk antusiasme masyarakat terhadap pendidikan di Kota Semarang, baik di sekolah negeri maupun swasta.
“Ini menunjukkan antusiasme masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Kami melihatnya sebagai hal yang positif,” katanya.
Pelaksanaan SPMB 2026 sendiri masih berlangsung hingga 26 Juni mendatang. Dinas Pendidikan mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan kanal informasi resmi yang telah disediakan serta segera melaporkan kendala administrasi agar proses pendaftaran dapat berjalan lancar.
(*)










Komentar