OPINI : Pilkades Bukan Soal Siapa yang Paling Populer, tapi Siapa yang Paling Layak Memimpin Desa

Pilkades seharusnya menjadi momentum masyarakat memilih pemimpin berdasarkan program, rekam jejak, karakter, dan kemampuan membangun desa, bukan semata karena popularitas atau kedekatan.

PEMALANG, JURANEWS.ID – Demokrasi lokal sedang diuji.

Pemilihan kepala desa (Pilkades) seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menentukan masa depan desanya. Bukan sekadar ajang adu popularitas, kekuatan kelompok, kedekatan keluarga, atau siapa yang memiliki pendukung paling banyak.

Sebab, Pilkades bukan sekadar memilih seseorang untuk menduduki sebuah jabatan.

Pilkades adalah momentum ketika suara masyarakat memiliki nilai yang sangat menentukan arah pembangunan desa untuk beberapa tahun ke depan.

Di sinilah masyarakat dituntut semakin cerdas dalam menentukan pilihan.

Jangan hanya melihat siapa calonnya. Lihat pula apa gagasannya, bagaimana rekam jejaknya, seperti apa kepeduliannya kepada masyarakat, dan sejauh mana program yang ditawarkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan desa.

Memilih kepala desa bukan memilih ketua kelompok.

Bukan pula sekadar memilih tokoh yang pandai tampil di depan masyarakat.

Kepala desa akan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan warga, mulai dari pembangunan, pelayanan publik, ekonomi desa, pertanian, sosial, infrastruktur, hingga pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, pertanyaan pentingnya adalah: apakah masyarakat memilih berdasarkan program atau hanya berdasarkan kedekatan?

Inilah salah satu tantangan terbesar demokrasi di tingkat desa.

Jangan Biarkan Suara Rakyat Hanya Menjadi Alat Kemenangan

Jangan sampai suara masyarakat hanya digunakan sebagai alat untuk memenangkan seseorang dalam Pilkades.

Setelah calon terpilih, masyarakat justru kembali menjadi penonton.

Lebih buruk lagi apabila program yang disampaikan dengan begitu meyakinkan menjelang pemilihan kemudian menghilang setelah jabatan berada di tangan.

Masyarakat memiliki hak untuk bertanya.

Apa programnya? Dari mana sumber dananya? Apa prioritasnya? Bagaimana cara mewujudkannya? Dan apa yang sudah pernah dilakukan sebelum mencalonkan diri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk permusuhan.

Justru sebaliknya, keberanian masyarakat untuk bertanya merupakan bagian dari demokrasi yang sehat.

Calon kepala desa yang benar-benar siap memimpin semestinya tidak alergi terhadap kritik. Ia harus siap mendengar suara masyarakat, turun langsung ke lapangan, dan memahami persoalan desa, bukan hanya berdasarkan laporan yang tersaji di atas meja.

Pemimpin yang baik bukan hanya pandai menyampaikan janji.

Ia harus mampu menunjukkan kemampuan untuk bekerja dan menyelesaikan persoalan.

Popularitas Bukan Ukuran Tunggal

Dalam politik desa, popularitas memang dapat menjadi modal.

Namun popularitas tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kelayakan seseorang menjadi kepala desa.

Seseorang bisa dikenal banyak orang, tetapi belum tentu memahami persoalan desa.

Seseorang bisa memiliki banyak pendukung, tetapi belum tentu memiliki program yang jelas.

Seseorang juga bisa sangat dekat dengan kelompok tertentu, tetapi belum tentu mampu merangkul seluruh masyarakat.

Karena itu, masyarakat perlu melihat calon secara lebih utuh.

Programnya harus dinilai. Rekam jejaknya harus diperiksa. Karakternya harus dipertimbangkan. Dan komitmennya kepada masyarakat harus diuji.

Desa membutuhkan pemimpin yang mampu bekerja, bukan sekadar pemimpin yang mampu memenangkan kontestasi.

Jangan Wariskan Permusuhan karena Perbedaan Pilihan

Pilkades adalah kompetisi politik.

Tetapi masyarakat desa bukanlah lawan.

Perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Yang tidak boleh terjadi adalah ketika perbedaan tersebut berubah menjadi permusuhan dan memutus hubungan antartetangga maupun antarkeluarga.

Sebab, setelah Pilkades selesai, semua kembali menjadi warga desa yang sama.

Yang berbeda hanyalah pilihan politiknya.

Bukan rumahnya.

Bukan tanah kelahirannya.

Dan bukan masa depan desanya.

Jangan wariskan permusuhan hanya karena perbedaan pilihan.

Pilkades seharusnya melahirkan pemimpin yang mampu merangkul, bukan memperlebar jarak.

Pemimpin yang mampu mendengar, bukan hanya berbicara.

Pemimpin yang hadir ketika masyarakat membutuhkan, bukan hanya hadir ketika membutuhkan suara.

Masyarakat Harus Menjadi Pemilih yang Cerdas

Pada akhirnya, demokrasi lokal bukan tentang siapa yang paling keras berteriak bahwa dirinya mampu.

Demokrasi adalah tentang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk menilai, membandingkan, kemudian menentukan pilihan secara bebas dan bertanggung jawab.

Masyarakat harus berani menggunakan hak pilihnya berdasarkan pertimbangan yang rasional.

Pilih karena programnya.

Pertimbangkan karena rekam jejaknya.

Nilai karena karakternya.

Dan jangan gadaikan masa depan desa hanya demi kepentingan sesaat.

Satu suara mungkin terlihat kecil.

Namun ketika ribuan suara berkumpul, di situlah arah masa depan sebuah desa ditentukan.

Karena itu, jangan biarkan suara rakyat berhenti hanya sebagai angka dalam hasil penghitungan suara.

Suara rakyat harus menjadi mandat bagi pemimpin terpilih untuk bekerja.

Kemenangan Terbesar Adalah Desa yang Tetap Bersatu

Pilkades boleh menjadi kompetisi untuk memenangkan suara.

Namun setelah pemilihan selesai, kompetisi harus berakhir.

Yang tersisa adalah tanggung jawab bersama untuk membangun desa.

Siapa pun yang terpilih harus menjadi kepala desa bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi mereka yang memberikan suara.

Begitu pula masyarakat yang calonnya kalah harus tetap menjadi bagian dari pembangunan desa.

Sebab, kemenangan terbesar bukan ketika satu kelompok berhasil mengalahkan kelompok lainnya.

Kemenangan terbesar adalah ketika seluruh masyarakat tetap bersatu, pelayanan publik semakin baik, pembangunan berjalan, ekonomi masyarakat tumbuh, dan desa bergerak menuju masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, desa tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar populer. Desa membutuhkan pemimpin yang layak, berintegritas, mampu bekerja, dan dapat dipercaya.

Dan masyarakat memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk menentukan siapa orang tersebut melalui pilihan yang bebas, cerdas, dan bertanggung jawab.

Rokhim
Jurnalis JURANEWS.ID

(*)

Komentar