KLIK LINK UNTUK MELIHAT VIDEO : https://vt.tiktok.com/ZS4Tcx3Lx/
KUDUS, JURANEWS.ID — Gebyar Budaya Nusantara 2026 digelar di Kabupaten Kudus pada Selasa Kliwon, 11 Agustus 2026. Kegiatan yang diprakarsai para aktivis kebudayaan dari berbagai daerah di Jawa Tengah ini menjadi ruang bersama untuk menghidupkan kembali semangat pelestarian budaya menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketua Panitia Gebyar Budaya Nusantara 2026, Agus Mujayanto, menegaskan bahwa kegiatan tersebut murni gerakan kebudayaan dan tidak berkaitan dengan kepentingan politik.
“Ini murni dari aktivis kebudayaan, tidak ada ranah politis sama sekali. Kami ingin membangun ruang netral untuk saling memahami dan bersama-sama menguri-uri kebudayaan,” ujar Agus saat diwawancarai.
Menurut Agus, kegiatan ini diharapkan menjadi awal gerakan budaya yang berkelanjutan. Ia menyebut para penggerak budaya akan terus mengadakan aktivitas serupa secara berkala agar pelestarian budaya tidak berhenti pada satu momentum saja.
Gebyar Budaya Nusantara 2026 melibatkan sekitar 100 penari serta aktivis dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Peserta tidak hanya berasal dari kalangan seniman, tetapi juga dari berbagai profesi seperti advokat, aparatur sipil negara, TNI-Polri, tenaga medis, dan masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap budaya.
“Semua berkumpul karena kecintaan terhadap budaya. Mereka ingin bersama-sama menjaga warisan leluhur,” katanya.
Agus menjelaskan, pemilihan Kudus sebagai lokasi penyelenggaraan memiliki makna simbolik. Selain dikenal sebagai daerah dengan tradisi budaya dan religius yang kuat, waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan Selasa Kliwon menjelang Hari Kemerdekaan dipilih untuk mengingatkan masyarakat pada sejarah dan semangat perjuangan bangsa.
“Kami ingin bangsa ini kembali mengingat bahwa spirit kebudayaan juga menjadi bagian dari kejayaan kemerdekaan,” ujarnya.
Acara pembukaan dimulai pukul 11.00 WIB sebagai simbol harapan dan doa agar kegiatan membawa keberkahan bagi masyarakat dan bangsa.
Rangkaian acara akan diisi pertunjukan tari Srikandi, Burisrawo, dan Golok Rahayu, serta sajian gending tradisional seperti Ladrang Mugrahayu, Maskumambang, dan Sinom Pari Jodho. Setiap pertunjukan mengandung pesan moral tentang pengendalian diri, cinta yang bijak, harapan akan keselamatan, serta keteladanan seorang pemimpin.
“Inti dari seluruh rangkaian ini sebenarnya adalah doa untuk bangsa dan masyarakat agar hidup tenteram, sejahtera, dan raharjo,” tutur Agus.
Ia juga menekankan pentingnya keselarasan antara agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat.
“Budaya dan agama tidak perlu dipertentangkan. Budaya adalah hasil budi dan pikiran manusia, sedangkan agama menjadi tuntunan hidup. Keduanya harus berjalan selaras,” katanya.
Peserta yang hadir berasal dari sejumlah daerah seperti Banyumas, Purbalingga, Surakarta, Boyolali, Sragen, dan Blora. Sementara penampilan tari dipilih secara khusus oleh panitia untuk menjaga kualitas pertunjukan dan kesinambungan pesan budaya yang ingin disampaikan.
Melalui Gebyar Budaya Nusantara 2026, panitia berharap masyarakat semakin mencintai budaya bangsa serta menjadikannya sebagai perekat persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
(*)KUDUS, JURANEWS.ID — Gebyar Budaya Nusantara 2026 digelar di Kabupaten Kudus pada Selasa Kliwon, 11 Agustus 2026. Kegiatan yang diprakarsai para aktivis kebudayaan dari berbagai daerah di Jawa Tengah ini menjadi ruang bersama untuk menghidupkan kembali semangat pelestarian budaya menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketua Panitia Gebyar Budaya Nusantara 2026, Agus Mujayanto, menegaskan bahwa kegiatan tersebut murni gerakan kebudayaan dan tidak berkaitan dengan kepentingan politik.
“Ini murni dari aktivis kebudayaan, tidak ada ranah politis sama sekali. Kami ingin membangun ruang netral untuk saling memahami dan bersama-sama menguri-uri kebudayaan,” ujar Agus saat diwawancarai.
Menurut Agus, kegiatan ini diharapkan menjadi awal gerakan budaya yang berkelanjutan. Ia menyebut para penggerak budaya akan terus mengadakan aktivitas serupa secara berkala agar pelestarian budaya tidak berhenti pada satu momentum saja.
Gebyar Budaya Nusantara 2026 melibatkan sekitar 100 penari serta aktivis dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Peserta tidak hanya berasal dari kalangan seniman, tetapi juga dari berbagai profesi seperti advokat, aparatur sipil negara, TNI-Polri, tenaga medis, dan masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap budaya.
“Semua berkumpul karena kecintaan terhadap budaya. Mereka ingin bersama-sama menjaga warisan leluhur,” katanya.
Agus menjelaskan, pemilihan Kudus sebagai lokasi penyelenggaraan memiliki makna simbolik. Selain dikenal sebagai daerah dengan tradisi budaya dan religius yang kuat, waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan Selasa Kliwon menjelang Hari Kemerdekaan dipilih untuk mengingatkan masyarakat pada sejarah dan semangat perjuangan bangsa.
“Kami ingin bangsa ini kembali mengingat bahwa spirit kebudayaan juga menjadi bagian dari kejayaan kemerdekaan,” ujarnya.
Acara pembukaan dimulai pukul 11.00 WIB sebagai simbol harapan dan doa agar kegiatan membawa keberkahan bagi masyarakat dan bangsa.
Rangkaian acara akan diisi pertunjukan tari Srikandi, Burisrawo, dan Golok Rahayu, serta sajian gending tradisional seperti Ladrang Mugrahayu, Maskumambang, dan Sinom Pari Jodho. Setiap pertunjukan mengandung pesan moral tentang pengendalian diri, cinta yang bijak, harapan akan keselamatan, serta keteladanan seorang pemimpin.
“Inti dari seluruh rangkaian ini sebenarnya adalah doa untuk bangsa dan masyarakat agar hidup tenteram, sejahtera, dan raharjo,” tutur Agus.
Ia juga menekankan pentingnya keselarasan antara agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat.
“Budaya dan agama tidak perlu dipertentangkan. Budaya adalah hasil budi dan pikiran manusia, sedangkan agama menjadi tuntunan hidup. Keduanya harus berjalan selaras,” katanya.
Peserta yang hadir berasal dari sejumlah daerah seperti Banyumas, Purbalingga, Surakarta, Boyolali, Sragen, dan Blora. Sementara penampilan tari dipilih secara khusus oleh panitia untuk menjaga kualitas pertunjukan dan kesinambungan pesan budaya yang ingin disampaikan.
Melalui Gebyar Budaya Nusantara 2026, panitia berharap masyarakat semakin mencintai budaya bangsa serta menjadikannya sebagai perekat persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
(*)










Komentar