JURANEWS.ID, SEMARANG – Agus Mujayanto melakukan silaturahmi dengan Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, pada Rabu (15/7/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ajang diskusi mendalam mengenai nilai-nilai spiritual, budaya, kepemimpinan, hingga filosofi Jawa yang dinilai tetap relevan dalam menghadapi tantangan kehidupan berbangsa di era modern.
Dalam pertemuan itu, Sri Eko Sriyanto Galgendu menyampaikan pandangannya bahwa Indonesia tengah memasuki “musim spiritual” pada awal tahun 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi penanda menguatnya semangat kebersamaan masyarakat di tengah berbagai dinamika sosial, ekonomi, dan tantangan global.
Pembahasan juga mengulas sosok Joyo Pengrawit, yang dikenal dalam sejarah Mangkunegaran sebagai panglima strategi perang sekaligus penyusun strategi tempur.
Namun, dalam perspektif filosofis, Joyo Pengrawit dimaknai lebih luas sebagai simbol keteraturan, harmoni, dan kemampuan mengelola kehidupan secara seimbang, sebagaimana filosofi gamelan yang menghasilkan keselarasan melalui perpaduan berbagai instrumen.
Tak hanya itu, diskusi turut menyinggung perjalanan spiritual Sunan Kalijaga saat berguru kepada Sunan Bonang. Filosofi “Jogo Kali” dijelaskan sebagai simbol menjaga keseimbangan antara hulu dan hilir kehidupan, yang dimaknai sebagai kemampuan menyelaraskan berbagai aspek kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, negara, agama, hingga budaya dalam satu tatanan yang harmonis.
Agus Mujayanto mengungkapkan bahwa silaturahmi tersebut merupakan pertemuan kembali dengan sahabat lamanya setelah terakhir kali bertemu pada tahun 2011 di Astana Utara Mangkunegaran VI, Surakarta.
“Silaturahmi saya kepada sahabat lama yang dulu kami bertemu pada tahun 2011 di Astana Utara Mangkunegaran VI Surakarta. Kini kami kembali bertemu dengan satu misi yang sama, yakni menjaga keselarasan agama dan budaya untuk membangun bangsa demi generasi yang akan datang,” ujar Agus Mujayanto.
Menurut Agus, salah satu pembahasan yang paling menarik adalah filosofi Sunan Kalijaga yang bersemedi di tepi sungai. Filosofi tersebut dipandang sebagai simbol pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan, baik antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, maupun dengan alam.
Pertemuan berlangsung hangat dan penuh nuansa kebudayaan. Keduanya sepakat bahwa nilai-nilai luhur warisan Nusantara masih memiliki relevansi sebagai fondasi dalam membangun karakter bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Menurut Agus Mujiyanto, di tengah era modernisasi yang ditandai dengan perubahan zaman yang begitu cepat, masyarakat dihadapkan pada tantangan baru yang berbeda dengan masa lalu. Jika dahulu perjuangan diwujudkan melalui peperangan fisik untuk mempertahankan atau memperluas wilayah, kini perjuangan terbesar adalah peperangan melawan diri sendiri.
Ia menjelaskan bahwa konsep Bronto Yudo pada masa kini tidak lagi dimaknai sebagai konflik bersenjata, melainkan perjuangan setiap manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari sandang, pangan, papan, hingga menjaga keberlangsungan kehidupan di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan perubahan lingkungan.
Sementara itu, filosofi Joyo Binangun dimaknai sebagai upaya membangun kejayaan melalui kesadaran, tanggung jawab, dan semangat membangun bangsa.
Menurutnya, setiap pemimpin harus memiliki jiwa kesatria yang diwujudkan dalam keberanian, integritas, rasa malu ketika berbuat salah, serta kemampuan untuk memahami batas diri dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Dengan nilai-nilai tersebut, kepemimpinan tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga pada pembangunan peradaban yang berlandaskan moral, etika, dan kesadaran kolektif demi terciptanya kehidupan yang lebih harmonis.
(*)










Komentar