Jepang Akhiri Misi Pemadaman Karhutla di Kalimantan, 3 Helikopter Chinook Jatuhkan 220 Ton Air

Jepang mengakhiri misi pemadaman karhutla di Kalimantan setelah tiga helikopter Chinook melakukan 40 operasi udara dan menjatuhkan lebih dari 220 ton air.

JAKARTA, JURANEWS.ID – Pemerintah Jepang resmi mengakhiri dukungan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan setelah berlangsung lebih dari dua pekan.

Dukungan tersebut melibatkan militer Jepang atau Self-Defense Forces (SDF) dengan mengerahkan tiga helikopter jumbo CH-47 Chinook untuk melakukan operasi pengeboman air atau water bombing.

Pengakhiran misi tersebut diputuskan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi pada Selasa (29/9/2026).

Selama menjalankan operasi, tiga helikopter Chinook tercatat melakukan 40 kali operasi udara dengan menjatuhkan lebih dari 220 ton air untuk membantu mengendalikan kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Koizumi, dukungan militer Jepang turut membantu mencegah kebakaran meluas. Ia juga menilai pihak Indonesia telah mampu melanjutkan upaya pengendalian dan penanganan karhutla.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengapresiasi dukungan SDF Jepang dalam membantu pemadaman karhutla, khususnya di kawasan lahan gambut di Kalimantan.

Operasi tersebut tergabung dalam satuan tugas udara dan dimulai sejak 16 September 2026.

Armada Chinook melakukan operasi pengeboman air di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, termasuk Pontianak dan Ketapang.

BNPB menyebut dukungan ini menjadi catatan penting dalam kerja sama kedua negara. Operasi tersebut juga merupakan pertama kalinya militer Jepang menjalankan misi pemadaman karhutla dalam operasi luar negeri.

Sebelum diterjunkan dalam operasi, kapal pengangkut yang membawa tiga helikopter Chinook beserta personel bertolak dari Pelabuhan Kure, Prefektur Hiroshima, pada 30 Agustus 2026.

Kapal tersebut kemudian tiba di Pelabuhan Kijing, Kalimantan Barat, pada 10 September 2026.

Setelah persiapan, operasi pemadaman udara mulai dijalankan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Kalimantan.

BNPB menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan pemerintah dan militer Jepang tersebut.

Kerja sama ini disebut menjadi salah satu bentuk konkret hubungan antara kementerian pertahanan kedua negara, termasuk dalam memperluas kerja sama di bidang pertahanan, latihan militer, serta operasi kemanusiaan.

Dengan berakhirnya dukungan SDF Jepang, penanganan karhutla selanjutnya kembali menjadi tanggung jawab dan kapasitas penanggulangan bencana Indonesia.

(*)

Komentar