JURANEWS.ID, BALI – Rempah khas Sumatra Utara, Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium), kembali mencuri perhatian dunia ilmiah.
Dalam ajang 15th International Symposium on Nano Science and Chemistry (ISNSC) 2026 di Bali, tim peneliti dari Universitas Diponegoro (UNDIP) memaparkan hasil riset molekuler yang menunjukkan potensi andaliman sebagai calon agen antikanker masa depan.
Penelitian tersebut dipresentasikan pada simposium internasional yang berlangsung 9–12 Agustus 2026 dan diikuti ilmuwan dari berbagai negara.
Riset berjudul “Molecular Insights into the Interactions of Geranyl Acetate from Zanthoxylum acanthopodium with Human Serum Albumin, BCL-2, E-Cadherin, and Phospholipid Membranes” dipimpin oleh Prof. Dr. Parsaoran Siahaan, M.S., Guru Besar Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika UNDIP.
Prof. Parsaoran dikenal sebagai pakar Kimia Fisik, Kimia Kuantum, dan Kimia Komputasi. Penelitian ini melibatkan sejumlah akademisi UNDIP serta peneliti R&D PT St. Morita Farma.
Temuan penting andaliman berpotensi menarget sel kanker. Melalui pendekatan Molecular Docking dan Molecular Dynamics, tim peneliti menelusuri bagaimana senyawa aktif Geranyl Acetate dalam andaliman berinteraksi dengan protein penting di tubuh manusia.
Hasil penelitian menunjukkan Afinitas pengikatan kuat terhadap protein BCL-2 yang berperan dalam regulasi kematian sel kanker, dengan nilai -23,3 kJ/mol. Ikatan kuat dengan Human Serum Albumin (HSA), protein pembawa nutrisi dan obat dalam darah, dengan nilai -26,6 kJ/mol.
Selain itu, Interaksi dengan protein E-Cadherin sebesar -20,2 kJ/mol. Kemampuan penetrasi dan difusi pada membran fosfolipid sel dengan koefisien (7,68 ± 2,50) × 10⁻⁷ cm²/s, yang menandakan molekul aktif mampu bergerak efektif pada tingkat seluler.
Menurut tim peneliti, temuan ini memberikan gambaran awal mengenai mekanisme biologis yang mendukung potensi andaliman dalam pengembangan terapi antikanker.
Riset molekuler ini juga memperkuat pengembangan andaliman yang telah dilakukan PT St. Morita Farma sejak tahun 1991. Perusahaan tersebut berupaya mengangkat bahan alam endemik Indonesia menjadi active ingredient bernilai tinggi untuk industri kesehatan dan kecantikan.
Melalui merek Euterria, perusahaan telah meluncurkan Zantholeum Series berbasis nano andaliman oil yang diaplikasikan pada produk perawatan harian seperti body wash, body lotion, back acne spray, moisturizer, dan sunscreen.
Marketing Leader Euterria, Morita Uli Gloria, mengatakan pengembangan andaliman bukan sekadar proyek bisnis, melainkan bagian dari passion perusahaan untuk mengangkat kekayaan hayati Indonesia hingga memiliki nilai tambah global.
“Passion kami adalah mengangkat Andaliman dari bahan alam lokal menjadi produk bernilai tinggi, dimulai dari produk kosmetik melalui brand Euterria dan ke depan diarahkan menuju pengembangan obat berbasis bahan alam yang memenuhi standar lebih tinggi, termasuk peluang menuju kategori fitofarmaka,” ujar Morita Uli Gloria di sela kegiatan ISNSC 2026 di Bali.
Ia menambahkan, perusahaan berharap riset-riset ilmiah yang dilakukan bersama perguruan tinggi dapat menjadi fondasi kuat bagi pengembangan produk kesehatan berbasis andaliman yang aman, efektif, dan berdaya saing internasional.
Prof. Parsaoran menyebut andaliman merupakan kekayaan hayati Indonesia yang memiliki potensi luas untuk kesehatan.
Hasil studi komputasi ini semakin memperkuat bukti ilmiah bahwa andaliman tidak hanya bermanfaat untuk perawatan kulit, tetapi juga layak dikaji lebih lanjut sebagai kandidat agen antikanker.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih berada pada tahap studi komputasi dan molekuler, sehingga diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji laboratorium dan uji klinis, sebelum dapat dikembangkan menjadi terapi medis yang digunakan pada manusia.
Partisipasi riset ini di forum internasional ISNSC 2026 menjadi bukti kuat kolaborasi antara akademisi dan industri dalam mendorong hilirisasi riset bahan alam Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global serta memberi manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat dunia.
(*)
















Komentar