SALATIGA, JURANEWS.ID – Kelangkaan pupuk yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani. Kondisi tersebut mendorong Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (FPIK UNDIP) bersama Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) mengembangkan inovasi beras sehat parboiled Low Glycemic Index (LGI).
Produk dengan merek Q-Tha tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pangan dengan nilai gizi lebih tinggi, tetapi juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi petani melalui peningkatan harga jual gabah.
Pembina SPPQT, Bahruddin, mengatakan inovasi beras pratanak tersebut dikembangkan untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil panen petani.
Menurutnya, peningkatan kualitas dan nilai gizi beras dapat membuka peluang mendapatkan harga yang lebih baik dari konsumen.
“Kesetimbangan harga dan kualitas beras ini secara otomatis dapat meningkatkan harga dasar gabah yang sekaligus memberikan solusi petani terhadap biaya produksinya,” ujar Bahruddin dalam Workshop Business Plan Rumah Produksi yang diselenggarakan FPIK UNDIP.
Berbeda dari pengolahan beras putih pada umumnya, beras parboiled Q-Tha diproses sejak gabah dalam kondisi basah atau kering panen.
Gabah terlebih dahulu melalui proses pencucian dan perendaman atau hydrating selama beberapa jam. Setelah itu, gabah dikukus menggunakan suhu tinggi melalui proses steaming.
Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan dan penggilingan hingga menghasilkan beras parboiled.
Dalam pengembangan produk ini, proses pengolahan dirancang untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kandungan nutrisi yang terdapat pada bagian kulit padi agar dapat masuk ke bagian dalam biji beras.
Beras parboiled Q-Tha juga dikembangkan dengan konsep Low Glycemic Index (LGI) yang membuat peningkatan kadar gula darah setelah konsumsi disebut lebih lambat dibandingkan makanan dengan indeks glikemik tinggi.
Konsep tersebut membuat produk ini diarahkan sebagai salah satu alternatif pangan bagi masyarakat yang memperhatikan asupan gula dan pola makan.
Tekstur Beras Tidak Mudah Lengket
Selain aspek gizi, beras parboiled Q-Tha memiliki karakteristik tekstur yang berbeda setelah dimasak.
Beras disebut memiliki tekstur lebih padat, butiran yang cenderung terpisah dan tidak mudah lengket. Karakteristik tersebut membuatnya cocok digunakan untuk berbagai olahan seperti nasi goreng maupun nasi kebuli.
Proses parboiling juga mengubah struktur pati pada beras. Selain berpengaruh terhadap tekstur, perubahan tersebut diklaim dapat membuat beras lebih tahan dalam penyimpanan.
Pengembangan produk Q-Tha merupakan bagian dari pendampingan FPIK UNDIP terhadap Rumah Produksi Kelompok Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT).
Pendampingan dimulai pada 2025 melalui pembekalan dasar kelayakan usaha Tahap I serta penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) untuk mendukung penerapan standar keamanan pangan.
Memasuki 2026, pendampingan dilanjutkan melalui Studi Kelayakan Usaha Lanjutan Tahap II dengan penyusunan business plan berbasis green and blue farming.
Melalui serangkaian workshop pada Maret, April dan Mei 2026, lima produk unggulan berhasil didokumentasikan.
Kelima produk tersebut meliputi Parboiled Rice LGI, Integrated Farming berupa susu sehat dan rumput Gama Umami, Gulanas atau gula LGI, empon-empon, serta budidaya ikan Nila Saline (Oreochromis niloticus).
FPIK UNDIP kemudian menggelar workshop business plan pada awal Juli 2026. Program tersebut dilanjutkan dengan penyusunan work plan pada 19 September 2026 yang berfokus pada pengembangan dan operasionalisasi lima produk rintisan tersebut.
Pengembangan inovasi ini juga mendapat perhatian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Prof. Y Sardjono dari BRIN menjajaki peluang kerja sama hilirisasi produk melalui pengembangan pilot plant obat herbal berbasis kulit jeruk japan. Pembahasan kerja sama tersebut dilakukan pada 2 Oktober 2026 di Yogyakarta.
Untuk memperkuat pengelolaan berbagai proyek pengembangan usaha, FPIK UNDIP dan SPPQT kemudian sepakat memperkuat kelembagaan melalui pendirian PT Agro Tekno Lestari sebagai holding company pada 3 Oktober 2026.
Dorong Ekonomi Petani Berbasis Riset
Ketua Tim Pengabdian FPIK UNDIP sekaligus Partner Pembinaan Rumah Produksi Qaryah Thayyibah, Prof. Dr. Ir. Nur Taufiq-Spj, M.App.Sc., mengatakan program tersebut diarahkan agar inovasi berbasis riset dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
“Program pengabdian FPIK UNDIP berkomitmen mendukung lahirnya inovasi pangan berbasis riset yang berdampak langsung pada masyarakat. Melalui pendampingan di Rumah Produksi Qaryah Thayyibah, kami mendorong penerapan teknologi beras parboiled dengan Low Glycemic Index (LGI) agar mampu menghasilkan beras sehat bernutrisi tinggi, sekaligus meningkatkan taraf ekonomi para petani binaan secara berkelanjutan,” ujar Prof Taufiq.
Ia menambahkan dukungan Rektor UNDIP, Prof. Suharnomo, menjadi salah satu dorongan untuk melanjutkan pembinaan di Qaryah Thayyibah.
FPIK UNDIP, lanjutnya, berkomitmen memastikan proses produksi beras parboiled LGI tetap memperhatikan kualitas, efisiensi biaya dan nilai tambah bagi petani maupun masyarakat.
Menurut Prof Taufiq, pendampingan tersebut ke depan diharapkan tidak hanya berorientasi pada pengembangan produk, tetapi juga mampu memperbaiki kondisi ekonomi petani dan nelayan sebagai penerima manfaat.
Program tersebut juga diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja yang layak serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan.
Kolaborasi FPIK UNDIP dan SPPQT tersebut sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui konsep green and blue farming, pengembangan produk pangan diharapkan tidak hanya menghasilkan produk bernilai tambah, tetapi juga mendorong sistem produksi yang lebih bertanggung jawab sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani.
(*)
















Komentar