BREBES, JURANEWS.ID – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP). Arya Fatikh Izzan Juweri, mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran (FK) UNDIP, berhasil meraih Juara 1 Putra Duta GenRe Indonesia 2026.
Prestasi tersebut diraih dalam Puncak Ajang Kreativitas GenRe Nasional (ADUJAKNAS) 2026 yang digelar di Kantor Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Arya meraih posisi tersebut melalui gagasan dan aksi dalam program SENANDUNG ASA (Seruan Remaja untuk Masa Depan Terencana).
Program tersebut mengangkat sejumlah persoalan yang berkaitan dengan remaja, mulai dari inklusivitas, Meaningful Youth Participation (MYP), hingga upaya percepatan penanganan stunting.
Melalui SENANDUNG ASA, Arya berupaya mengembangkan berbagai program yang berangkat dari persoalan kesetaraan akses.
Menurut Arya, berbagai isu yang diangkat dalam program tersebut memiliki satu benang merah, yakni bagaimana setiap remaja dapat memperoleh kesempatan dan akses yang setara.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah prototipe pelatihan motorik bagi remaja dengan disabilitas.
Media latihan tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari, seperti makan, menulis hingga menyikat gigi.
Program tersebut tidak hanya mengandalkan alat bantu, tetapi juga dilengkapi pendampingan agar proses latihan dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan.
“Bagi saya, keberhasilan bukan hanya ketika alat itu digunakan, tetapi ketika seorang anak yang sebelumnya membutuhkan bantuan mulai berkata, ‘Aku bisa sendiri,’” ujar Arya kepada FK UNDIP, Kamis (24/9/2026).
Pengalaman Arya terjun langsung ke masyarakat turut menjadi salah satu dasar dalam pengembangan program tersebut.
Kumpulkan 1.300 Aspirasi Remaja
Selain isu inklusivitas, SENANDUNG ASA juga membawa konsep Meaningful Youth Participation (MYP) atau partisipasi bermakna anak muda dalam proses kebijakan.
Bersama tim, Arya menyusun policy brief yang bersumber dari aspirasi para remaja.
Sejumlah persoalan yang diangkat antara lain penguatan Youth Center, revitalisasi PIK Remaja, kesehatan dan kesejahteraan remaja, pencegahan perkawinan anak, penguatan peran ayah, stunting serta penguatan ruang partisipasi anak muda dalam kebijakan publik.
Dalam proses tersebut, tim Arya mengklaim telah menghimpun sekitar 1.300 aspirasi remaja.
Aspirasi tersebut kemudian didorong menjadi rekomendasi yang dapat disampaikan kepada pemerintah daerah, DPRD hingga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Upaya tersebut menjadi bagian dari gagasan Arya untuk memastikan suara anak muda tidak hanya didengar, tetapi juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.
Inovasi lainnya yang menjadi bagian dari SENANDUNG ASA adalah Dimsum Kelor Lele.
Produk tersebut dikembangkan sebagai salah satu alternatif Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memanfaatkan bahan pangan yang dinilai dekat dengan masyarakat, yakni kelor dan ikan lele.
Kedua bahan tersebut kemudian diolah menjadi dimsum sehingga pangan bergizi dapat disajikan dalam bentuk yang lebih praktis dan menarik.
Arya menilai pendekatan tersebut penting karena upaya pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga bagaimana makanan bergizi dapat diterima dan disukai masyarakat.
“Pencegahan stunting tidak cukup hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana pangan bergizi bisa diterima dan disukai masyarakat,” ungkapnya.
Arya berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan lebih luas dan direplikasi di berbagai daerah, termasuk melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi FK UNDIP, Arya menyebut proses pendidikan yang dijalaninya turut membentuk cara berpikir dalam mengembangkan berbagai program sosial.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dinilai paling relevan adalah BBDM (Belajar Bertolak dari Masalah).
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dilatih untuk mengidentifikasi persoalan, menganalisis penyebab, berdiskusi, mempresentasikan hasil pemikiran hingga merumuskan solusi.
“Cara berpikir itu sangat membantu saya ketika merancang program SENANDUNG ASA, melihat masalah terlebih dahulu, mendengar masyarakat, lalu menciptakan solusi yang bisa diterapkan,” jelas Arya.
Setelah meraih Juara 1 Putra Duta GenRe Indonesia 2026, Arya tidak ingin pencapaian tersebut berhenti sebagai sebuah penghargaan.
Ia ingin momentum tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas berbagai inovasi yang telah dikembangkan melalui SENANDUNG ASA.
Arya berharap rekomendasi kebijakan berbasis suara anak muda dapat menjangkau pemerintah pusat. Ia juga ingin inovasi Dimsum Kelor Lele dapat direplikasi di berbagai daerah.
Selain itu, alat bantu untuk mendukung kemandirian remaja dengan disabilitas diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak remaja memperoleh kesempatan untuk mandiri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Saya ingin SENANDUNG ASA tidak berhenti di Jawa Tengah. Saya ingin kebermanfaatan itu tumbuh dari satu provinsi, lalu menjangkau Indonesia,” ujarnya.
Bagi Arya, capaian sebagai Juara 1 Putra Duta GenRe Indonesia 2026 sekaligus menjadi pengingat untuk terus belajar dan mengambil peran di tengah masyarakat.
Ia juga mendorong mahasiswa FK UNDIP agar tidak menunggu sebuah gagasan menjadi sempurna untuk mulai bergerak.
Menurutnya, gagasan yang lahir dari persoalan nyata di masyarakat dapat dikembangkan secara bertahap selama ada kemauan untuk mendengar, belajar dan menciptakan solusi yang bisa diterapkan.
(*)










Komentar